Ikhtitam ini bukan sekadar seremoni akhir tahun, melainkan penanda resmi libur pesantren sekaligus penguatan nilai sebelum kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, juga dilaksanakan penyerahan hadiah kepada para juara program Kaifa Tushalli, sebuah pelatihan praktik salat yang menekankan ketepatan gerakan dan bacaan sesuai tuntunan syariat.
Adapun para juara Kaifa Tusholli, tingkat MTs dan sederajat, Kelas VII adalah Izzah Idana Fitriyana (VII D Muadalah Tsanawiyah), Kelas VIII diraih oleh Ulfatul Mahmudah (VIII H MTs Nurul Qarnain), dan Kelas IX dimenangkan oleh Afra Naila Arkana (IX D Muadalah Tsanawiyah).
Sedangkan untuk tingkat MA dan sederajat, Kelas X diraih oleh Riski Supriati (X MAK), Kelas XI dimenangkan oleh Maulidatul Aulia (XI PK), dan Kelas XII diraih oleh Ulfatul Hasanah (XII D Muadalah Aliyah). Sementara tingkat Mahasiswa diraih oleh Egisca Mauly Sagita (Prodi HES Semester V).

Hadiah langsung diserahkan oleh Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I., M.Pd., yang sekaligus menyampaikan mau’izah hasanah kepada seluruh santri putri.
Dalam mau’izah-nya, beliau menegaskan bahwa libur Ramadhan bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi momentum membawa hasil pendidikan pesantren sebagai oleh-oleh berharga.
“Ikhtitam Dirasah ini merupakan tanda libur pesantren. Oleh karena itu, saya mewakili ahlul bait Nurul Qarnain berhak sedikit memberi bekal,” buka beliau.
Ning Zulfa mengingatkan agar masa santri pulang ke rumah ini menjadi kebanggaan bagi keluarga.
“Buatlah mereka senang dan bangga atas kedatangan kalian dan jangan pernah mengecewakan yang mengharapkan kalian!”
Momentum Ramadhan juga menjadi penekanan utama dalam tausiah beliau. Nyai Zulfa menegaskan bahwa bulan suci bukanlah libur dari kebaikan.
“Ramadhan adalah momen yang tak boleh disia-siakan. Bukan libur kebaikan, tetapi kesempatan menjadi lebih baik,” imbuh beliau.
Selain menjaga kualitas ibadah, beliau juga berpesan agar para santri tetap menjaga adab, menyambung silaturahmi dengan guru ngaji di kampung halaman, serta menggunakan media sosial secara bijak.
“Gunakan HP dengan bijak. Jangan sampai postingan yang di-repost berdampak negatif. Dan jangan lupa ramaikan media pesantren,” pesan beliau.
Di akhir tausiah, Ning Zulfa mengajak seluruh santri untuk meluruskan niat saat pulang, yakni niat mencari ridha Allah melalui bakti kepada orang tua, niat mengabdi kepada keluarga dan masyarakat, serta menjaga sikap tawaduk, dan sopan santun sebagai ciri khas santri.
“Libur Ramadhan boleh memisahkan jarak antara kita, tapi jangan sampaik menjauhkan kita dari ilmu dan adab,” tandas beliau. (*)
———————————-
Pewarta: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


