Acara tersebut dihadiri para kiai kharismatik, salah satunya KH. Agus Fahmi Amrullah Hadziq, Majelis Keluarga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, yang memberikan tausiah hangat.
Dalam kalimat pembuka, beliau mengibaratkan kehadirannya sebagai tambahan setelah nasihat utama yang disampaikan oleh KHR. Achmad Azaim Ibrahimy.
“Ibarat sudah makan, saya ini hanya tambahan sedikit. Nambahnya pun secukupnya, tidak mungkin lebih, apalagi banyak,” tutur KH. Agus Fahmi yang disambut senyum jamaah.
Beliau menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum penting untuk memperbaiki diri dan meneladani akhlak Rasulullah.

“Maulid ini ibarat momentum yang sangat berharga agar kita setiap tahunnya menjadi lebih baik, mengembangkan kepribadian yang baik, dan menjadi seorang uswatun hasanah,” ujar beliau.
Dalam kesempatan itu, KH. Agus Fahmi juga mengajak jamaah untuk mensyukuri berbagai anugerah Allah yang luar biasa. Setidaknya, ada tiga nikmat besar yang beliau tekankan: menjadi umat Nabi Muhammad SAW, hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta berada dalam naungan Nahdlatul Ulama yang turut mendirikan negeri ini.
“Ada tiga anugerah yang Allah turunkan kepada kita yang harus patut kita syukuri, yakni hidup menjadi umat Nabi Muhammad SAW, menjadi masyarakat NKRI, dan berada dalam naungan Nahdlatul Ulama,” jelas beliau.

Beliau menambahkan, kemerdekaan yang dirasakan hari ini adalah amanah besar yang harus dijaga bersama, meski perbedaan kerap mewarnai kehidupan bangsa.
“Boleh berbeda, yang penting tidak menimbulkan perpecahan antar umat, agama, ras, suku, bahkan budaya. Perbedaan itu rahmat, selama tidak memecah belah persatuan kita,” pungkas beliau.
Peringatan Maulid Nabi di Nurul Qarnain kali ini bukan hanya menghadirkan lantunan shalawat dan untaian doa, tetapi juga menjadi pengingat akan tanggung jawab umat untuk terus meneladani Rasulullah, menjaga persatuan, dan memperkuat rasa syukur atas nikmat besar yang telah Allah anugerahkan. (*)
———————————-
Pewarta: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


