JEMBER | nurulqarnain.net – Menjelang kepulangan santri untuk menjalani Ramadhan di rumah masing-masing, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, menyampaikan dawuh penuh cinta dan penegasan dalam Milad ke-7 Majelis Al Wishol, Jumat malam Sabtu (13/02/2026). Tausiah tersebut menjadi bekal ruhani bagi para santri agar tetap istikamah dalam ibadah dan menjaga akhlak di tengah keluarga dan masyarakat.
Di hadapan ribuan jamaah yang memadati majelis, beliau menyampaikan pesan kepada santri yang esok paginya dijadwalkan kembali ke rumah. Sebagian bahkan telah lebih dulu diperkenankan pulang karena jarak jauh dan keterbatasan tiket perjalanan. Menurut pengasuh, momentum pulang ke rumah ini bukan sekadar liburan, melainkan ujian nyata pengamalan ilmu yang telah ditempa di pesantren.
“Semoga santri yang kami asuh menjadi kader-kader Rasulullah. Karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Maka, sejak sekarang kalian harus siap,” harap beliau.

Suasana majelis menjadi hening ketika beliau menyinggung persoalan durhaka kepada orang tua.
“Jangan pernah menyakiti hati mereka. Orang tua kalian telah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mempercayakan kalian kepada pesantren dengan harapan menjadi pribadi yang salih dan salihah. Jangan sampai kepulangan kalian justru membawa luka bagi hati ayah dan ibu,” tegas beliau.
Untuk menguatkan pesan tersebut, beliau mengisahkan sahabat nabi yang bernama Alqamah bin Qais. Alqamah dikenal sebagai ahli ibadah yang rajin salat, tekun berpuasa, gemar bersedekah, dan kuat berdzikir. Namun sayangnya, saat sakratul maut ia kesulitan mengucapkan kalimat syahadat. Setelah ditelusuri, ternyata ibunya belum meridhainya karena merasa tersakiti. Setelah sang ibu memaafkan dan meridhai, barulah Alqamah mampu mengucapkan lafaz la ilaha illallah hingga wafat dalam keadaan husnul khatimah.
“Inilah orang tua,” dawuh beliau.
“Jika menyakiti orang tua, bisa celaka dunia akhirat. Kalian dimondokkan untuk tidak menyakiti orang tua,” imbuhnya.

Beliau juga mengingatkan perjuangan seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan, menahan berat dan rasa tidak nyaman, lalu membesarkan anak dengan penuh pengorbanan. Semua itu tidak pantas dibalas dengan sikap yang melukai.
Bentuk bakti paling sederhana, lanjut beliau, adalah mendoakan orang tua setiap selesai salat.
Selain berbakti, para santri diminta tetap menjadi ahli shalawat di mana pun berada.
“Shalawat harus dibawa mati!” pesannya.
Menutup tausiahnya, beliau mendoakan seluruh santri agar memperoleh syafaat nabi, diberi kekuatan menjaga ibadah selama Ramadhan, serta dianugerahi husnul khatimah. (*)
—————————————-
Juru Berita: Wildan Miftahussurur & Shulton Arafat
Editor: Fathorrozi


