Haflatun Najah Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah Ingatkan Pentingnya Menuntaskan Pendidikan Diniyah

JEMBER | nurulqarnain.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, kembali menegaskan pentingnya pendidikan diniyah sebagai fondasi utama kehidupan pesantren. Pesan tersebut beliau sampaikan dalam tausiah pembukaan Haflatun Najah Perayaan Kelulusan Madrasah Diniyah Takmiliyah Putra dan Putri, Madrasah I’dadiyah, serta Madrasatul Qur’an yang digelar di Auditorium KH. Yazid Karimullah, Sabtu (30/05/2026).

Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh kepala lembaga, asatiz, wali santri, serta para santri lulusan tersebut diawali dengan kirab kelulusan. Usai kirab, KH. Yazid Karimullah menyampaikan tausiah yang sarat dengan pesan perjuangan, pendidikan, dan masa depan pesantren.

Meski kondisi kesehatan belum sepenuhnya pulih, beliau tetap hadir secara langsung di tengah para santri dan wali santri. Menurutnya, kehadiran tersebut merupakan bentuk kecintaan terhadap ilmu dan perjalanan panjang yang telah ditempuh pesantren selama puluhan tahun.

“Alhamdulillah, meskipun ada uzur, saya masih disempatkan hadir. Karena ini adalah bukti kecintaan saya kepada ilmu Allah dan perjuangan pesantren,” dawuh beliau.

Dalam arahannya, KH. Yazid Karimullah menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan pesantren adalah santri sukses di dunia dan akhirat. Beliau menyebut Madrasah Diniyah, Madrasah I’dadiyah, dan Madrasatul Qur’an sebagai tiga pilar utama yang menjaga pesantren.

“Pesantren sebenarnya dikatakan sukses apabila memiliki Madrasah Diniyah, Madrasah I’dadiyah, dan Madrasatul Qur’an. Jika tiga lembaga ini tidak ada, maka pesantren akan kehilangan ruhnya,” tegas beliau.

Beliau juga mengingatkan para wali santri agar tidak terburu-buru mengizinkan putra-putrinya keluar dari pesantren sebelum menyelesaikan pendidikan diniyah secara tuntas.

“Kalau santri keluar sebelum lulus, maka pesantren ini belum sukses. Saya sering menemukan ada wali santri yang mengira anaknya sudah selesai belajar, padahal belum lulus mondok baru tiga tahun. Akhirnya ilmu yang dicari tidak tuntas dan tidak jadi apa-apa,” ujar beliau.

Menurut beliau, pendidikan umum memang penting untuk menggapai kesuksesan dunia. Namun, ilmu agama tetap harus menjadi landasan utama agar kehidupan seseorang memiliki arah dan tujuan yang benar.

“Insinyur, doktor, profesor itu pangkat dunia. Tetapi kalau akhirnya tidak selamat di akhirat, lalu untuk apa? Karena hidup ini tidak hanya di dunia. Ada kematian, alam kubur, dan kehidupan akhirat yang jauh lebih panjang,” imbuh beliau.

Sekalipun demikian, KH. Yazid Karimullah menegaskan bahwa pesantren tidak boleh menutup diri terhadap perkembangan zaman. Beliau mengenang gurunya, KHR. As’ad Syamsul Arifin, yang pada tahun 1964 mulai mengembangkan lembaga formal sebagai sarana mempelajari ilmu-ilmu keduniaan.

“Saya ingat sekali guru saya, KHR. As’ad Syamsul Arifin di Sukorejo mendirikan lembaga yang mengajari ilmu keduniaan dan itu saya bawa ke Nurul Qarnain agar santri saya sukses dunia dan sukses akhirat,” tegas beliau.

Pada kesempatan tersebut, KH. Yazid Karimullah juga mengenang perjalanan awal berdirinya Pondok Pesantren Nurul Qarnain pada tahun 1968. Dari sebuah lahan sederhana, pesantren itu kini berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Beliau menegaskan bahwa perjuangan membangun pesantren dilakukan semata-mata untuk kemaslahatan umat dan pengembangan pendidikan, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Saya mendirikan pesantren ini bukan untuk mencari kekayaan. Saya tidak pernah sekalipun meminta sumbangan untuk kepentingan pribadi. Yang saya inginkan adalah bagaimana umat memiliki ilmu dan masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

KH. Yazid Karimullah juga mengisahkan bagaimana pada masa-masa awal merintis pesantren, dirinya rutin melaksanakan salat istikharah dan salat hajat setiap malam di area makam sebelah barat masjid guna memohon petunjuk Allah SWT. Dari ikhtiar dan doa tersebut, menurutnya, lahirlah berbagai lembaga pendidikan yang kini menjadi bagian penting dari perkembangan Nurul Qarnain.

“Saya selalu salat hajat setiap malam di makam barat di awal berdirinya pesantren. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, sekarang berdiri berbagai lembaga pendidikan. Bahkan sudah ada perguruan tinggi, dan insyaallah akan berkembang hingga program pascasarjana,” ungkap beliau.

Menutup tausiahnya, beliau kembali menekankan pentingnya ilmu agama sebagai bekal hidup yang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Oleh karena itu, para wali santri diminta terus memberikan dukungan agar putra-putrinya menyelesaikan pendidikan diniyah hingga tuntas.

“Sebelum anak-anak menguasai ilmu agama dan menyelesaikan pendidikan diniyahnya, jangan mudah diberi izin keluar dari pesantren. Karena ilmu agama inilah yang akan menjadi bekal mereka sepanjang hidup,” pungkas beliau. (*)

—————————————-

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *