Orasi Ilmiah KH. Badrut Tamam Warnai Haflatun Najah 3 Lembaga, Tekankan Akhlak Sebagai Ukuran Keberhasilan Pendidikan

JEMBER | nurulqarnain.net – Haflatun Najah Perayaan Kelulusan Madrasah Diniyah Takmiliyah Putra dan Putri, Madrasah I’dadiyah, serta Madrasatul Qur’an Pondok Pesantren Nurul Qarnain berlangsung khidmat di Auditorium KH. Yazid Karimullah, pada Sabtu (30/05/2026).

Kegiatan yang menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan para santri tersebut dihadiri oleh jajaran kepala lembaga, asatiz, wali santri, serta para wisudawan dan wisudawati yang telah menyelesaikan jenjang pendidikannya.

Acara diawali dengan kirab peserta lulusan, dilanjutkan tausiah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah. Momentum tersebut semakin bermakna dengan hadirnya orasi ilmiah yang disampaikan Ketua Dewan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Badrut Tamam, M.H.I.

Dalam orasinya, KH. Badrut Tamam menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik maupun kepemilikan ijazah semata. Menurutnya, esensi pendidikan sejati terletak pada perubahan karakter dan akhlak peserta didik.

“Sebelumnya saya telah dihubungi oleh Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Putra, Ustaz Mohamad Habibi, terkait pelaksanaan acara kali ini. Alhamdulillah, hari ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar beliau mengawali orasi.

Mengutip pemikiran filsuf besar Ibnu Miskawaih (wafat 1030 M) dalam kitab Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A’raq (Pendidikan Karakter dan Penyucian Jiwa), KH. Badrut Tamam menjelaskan lima indikator keberhasilan pendidikan yang perlu menjadi perhatian seluruh insan pendidikan.

Indikator pertama adalah perubahan akhlak menuju pribadi yang lebih baik. Menurut beliau, akhlak merupakan fondasi utama yang menentukan kualitas seseorang maupun sebuah bangsa.

“Mengapa akhlak menjadi ukuran utama? Karena bangsa yang besar sekalipun tidak akan dihargai apabila kehilangan etika dan akhlaknya,” tegas beliau.

Indikator kedua ialah terbentuknya pola pikir yang logis dan realistis sesuai bidang keilmuan masing-masing, namun tetap berpijak pada nilai-nilai agama. Ketiga, lahirnya kebiasaan melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, indikator keempat adalah hadirnya manfaat yang dapat dirasakan oleh diri sendiri maupun masyarakat luas. Beliau menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh harus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.

“Orang yang berilmu harus menjadi orang yang bermanfaat. Ilmu yang tidak menghadirkan manfaat berarti belum mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Adapun indikator kelima adalah lahirnya kemahiran dan kompetensi sesuai bidang keahlian masing-masing.

“Dokter harus menguasai ilmu kedokteran, ahli biologi harus menguasai bidangnya. Begitu pula santri harus menguasai ilmu agama. Jika seorang santri tidak memahami agamanya, lalu siapa yang akan menjelaskan agama kepada masyarakat?” tutur beliau.

Usai orasi ilmiah, Sekretaris Dewan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Ustaz Faidul Hamid, S.H., S.Ag., menyampaikan laporan kelulusan santri tahun 2026. Sebanyak 25 santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Putra, 48 santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Putri, 24 santri Madrasah I’dadiyah, dan 3 santri Madrasatul Qur’an dinyatakan lulus dan berhak mengikuti prosesi Haflatun Najah.

Pada kesempatan yang sama, panitia juga mengumumkan para wisudawan terbaik dari masing-masing lembaga. M. Zainul Hasan dinobatkan sebagai lulusan terbaik Madrasah Diniyah Takmiliyah Putra, Uyun Aulia sebagai lulusan terbaik Madrasah Diniyah Takmiliyah Putri, Illiyun Kania Ramadhan sebagai lulusan terbaik Madrasah I’dadiyah, serta Salsabila Intan Nur Layli sebagai lulusan terbaik Madrasatul Qur’an.

Penghargaan dan cinderamata kehormatan diserahkan langsung oleh KH. Badrut Tamam dan LH. Achmad Nakhlid Syafi’i, S.E., M.H., didampingi para kepala lembaga sebagai bentuk apresiasi atas prestasi dan dedikasi para santri selama menempuh pendidikan.

Rangkaian Haflatun Najah kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh LH. Achmad Nakhlid Syafi’i. Acara lalu dilanjutkan dengan sesi foto bersama yang mempertemukan para lulusan, guru, dan wali santri dalam suasana penuh syukur dan kebahagiaan.

Momentum perayaan kelulusan ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya proses belajar di satu jenjang pendidikan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ilmu yang diperoleh harus diwujudkan dalam akhlak mulia, manfaat bagi sesama, dan pengabdian kepada masyarakat. (*)

———————————————

Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *