Dalam konteks ini, kisah Harun ar-Rasyid layak dihadirkan kembali, bukan sekadar sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai cermin untuk membaca masa kini. Ia adalah pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan tidak akan bertahan lama tanpa ditopang oleh kekuatan ilmu.
Menurut peneliti sekaligus penulis buku History of the Arabs, Philip K. Hitti, masa Harun ar-Rasyid menandai periode ketika Baghdad menjelma sebagai pusat intelektual dunia. Namun keberhasilan itu, sebagaimana ditegaskan lagi oleh Marshall G. S. Hodgson, bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari kebijakan yang secara sadar menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama negara. Kehadiran Baitul Hikmah menjadi bukti bahwa ilmu tidak hanya dihargai, tetapi diinstitusionalisasikan dan didukung secara sistemik.
Di titik ini, kita yang menjadi warga di negara mayoritas muslim yang katanya mengedepankan pendidikan perlu bertanya: apakah pendidikan hari ini masih ditempatkan sebagai pusat, atau justru bergeser menjadi pelengkap pembangunan?
Dalam analisis Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya, suatu peradaban akan kokoh ketika ilmu dan keadilan berjalan beriringan. Ketika keduanya hadir, maka lahirlah masyarakat yang tertib, aman, dan sejahtera.
Ungkapan klasik bahwa “serigala tidak akan memakan domba” pada masa Harun ar-Rasyid dapat dibaca sebagai metafora kuat bahwa pendidikan yang berhasil tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial yang menahan manusia dari saling merugikan.
Lebih jauh, para ulama telah lama menegaskan arah pendidikan yang seharusnya. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menyebut bahwa ilmu adalah jalan menjaga agama sekaligus membentuk akhlak. Artinya, pendidikan tidak cukup menghasilkan kecerdasan kognitif, tetapi juga harus melahirkan kedewasaan moral.
Hal yang sama ditegaskan oleh Ibn Sina yang memandang pendidikan sebagai proses menyempurnakan manusia secara utuh: akal, jiwa, dan perilakunya. Dalam konteks kepemimpinan, Al-Mawardi mengingatkan bahwa tugas utama penguasa adalah menjaga keseimbangan antara nilai dan kehidupan sosial, dan pendidikan adalah jembatan yang menghubungkan keduanya.
Maka, Hari Pendidikan Nasional hari ini seharusnya menjadi momentum untuk mengoreksi arah. Pendidikan tidak boleh berhenti pada angka, ijazah, dan formalitas administratif. Ia harus kembali pada tujuan dasarnya, yaitu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Kisah Harun ar-Rasyid mengajarkan bahwa ketika pendidikan benar-benar dijadikan pusat kebijakan, maka dampaknya tidak hanya terasa di ruang kelas, tetapi juga dalam wajah masyarakat secara keseluruhan.
Jika dahulu digambarkan bahwa rakyatnya sejahtera hingga kau tidak akan menjumpai serigala memakan domba, maka pertanyaan yang relevan hari ini adalah: sudahkah pendidikan kita mampu membangun manusia yang tidak lagi saling memangsa? Jika belum, maka Hari Pendidikan Nasional bukan hanya perayaan, tetapi panggilan untuk melakukan perubahan yang lebih mendasar. (*)
——————————-
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


