Pertemuan itu bukan sekadar formalitas, melainkan ruang nasihat dan penguatan doa antara pengasuh dan orang tua. Di hadapan para wali santri, beliau menyampaikan kisah inspiratif tentang seorang ayah sederhana yang memiliki dua anak luar biasa dalam sejarah keilmuan Islam.
“Coba kita meneladani cerita seorang ayah yang pekerjaannya serabutan. Apa saja dikerjakan, asal halal. Jika tidak ada pekerjaan, ia mencari kerja di pasar. Tapi, ia punya dua anak yang luar biasa dalam dunia keilmuan, yaitu Imam al-Ghazali dan Imam Ahmad,” tutur beliau.

Menurut KH. Yazid, rahasia sang ayah bukan pada harta atau kedudukan, melainkan pada kesungguhan doa. Setiap ada majelis ilmu, ia selalu duduk di barisan depan, menyimak dengan seksama perkataan para ulama. Sambil menangis, ia berdoa kepada Allah agar anak-anaknya kelak menjadi seperti ulama yang ia saksikan di hadapannya.
“Ya Allah, semoga anak-anak saya bisa menjadi seperti yang saya lihat sekarang di depan saya,” demikian doa yang dikisahkan beliau.
Dari cerita itu, pengasuh menegaskan pentingnya peran doa orang tua. Segala sesuatu telah ditentukan dan diarahkan oleh Allah, namun doa menjadi pintu ikhtiar yang tidak boleh diabaikan.

“Ingat ya, Bapak Ibu, semuanya sudah ditentukan oleh Allah. Tidak ada yang bisa mengubah nasib, kecuali doa. Maka, berdoalah, menangislah kepada Allah Dzat Yang Maha Memberi!” pesan KH. Yazid.
Beliau juga menyampaikan bahwa pertemuan wali santri seperti ini sebenarnya tidak wajib diadakan. Santri bisa saja langsung dibawa pulang. Namun karena adanya berbagai kasus di luar yang kadang mencoreng nama baik pesantren, maka penguatan nasihat dan komunikasi dengan orang tua menjadi penting.
KH. Yazid menegaskan bahwa niatnya mengasuh santri bukan untuk mendapatkan bayaran dari manusia.

“Saya tidak ada niatan merawat anak sampean untuk mendapat bayaran dari bapak ibu. Tidak. Saya hanya ingin bayaran dari Allah semata,” tegasnya.
“Niat saya,” lanjutnya, “Adalah untuk menjaga dan merawat umat Rasulullah SAW.”
Beliau berharap santri-santrinya memperoleh ilmu yang berkah dan manfaat, memiliki rezeki yang mapan, serta hidup sejahtera di dunia dan akhirat.
Pertemuan tersebut ditutup dengan doa bersama menjelang pelepasan santri. Suasana haru dan khidmat terasa ketika para wali santri menyimak pesan demi pesan yang disampaikan. Dan diakhiri pelepasan santri secara simbolis oleh pengasuh di halaman Mushala Putri. (*)
———————————–
Pewarta: Shulton Arafat
Editor: Fathorrozi


