Ahli Tahajud Selama 20 Tahun, Namun Namanya Tak Tercatat sebagai Kekasih Allah

ARTIKEL | nurulqarnian.net – Di saat banyak orang terlelap menikmati malam, Abu bin Hasyim justru berdiri dalam sunyi. Air wudu yang dingin tak pernah menghalanginya untuk bersujud dan bermunajat kepada Allah SWT. Selama 20 tahun, ia menjaga tahajudnya tanpa pernah terputus.

Malam demi malam ia lalui dengan qiyamul lail. Baginya, tahajud bukan sekadar ibadah, tetapi juga jalan untuk mendekat kepada Allah.

Namun siapa sangka, di balik panjangnya sujud dan lamanya munajat itu, tersimpan sebuah kenyataan yang begitu mengguncang hatinya.

Dikisahkan dalam buku Keajaiban Tahajud, Subuh, dan Dhuha untuk Hidup Berkah, Bergelimang Harta, Sukses dan Bahagia karya Fery Taufiq El Jaquene, suatu malam Abu bin Hasyim keluar rumah untuk mengambil air wudu. Saat itulah ia melihat seseorang duduk di depan pekarangannya.

Dengan heran ia bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah engkau?”

Orang itu tersenyum lalu menjawab, “Aku adalah malaikat utusan Allah.”

Abu bin Hasyim terdiam. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah kitab besar yang dibawa malaikat tersebut. “Kitab apa yang engkau bawa?” tanyanya penasaran.

Malaikat itu menjawab, “Ini adalah daftar nama para kekasih Allah.”

Mendengar jawaban itu, hati Abu bin Hasyim dipenuhi keyakinan. Ia merasa namanya pasti tercatat di dalam kitab tersebut. Bukankah selama dua puluh tahun dirinya tidak pernah meninggalkan tahajud? Bukankah malam-malamnya selalu diisi dengan doa dan air mata?

Dengan penuh harap ia bertanya, “Apakah namaku ada di dalam kitab itu?”

Malaikat pun membuka kitab tersebut. Lembar demi lembar diperiksa dengan teliti. Abu bin Hasyim menunggu dengan dada berdebar. Namun setelah dicari dari awal hingga akhir, malaikat itu berkata pelan, “Namamu tidak ada di dalam kitab ini.”

Kalimat itu seakan menghantam langit hatinya. Abu bin Hasyim gemetar. Tubuhnya lemas hingga jatuh tersungkur di hadapan malaikat. Air matanya pecah. Tangisnya tak terbendung.

“Aku menghidupkan malam-malamku dengan tahajud dan munajat kepada Allah, tetapi namaku tidak termasuk golongan pecinta-Nya,” ucapnya lirih sambil menangis.

Malaikat kemudian berkata, “Wahai Abu Hasyim, aku tahu engkau bangun saat manusia lain tertidur. Aku tahu engkau berwudu dengan dinginnya malam ketika orang lain menikmati hangatnya tempat tidur. Tetapi Allah tidak memerintahkan namamu untuk ditulis dalam daftar ini.”

Dengan suara bergetar Abu bin Hasyim bertanya,“Apakah penyebabnya?”

Malaikat itu menjawab, “Engkau memang rajin beribadah, tetapi engkau bangga terhadap amalmu sendiri. Di sekitarmu ada tetangga yang sakit dan kelaparan, namun engkau tidak peduli kepada mereka. Bagaimana mungkin seseorang menjadi kekasih Allah jika ia tidak mencintai makhluk ciptaan-Nya?”

Ucapan itu membuat Abu bin Hasyim seakan disambar petir di tengah malam yang sunyi. Ia baru menyadari bahwa jalan menuju cinta Allah bukan hanya tentang panjangnya sujud dan banyaknya tahajud, tetapi juga tentang hati yang peduli, tangan yang mau membantu, dan kasih sayang kepada sesama manusia. (*)

———————————

Penulis: Wildan Miftahussurur, mengutip dari buku Keajaiban Tahajud, Subuh, dan Dhuha untuk Hidup Berkah, Bergelimang Harta, Sukses dan Bahagia (2019), karya Fery Taufiq El Jaquene.

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *