Pesan Pengasuh Nurul Qarnain dalam Menjabarkan Tupoksi dan Program Kerja Pengurus

JEMBER_nurulqarnain.net – Pondok Pesantren Nurul Qarnain kembali menegaskan komitmennya dalam membangun kepengurusan yang berkarakter, berintegritas, dan visioner. Dalam forum pengarahan kepada para pengurus pesantren dan daerah, KH. Yazid Karimullah menyampaikan sejumlah poin penting sebagai fondasi kerja organisasi dan ruh kepemimpinan santri pada Selasa malam Rabu (22/7/2025).

Dalam suasana khidmat yang dihadiri para pengurus dari berbagai lini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain memberikan arahan strategis mengenai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) serta program kerja yang harus dijalankan secara sistematis dan penuh amanah. Tidak hanya menyampaikan struktur kerja secara teknis, pengasuh juga menekankan pentingnya integritas spiritual dan moral dalam mengemban amanah kepengurusan.

“Pengurus adalah wajah pesantren,” tegas beliau.

Karena itu, setiap pengurus harus memahami betul posisinya, menjalankan peran secara sadar dan tidak asal menjalankan program hanya demi menggugurkan kewajiban. Kepengurusan, dalam pandangan beliau, bukan hanya tugas administratif, melainkan ri’ayah diniyah wa akhlaqiyah (penjagaan terhadap nilai-nilai agama dan akhlak dalam bingkai pengabdian).

6 Modal Kepemimpinan ala Pesantren

Lebih lanjut, Pengasuh menyampaikan enam modal penting yang wajib dimiliki oleh setiap pengurus agar dapat menjadi pemimpin yang patut diteladani. Keenam modal tersebut mencerminkan karakter ideal santri sekaligus nilai-nilai kepemimpinan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan warisan ulama.

Selaras Antara Ucapan dan Perbuatan

Pengasuh menekankan bahwa pengurus harus memiliki kesesuaian antara maqāl (ucapan) dan af‘āl (perbuatan). Seorang pemimpin yang berkata tetapi tidak melakukannya akan kehilangan kepercayaan dan kewibawaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ash-Shaff ayat 2-3:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Istikamah adalah Karamah Tertinggi

Menurut pengasuh, istikamah dalam menjalankan tanggung jawab adalah bentuk tertinggi dari kemuliaan atau karamah. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristikamahlah!”

Dalam artian, konsistensi lebih utama daripada sensasi spiritual. Pengurus yang istikamah akan menjadi tiang kuat bagi keberlangsungan program dan kedisiplinan organisasi.

Menjaga Akhlak sebagai Uswatun Hasanah

Sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, maka pengurus sebagai representasi nilai-nilai Islam wajib menjaga adab dan sopan santun. Hadis riwayat Ahmad menyatakan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Sebuah maqalah ulama juga menyebutkan:

الدِّينُ الْمُعَامَلَةُ، وَالْأَخْلَاقُ عِمَادُ الْقِيَادَةِ

“Agama adalah interaksi, dan akhlak adalah tiang dari kepemimpinan.”

Ikhlas dalam Segala Tindakan

Ikhlas merupakan ruh dari setiap amal. Pengurus yang bekerja karena Allah, bukan karena ingin dipuji, akan menemukan ketenangan dan kekuatan dalam pengabdian. Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5:t

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama…”

Ibadah dengan Tajrīd dan Tawakal yang Aktif

Modal kelima adalah memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah. Tajrīd bermakna mengikhlaskan diri dalam ibadah, sedangkan tawakal yang aktif berarti menyerahkan hasil kepada Allah dengan tetap melakukan ikhtiar maksimal.

Sebuah kalam hikmah ulama mengajarkan:

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا

“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari.”

Pengurus harus menjadi pribadi yang ‘ābid (ahli ibadah), sekaligus ‘āmil (ahli amal).

Sadar Diri dan Tahu Tupoksi

Terakhir, pengurus harus tahu diri—memahami posisinya, tugasnya, serta tidak mencampuri wilayah orang lain. Dengan menempatkan diri secara tepat, organisasi akan berjalan harmonis.

Pengasuh menyitir sebuah maqalah:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“Barang siapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Menuju Program Kerja yang Relevan dan Terukur

Setelah menjabarkan enam modal kepemimpinan, pengasuh juga mendorong pengurus untuk menyusun program kerja yang:

Relevan dengan kebutuhan santri dan masyarakat pesantren,

Terukur dalam pelaksanaan dan evaluasi,

Berkelanjutan agar tidak terputus hanya karena pergantian struktur.

Pengasuh mengingatkan bahwa program kerja bukanlah rutinitas birokrasi, tetapi bentuk aktualisasi visi pesantren. Evaluasi berkala, komunikasi lintas divisi, dan budaya kerja kolektif menjadi kunci keberhasilan.

Sebagai penutup, pengasuh menyampaikan bahwa menjadi pengurus bukanlah kehormatan yang harus dibanggakan, melainkan tanggung jawab besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Hanya dengan niat yang benar dan usaha yang ikhlas, tugas ini akan berbuah pahala.

Sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis Bukhari dan Muslim:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

Dengan menghayati nilai-nilai tersebut, Pengurus Pondok Pesantren Nurul Qarnain diharapkan mampu menjadi pemimpin yang visioner, amanah, dan menjadi teladan sejati bagi seluruh santri dan masyarakat. (*)

———————————-

Juru Berita: Zaenol Hasan

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *