Acara dihadiri oleh para santri, guru, dosen, jamaah Majelis Shalawat Al Wishol, serta tokoh masyarakat. Tampak pula Dr. Hudoyo bersama jajaran Muspika Kecamatan Sukowono turut membersamai peringatan milad tersebut.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, dalam sambutan dan tausiahnya menyampaikan rasa syukur atas perjalanan tujuh tahun Al Wishol yang tetap istikamah dalam bershalawat.
“Saya sudah menyediakan tempat, tapi Allah menurunkan rahmat berupa hujan,” ungkap beliau, disambut senyum jamaah.
“Alhamdulillah, tujuh tahun Al Wishol berdiri, dan jamaah masih tidak bosan-bosan mengikuti shalawat. Itu artinya kita masih nyambung kepada Rasulullah,” lanjut pengasuh.

Milad kali ini juga bertepatan dengan momentum liburan santri menjelang Ramadhan 1447 H. Pengasuh berpesan agar para santri pulang dengan membawa kebanggaan kepada orang tua dan guru.
“Banggakan orang tuamu, banggakan gurumu, junjunglah pesantren, selamatkan dirimu! Jika itu terpenuhi, orang tuamu bahagia, insya Allah bahagia dunia akhirat. Di dalam nash Al-Qur’an sudah tertera, jangan coba-coba menyakiti,” tegas Kiai Yazid.
Dalam tausiahnya, beliau juga mengisahkan sahabat nabi bernama Alqamah bin Qais yang dikenal ahli ibadah, namun kesulitan mengucap syahadat saat sakratul maut karena belum mendapat ridha sang ibu. Kisah itu menjadi pengingat bahwa restu orang tua adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.
“Kalian dimondokkan untuk tidak menyakiti orang tua. Ibumu sembilan bulan mengandung dengan berat, membesarkan dengan susah payah. Jangan sampai disakiti,” tegas beliau.
Beliau juga mengingatkan agar setiap selesai salat senantiasa mendoakan kedua orang tua. Jika tidak hafal doa panjang, cukup dengan doa sederhana memohon ampunan untuk ayah dan ibu.
Selain itu, KH. Yazid Karimullah menegaskan bahwa inti Milad Al Wishol adalah istikamah dalam shalawat dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

“Bershalawatlah hingga menjelang ajal! Jadilah ahli shalawat! Teruskan dan istikamahkan! Pangkat paling tinggi menurut Imam al-Ghazali adalah istikamah,” imbuh beliau.
Kiai Yazid menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya nabi yang diberi syafaat terbesar di akhirat, bahkan mencari umatnya hingga ke neraka. Karena itu, cinta kepada nabi bukan sekadar ucapan, tetapi mengikuti ajaran dan jejaknya.
“Yang dikatakan cinta adalah mengikuti. Ikutilah para nabi. Setelah nabi ada para ulama, karena ulama adalah pewaris nabi,” jelas beliau.
Menutup tausiahnya, beliau menyebutkan delapan golongan yang berhak mendapatkan syafaat, di antaranya pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan, orang yang hatinya terpaut pada masjid, hingga mereka yang berdzikir sendirian lalu menangis karena Allah.
“Semoga semua hadirin mendapat syafaat dan husnul khatimah. Dan santri di ajaran berikutnya harus lebih giat dan rajin lagi,” tandas beliau yang dibarengi dengan ucapan amin para jamaah.

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan penyerahan hadiah lomba hadrah yang sebelumnya digelar secara daring dengan lima kategori. Juara Terbaik I diraih oleh Miftahus Sa’adah Glenmore Banyuwangi, Terbaik II Al Ikhlas Arjasa Jember, dan Terbaik III Nurul Mukarramah Asembagus Situbondo. Kategori Best Player diraih Nurul Mukarramah Asembagus Situbondo, sementara Top Score diraih Ashabul Muhyi Jember. Hadiah dan penghargaan diserahkan langsung oleh KH. Yazid Karimullah bersama Khadimul Majlis Al Wishol, KH. Fawaid Yazid. (*)
—————————————-
Juru Berita: Wildan Miftahussurur & Shulton Arafat
Editor: Fathorrozi


