Kehadiran KH. Yazid Karimullah tercatat khusus pada agenda puncak napak tilas di Jombang. Kehadiran tersebut dimaknai sebagai bentuk takzim dan penyambungan ruhani kepada para muassis NU, sekaligus menegaskan bahwa napak tilas bukan semata soal perjalanan fisik, melainkan tentang menjaga sanad perjuangan dan restu ulama.

Di Pesantren Tebuireng, KH. Yazid Karimullah berjumpa dan bersilaturahmi dengan Ketua Tanfidziyah PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, serta sejumlah ulama dan zuriyah muassis NU yang turut hadir pada puncak peringatan tersebut. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, tenang, dan sarat makna kebersamaan ulama dalam menjaga arah jam’iyah.
Puncak napak tilas ini merupakan penutup dari rangkaian panjang penelusuran sejarah isyarat pendirian NU, yang menapak dari Bangkalan tempat Syaikhana Muhammad Kholil bin Abdul Lathif hingga berakhir di Tebuireng Jombang. Rangkaian tersebut merekam kembali peristiwa penting ketika KHR. As’ad Syamsul Arifin membawa isyarat berupa tongkat dan tasbih dari Syaikhana Kholil Bangkalan kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai tanda restu berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Dalam prosesi puncak di Jombang, tongkat dan tasbih dikirab menuju Pondok Pesantren Tebuireng bersama ribuan warga Nahdliyin, diiringi lantunan zikir, selawat dan doa. Di titik inilah, kehadiran para kiai pengasuh pesantren, termasuk KH. Yazid Karimullah, menjadi simbol kesinambungan ruhani NU lintas generasi.
Kehadiran KH. Yazid Karimullah pada puncak napak tilas tersebut memberi pesan yang tenang namun tegas khususnya kepada santri beliau bahwa NU berdiri dan bertahan bukan hanya karena struktur, tetapi karena restu guru, dan adab kepada ulama. Sebuah pelajaran sunyi dari Tebuireng, bahwa napak tilas sejati adalah menjaga arah, bukan sekadar menapak jarak. (*)
———————————-
Juru Berita: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


