Mengapa Anakku Tidak Betah di Pesantren?

OPINI_nurulqarnain.net – Awal masa mondok seringkali menjadi masa yang penuh gejolak, tidak hanya bagi anak yang baru menjadi santri, tetapi juga bagi orang tua yang baru pertama kali mempercayakan anaknya kepada pihak pesantren. Tak jarang muncul tanya dalam hati: mengapa anakku tidak betah di pesantren?

Santri baru adalah mereka yang masih meraba-raba ritme hidup barunya. Pagi, siang, dan malam, semua diatur oleh jadwal. Tidak ada lagi waktu luang sesuka hati, tidak ada lagi panggilan manja dari ibu, atau pelukan hangat ayah di waktu malam. Yang ada adalah suara bel, jadwal ngaji, antrian kamar mandi, dan lain sebagainya. Bagi sebagian anak, ini adalah perubahan besar yang mengagetkan.

Orang tua di rumah pun ikut merasakan perubahan. Hati mulai resah, pikiran melayang-layang, dan rindu tak bisa dibendung. Tak sedikit wali santri yang mulai sering menghubungi pengurus pondok hanya untuk sekadar mendengar suara anaknya, bahkan memaksa agar bisa video call. Padahal, perhatian yang terlalu berlebihan justru bisa menghambat proses adaptasi sang anak. Santri baru butuh ruang untuk belajar berdiri sendiri, bukan terus digandeng tanpa henti.

Lebih dari itu, orang tua hendaknya menahan diri dari membicarakan persoalan rumah tangga kepada anak yang sedang mondok. Jangan kirim kabar yang membuat anak risau, jangan bebani pikirannya dengan masalah rumah. Anak sedang belajar mengenal dirinya sendiri, sedang berjuang menumbuhkan keyakinannya bahwa hidup jauh dari rumah bukan berarti kehilangan kasih sayang. Justru inilah bentuk kasih sayang yang lebih tinggi: melepaskan demi tumbuh.

Ketika ada kabar anak sakit atau kehilangan barang, orang tua sebaiknya tidak langsung panik. Kejadian seperti ini adalah bagian dari dinamika pondok. Komunikasi yang baik dengan pengurus, pikiran yang jernih, dan doa yang terus mengalir akan jauh lebih membantu daripada kepanikan yang hanya memperburuk suasana. Pondok bukan tempat tanpa masalah, tapi tempat belajar menyelesaikan masalah dengan sabar dan dewasa.

Niat memondokkan anak bukanlah keputusan ringan. Maka, jangan pula dijalani dengan separuh hati. Seorang kiai pernah berpesan, “Jika sudah niat memondokkan anak, maka taatilah aturannya dan percayakanlah kepada guru. Karena keberkahan ilmu itu lahir dari keikhlasan dan kepercayaan.”

Imam Ibnu al-Jauzi pernah menulis, “Orang tua yang bijak adalah yang mendidik anaknya untuk kuat menghadapi kerasnya hidup, bukan membentuknya menjadi lemah dalam buaian kasih sayang yang berlebihan.”

Kalimat ini seperti tamparan halus bagi kita semua, bahwa cinta sejati tak selalu berbentuk pelukan. Kadang ia hadir dalam bentuk tangis di malam pertama anak tidur tanpa ibu, dan dalam rindu yang dibungkam demi masa depan.

Pondok memang tak selalu ramah di awal, tapi justru dari situlah lembutnya jiwa ditempa. Anak yang awalnya merasa asing, pelan-pelan akan mengenal kawan seperjuangan. Yang semula ingin pulang, perlahan akan rindu ketika jauh dari pondok. Semua butuh waktu. Semua butuh percaya.

Maka, biarkan mereka belajar tumbuh. Jangan terlalu cepat menarik tangan yang sedang mencoba berdiri. Doakan dari jauh, sabarlah menunggu. Karena boleh jadi, dari kamar-kamar sederhana itu, kelak akan lahir cahaya-cahaya penerang zaman. Dan kita adalah bagian dari awal perjalanan mereka.

Semoga setiap tangis rindu menuai keberkahan dan mengubah hidup masa depan menjadi lebih baik. Semoga lelah para santri menjadi wasilah kemuliaan hidup mereka. Dan semoga kita, para orang tua, diberi kekuatan untuk ikhlas, serta keyakinan bahwa titipan ini sedang Allah jaga dengan cara-Nya yang paling indah. (*)

————————————-

Penulis: M. Akmal Marzuqin

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *