Kuliah Tamu INSYAKA, Bahas Masa Depan Pesantren di Era Disrupsi

JEMBER | nurulqarnain.net – Institut KH Yazid Karimullah (INSYAKA) kembali menghidupkan ruang intelektual kampus melalui kegiatan kuliah tamu bertema, “Menakar Masa Depan Pesantren: Integrasi Intelektualitas dan Keagungan Akhlak di Era Disrupsi” yang dilaksanakan di Auditorium KH Yazid Karimullah pada Kamis (15/05/2026). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa dan sivitas akademika INSYAKA.

Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. H. Fadil, S.J., M.Ag., yang membawakan materi seputar tantangan pesantren dalam menghadapi perkembangan zaman, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial di era disrupsi.

Acara berlangsung hangat dan penuh antusias. Sejak awal kegiatan, auditorium dipenuhi mahasiswa, dosen, dan jajaran civitas akademika yang mengikuti seminar dengan penuh perhatian. Diskusi dipandu oleh Doni Eka Saputra selaku moderator yang menjelaskan bahwa seminar tersebut berfokus pada tiga hal utama: pesantren, intelektualitas, dan tantangan era disrupsi.

Dalam sambutannya, Rektor INSYAKA, Dr. Bachrul Ulum, S.Sy., M.H.I., menegaskan pentingnya pesantren sebagai benteng moral dan ruang pembentukan karakter di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.

“Hidup di pesantren bukan salah satu pilihan, melainkan satu-satunya pilihan di era disrupsi. Di pesantren kita tidak hanya dididik secara intelektual, tetapi juga dibentuk akhlaknya,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Fadil menyampaikan materi dengan gaya santai dan komunikatif. Ia membuka pemaparannya dengan mengutip maqalah Ibnu Athaillah tentang pentingnya melihat posisi diri melalui tempat Allah menempatkan manusia.

Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

“Teknologi harus tetap ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. Pesantren harus mampu menjaga keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan kedalaman spiritual,” ungkapnya.

Ia juga mengutip pesan Buya Hamka, “Kita memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari,” sebagai motivasi bagi mahasiswa dan santri agar terus belajar, memperluas wawasan, dan membangun kualitas diri.

Di penghujung sesi, Prof. Fadil menegaskan bahwa santri masa kini harus mampu membaca realitas zaman secara kritis tanpa kehilangan identitas moral dan ruhani.

Menurutnya, pesantren harus terus berkembang menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)

—————————————–

Pewarta: Silfin Aisyah

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *