Menebar Cahaya Iduladha Melalui Takbir, Santri Asrama Putra Nurul Qarnain Beradu Kreativitas

JEMBER | nurulqarnain.net – Dalam rangka menyambut Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pengurus Asrama Putra Pondok Pesantren Nurul Qarnain menggelar Festival Takbir Akbar pada Rabu malam Kamis (27/05/2026) di halaman Masjid Dzul Qarnain. Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut mengusung tema “Menebar Cahaya Iduladha Melalui Lantunan Takbir dan Semangat Pengorbanan.”

Festival tahunan ini menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan oleh para santri. Selain sebagai sarana syiar Islam dan pengagungan kepada Allah SWT dalam memperingati Hari Raya Iduladha, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi santri untuk menyalurkan kreativitas, kekompakan, serta kemampuan seni yang tetap bernuansa islami.

Festival Takbir Akbar ini diikuti oleh delegasi dari lima asrama putra, yaitu Asrama Sunan Ampel (Blok A), Sunan Kalijogo (Blok B), Sunan Giri (Blok C), Sunan Bonang (Blok D), dan Sunan Drajat (Blok E). Masing-masing blok menampilkan konsep yang berbeda dengan ciri khas dan kreativitas tersendiri.

Sejak acara dimulai, suasana halaman Masjid Dzul Qarnain dipenuhi antusiasme para santri. Penonton yang hadir tampak memadati area sekitar panggung untuk menyaksikan penampilan para peserta yang telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Beragam kreasi takbir ditampilkan secara menarik, mulai dari aransemen nada yang variatif, koreografi yang rapi, hingga penampilan teatrikal yang sarat pesan keislaman dan nilai perjuangan.

Sebelum peserta dipanggil untuk tampil, pembawa acara terlebih dahulu membacakan ketentuan dan kriteria lomba. Setiap blok diwajibkan mengirimkan satu delegasi dengan jumlah maksimal 30 peserta dan durasi penampilan paling lama 15 menit. Peserta yang tampil tidak diperkenankan berasal dari unsur panitia, pengurus, maupun ketua kamar.

Selain itu, peserta diwajibkan menggunakan alat musik sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti gayung, ember, bambu, kayu, botol, sendok, dan alat-alat sejenis lainnya. Panitia juga menegaskan bahwa peserta tidak diperbolehkan menyewa alat musik dari luar. Penilaian lomba meliputi aspek kostum, ketepatan waktu, adab, irama musik, kekompakan, kesesuaian musik dan lagu, serta tajwid dan kefasihan dalam melafalkan takbir. Para peserta juga diperbolehkan menampilkan drama bertema Iduladha, perjuangan, maupun semangat thalabul ilmi.

Pada Festival Takbir Akbar tahun ini, dewan juri terdiri atas tiga ustaz yang memiliki bidang penilaian berbeda. Ustaz Fathorrozi bertugas menilai aspek kostum, waktu, dan adab. Sementara Ustaz Abdul Kholiq menilai irama musik, kekompakan, serta kesesuaian antara musik dan lagu. Adapun Ustaz Ali Murtadlo Al-Hafiz bertanggung jawab dalam penilaian tajwid dan fashahah peserta.

Satu per satu delegasi tampil di hadapan dewan juri dan seluruh penonton. Masing-masing kelompok berusaha memberikan penampilan terbaiknya dengan penuh semangat dan percaya diri. Kreativitas para peserta tampak dari berbagai unsur yang mereka tampilkan, mulai dari dekorasi alat tabuhan, tata panggung sederhana, hingga pemilihan kostum yang unik dan menarik.

Suasana semakin hidup ketika beberapa kelompok menampilkan drama pendek yang menggambarkan makna pengorbanan Nabi Ibrahim AS, perjuangan dalam menuntut ilmu, serta pentingnya menjaga persatuan sesama muslim. Penampilan tersebut berhasil mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton.

Di tengah kemeriahan acara, para suporter dari masing-masing asrama tetap menunjukkan sikap tertib dan sportif. Mereka memberikan dukungan kepada delegasinya dengan semangat tanpa mengganggu jalannya perlombaan maupun penampilan peserta lainnya.

Usai seluruh peserta menyelesaikan penampilannya, para juri memberikan evaluasi dan masukan yang membangun. Dalam komentarnya, Ustaz Ali Murtadlo Al-Hafiz menyoroti pentingnya menjaga ketepatan pelafalan lafaz takbir.

“Bukan Awlah atau Awwah ya, tapi yang benar Allah,” pesannya kepada peserta yang masih kurang tepat dalam melafalkan lafaz tersebut.

Sementara itu, Ustaz Fathorrozi memberikan apresiasi terhadap perkembangan kualitas kostum peserta asrama putra pada tahun ini. Menurutnya, kreativitas santri dalam menyiapkan kostum mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Namun, kali ini kostum kalian sudah sangat bagus, nyaris menyaingi kostum peserta asrama putri,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kreativitas peserta dalam menghias alat-alat tabuhan. Beberapa kelompok tampak menghias alat musik sederhana mereka dengan berbagai ornamen menarik, bahkan ada yang melengkapinya dengan lampu-lampu kecil berkelap-kelip sehingga menambah daya tarik visual saat tampil di atas panggung.

Tidak hanya itu, sejumlah peserta mengenakan kostum bernuansa Islami seperti jubah khas Timur Tengah dan surban. Di sisi lain, beberapa peserta juga menampilkan sentuhan budaya Nusantara dengan mahkota yang menyerupai tokoh legenda Joko Tole. Perpaduan tersebut menunjukkan semangat para santri dalam memadukan identitas keislaman dengan kecintaan terhadap budaya lokal.

Mewakili masukan dari Ustaz Abdul Kholiq, Ustaz Fathorrozi juga mengingatkan peserta agar lebih memperhatikan teknik saat membacakan puisi di atas panggung.

“Kalau naskah sampai menutup muka, maka penonton jadi terhalang melihat muka dan ekspresinya,” tandasnya.

Masukan tersebut disampaikan sebagai bahan evaluasi agar penampilan para peserta pada kesempatan berikutnya dapat semakin maksimal, baik dari sisi teknis maupun artistik.

Secara keseluruhan, Festival Takbir Akbar Iduladha 1447 H di Pondok Pesantren Nurul Qarnain berlangsung dengan sangat meriah, khidmat, dan penuh semangat kebersamaan. Kreativitas yang ditampilkan para santri menjadi bukti bahwa syiar Islam dapat dikemas secara menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai adab dan religiusitas.

Acara pun berakhir dengan suasana yang seru dan membahagiakan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, tertib, dan sesuai harapan bersama. Gemuruh takbir yang menggema sepanjang malam menjadi pengingat akan makna pengorbanan, keikhlasan, serta persaudaraan yang menjadi ruh peringatan Hari Raya Iduladha.

Dengan berakhirnya Festival Takbir Akbar tersebut, para santri diharapkan semakin termotivasi untuk meneladani nilai-nilai pengorbanan dan semangat beribadah dalam kehidupan sehari-hari. (*)

———————————–

Pewarta: Fatna Harista

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *