Tak hanya itu, kegiatan semalam juga dihadiri oleh ulama terkemuka internasional, cicit wali agung Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yakni Syaikh Prof. Dr. Muhammad Fadhil al-Jilani al-Hasani, juga cucu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, KH. Agus Fahmi Amrullah Hadziq, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, serta Gubernur Jawa Timur, Dr. Hj. Khofifah Indar Parawansa.
Banyaknya tokoh berpengaruh yang hadir pada acara tersebut memantik bahagia tak terkira yang dirasakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Dalam sambutannya, KH. Yazid Karimullah mengajak hadirin untuk bersyukur kepada Allah atas karunia rahmat yang telah mempertemukan dalam majelis agung untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad sekaligus doa bersama untuk negeri.
“Kami panjatkan syukur kepada Allah, yang mana pada malam hari ini kita dapat silaturahmi dalam rangka memperingati lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW, juga untuk doa bersama agar negeri kita oleh Allah diselamatkan, sehingga menjadi negeri baldatun thayyibatun warabbun ghafur,” buka beliau.

Melalui momen Maulid Nabi, Kiai Yazid mengajak hadirin untuk kembali kepada ajaran yang sebenarnya, sebab belakangan ini fitnatud dun-ya telah menimpa negara Indonesia.
“Terus terang saya mengatakan bahwa fitnatud dun-ya menimpa kepada negeri kita, sehingga terjadilah sesuatu yang tidak diharapkan, bahkan kalau perlu diharamkan. Kenapa? Karena ada sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh agama kita, yakni pengrusakan-pengrusakan,” imbuh beliau.
Pada kesempatan tersebut, Kiai Yazid menyitir firman Allah dalam al-Qur’an surah an-Nahl ayat 112.
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram yang rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan karena apa yang selalu mereka perbuat,” tambah beliau membacakan makna ayat.
“Ini yang saya khawatirkan. Maka dengan demikian, harapan saya, mari pertahankan baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Jangan merusak, karena innallaha la yuhibbul mufsidin,” sambung Kiai Yazid.
Beliau juga berharap hadirin ikut serta bersama-sama membangun tiga pilar demi terwujudnya negeri yang makmur dan tenteram.
“Kalau tiga pilar ini sudah dibangun, insya Allah negeri kita ini akan mapan. Tiga pilar yang dimaksud adalah al-amna wasshihah wal kifayah. Aman, sehat, dan berkecukupan,” tanda beliau. (*)
————————————
Juru Berita: Fathorrozi


