Makna Haul Masyayikh Pondok Pesantren Nurul Qarnain: dari Doa hingga Mengharap Keberkahan

Besok pagi, tepatnya hari Sabtu (30/11/2024) Haul Majemuk Masyayikh Pondok Pesantren Nurul Qarnain akan dilaksanakan. Sebuah momen yang sangat dinantikan oleh seluruh santri, alumni, hingga para asatiz. Pada kesempatan ini, mereka berkumpul dengan satu tujuan mulia, yaitu untuk mendoakan dan mengenang jasa para guru yang telah berpulang ke rahmatullah.

Haul ini bukan hanya sekadar reuni dan mengenang kenangan masa lalu, namun juga menjadi waktu yang penuh dengan keberkahan dan kesempatan untuk meneguhkan rasa cinta, serta penghormatan kepada para masyayikh yang telah mengabdikan hidup mereka kepada umat lewat Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Melalui doa bersama, kita mengenang kebaikan dan jasa mereka.

Dalam momen haul ini terkandung banyak sekali keutamaan, sebagaimana yang dijelaskan oleh banyak ulama. Salah satu yang paling penting adalah mendoakan para pendahulu. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menyatakan bahwa doa untuk orang yang telah meninggal dunia memiliki kedudukan yang sangat mulia dan dapat memberikan manfaat serta pahala, bahkan setara dengan pahala sedekah.

الدعاء للميت ينفعه ويصل إليه ثوابه، كما يصل إليه ثواب الصدقة

“Doa untuk orang yang meninggal dunia memberikan manfaat dan pahala sampai kepadanya, seperti halnya pahala sedekah.” (al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Juz I, halaman 239).

Imam al-Ghazali menegaskan bahwa doa memiliki kedudukan tinggi sebagai amal saleh, dan lebih utama lagi jika doa tersebut ditujukan kepada ulama atau guru kita. Doa untuk mereka mengagungkan setiap amal mereka dan mendapatkan pahala setara dengan apa yang telah mereka amalkan.

من عظم عالماً فقد عظم أمر الله، ومن دعا لعلمائه كان له من الفضل مثل أجرهم

“Barang siapa memuliakan seorang ulama, maka ia telah memuliakan urusan Allah. Dan barang siapa mendoakan para ulama, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka.” (al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Juz I, halaman 70).

Tidak hanya itu, pelaksanaan doa secara berjamaah dalam suatu acara juga memiliki keutamaan besar. Imam an-Nawawi dalam kitab Raudhatu at-Thalibin menjelaskan bahwa doa dalam acara peringatan wafat atau haul adalah amalan yang mengumpulkan orang-orang dalam kebaikan dan mendatangkan rahmat.

وحضور الدعاء في المناسبات كذكرى الوفاة من الأعمال التي تجمع الناس على الخير، وتحقق الرحمة

“Menghadiri doa dalam acara seperti peringatan wafat adalah amalan yang mengumpulkan manusia dalam kebaikan dan mendatangkan rahmat.” (Imam an-Nawawi, Raudhatu at-Thalibin, Juz II, halaman 126).

Begitu pula Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni menyebutkan bahwa dianjurkan untuk berkumpul guna mendoakan orang yang meninggal dunia, karena hal ini mendatangkan keberkahan.

ويستحب اجتماع الناس للدعاء للميت وذكر فضائله لما فيه من الخير والبركة

“Dianjurkan untuk berkumpul guna mendoakan orang yang meninggal dan menyebut kebaikannya, karena hal ini mendatangkan kebaikan dan keberkahan.” (Ibn Qudamah, al-Mughni, Juz III, halaman 482).

Dari beberapa redaksi di atas, sudah jelas bahwa Haul Masyayikh memiliki banyak keutamaan yang akan mendatangkan rahmat dan keberkahan bagi seluruh yang hadir. Doa kita sebagai santri atau murid kepada guru adalah sebuah kewajiban yang merupakan hak mereka, sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi:

الدعاء للمعلمين واجب من باب الوفاء بالجميل وحفظ الفضل

“Mendoakan guru adalah kewajiban sebagai bentuk kesetiaan atas jasa mereka dan pengakuan atas keutamaan mereka.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkar, halaman 21).

Imam az-Zarnuji pun menjelaskan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim bahwa hak seorang guru adalah dihormati dan dihargai oleh muridnya. Salah satu bentuk penghormatan terbaik adalah dengan mendoakannya, baik saat hidup maupun setelah wafat.

حق المعلم أن يحترمه الطالب ويظهر له التقدير، ومن أفضل صور الاحترام الدعاء له في حياته وبعد موته

“Hak seorang guru adalah dihormati oleh muridnya dan menunjukkan penghargaan kepadanya. Salah satu bentuk penghormatan terbaik adalah mendoakannya, baik saat hidup maupun setelah wafat.” (az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, halaman 21).

Dengan doa, kita sebagai santri menunjukkan rasa syukur dan cinta kepada para guru yang telah memberikan ilmu dan petunjuk hidup. Doa ini merupakan penghormatan yang sederhana namun sarat makna, sebagai balasan atas jasa besar mereka dalam mendidik dan membimbing kita.

Seiring berjalannya waktu, doa kita menjaga keberkahan ilmu yang telah diwariskan oleh para guru dan menjaga hubungan kita dengan mereka, bahkan setelah mereka meninggalkan alam dunia ini. (*)

————————————-

Penulis: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *