Pada acara tersebut, Ning Zulfa Yazid hadir menyampaikan tausiah kepada seluruh santri puti. Mengawali tausiah, beliau membuka pesan dengan penekanan pada adab sebagai identitas utama santri.
“Nak, pulanglah dengan adab yang tetap terjaga. Ramadhan bukan libur dari kebaikan, tapi waktu memperbanyak khidmah. Jaga salatmu, akhlakmu, dan nama baik pesantren di mana pun kamu berada,” nasihat beliau.

Kalimat itu seolah menjadi garis tebal yang mengikat seluruh rangkaian pendidikan di pesantren selama setahun ini. Ning Zulfa menegaskan bahwa libur Ramadhan ini bukan akhir dari pembinaan, melainkan awal dari pembuktian. Di rumah dan lingkungan masing-masing, karakter santri akan diuji tanpa pengawasan langsung para ustazah.
Beliau juga mengingatkan tentang penggunaan teknologi yang bijak. Ning Zulfa memahami realitas generasi hari ini yang tak lepas dari gawai dan media sosial.
“Boleh main HP, tetapi gunakan dengan bijak!” pesannya lugas.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa para santri pulang membawa amanah. Bukan hanya membawa koper berisi pakaian, tetapi juga membawa ilmu dan akhlak yang telah ditempa selama satu tahun.

“Kalian pulang membawa ilmu dan akhlak dari pesantren. Maka, jadilah contoh di rumah dan lingkungan!”
Ramadhan sebagai waktu liburan pesantren, menurut beliau, bukan sekadar momentum pulang saja, melainkan ruang penguatan karakter santri. Tilawah yang terjaga, zikir yang istikamah, serta akhlak yang tetap hidup menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren tidak berhenti di ruang kelas.
“Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa tilawah, zikir, dan adab. Jangan sia-siakan Ramadhan,” tambah beliau.
Di akhir tausiah, Ning Zulfa mengajak santri menjaga niat dan kerinduan. Rindu kepada pesantren bukan hanya rasa emosional, tetapi energi spiritual untuk kembali dengan kualitas yang lebih baik.

“Pulanglah dengan rindu yang terjaga dan niat yang lurus. Di mana pun kalian berada, tetaplah menjadi santri: santun, tawaduk, dan dekat kepada Allah,” tegas beliau.
Acara ditutup dengan doa yang khusyuk. Ning Zulfa memohon agar setiap langkah para santri selama di rumah berada dalam penjagaan Allah.
“Semoga Allah menjaga langkah kalian selama di rumah, melimpahkan keberkahan Ramadhan, dan mengembalikan kalian ke pesantren dengan hati yang lebih bersih dan iman yang lebih kuat,” pungkas beliau.
Ikhtitam Dirasah malam itu menjadi penegasan bahwa libur Ramadhan bukan akhir, melainkan awal pembuktian. Para santri pulang membawa amanah untuk menjaga adab, ilmu, dan nama baik Pondok Pesantren Nurul Qarnain, serta meneguhkan bahwa di mana pun mereka berada, nilai-nilai pesantren tetap hidup dalam sikap dan perilaku. (*)
———————————-
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


