Acara dibuka dengan lantunan maulid yang penuh kekhusyukan, kemudian dilanjutkan mauizah hasanah oleh KH. Yazid Karimullah. Beliau menekankan bahwa hadir dalam majelis Maulid harus dilandasi dua niat: menampakkan penghambaan kepada Allah dan menampakkan cinta kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW.

“Selain dua niat ini, buang jauh niat yang lain. Cinta kepada Rasul tidak boleh setengah-setengah. Sebab, ada nilai lebih yang beliau miliki dibanding nabi lainnya, yaitu syafaat yang kita harapkan kelak,” pesan pengasuh.
Beliau mengingatkan bahwa memperingati kelahiran nabi adalah salah satu pendekatan diri yang agung kepada Allah. Di dalamnya ada amal mulia: memberi makan, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menyebarkan kegembiraan.
Kiai Yazid mengutip sabda nabi dalam Al-Barzanji: “Siapa yang menghidupkan Maulid dengan mendermakan hartanya, maka ia tidak akan merasakan kefakiran dan kelak akan mendapat syafaat Rasulullah. Bahkan, satu dirham (sekitar Rp 4.999) akan mendapatkan pahala seperti menafkahkan emas sebesar gunung.”

Pengasuh juga mengisahkan teladan yang sudah ada sejak masa Rasulullah. Nabi sendiri berpuasa setiap hari Senin sebagai bentuk syukur atas kelahirannya, sementara para sahabat mengantarkan makanan terbaik untuk berbuka.
“Mereka memberikan makanan terbaik bukan karena terdapat unsur duniawi, tetapi karena menghormati nabi selaku penerima,” tutur beliau.
“Siapa yang benar-benar mencintai nabi, insya Allah tidak hanya mendapat keberkahan hidup, tetapi juga syafaat di hari akhir. Maka, jangan tanggung-tanggung dalam mencintai beliau,” tandas Kiai Yazid.

Puncak acara berlangsung khidmat dengan Mahallul Qiyam yang dipimpin KH. Fawaid Yazid dengan diiringi lantunan hadrah Majelis Shalawat Al-Wishol. Hadirin larut dalam gelombang shalawat yang menggema di seantero pesantren, kemudian ditutup doa oleh KH. Badrut Tamam. (*)
—————————————
Pewarta: Achmad Sulthon Arafat & Wildan Ms.
Editor: Fathorrozi


