Menyelisik Makna ‘Senyum Tuhan’ dan ‘Kaki Ibu’

Judul Buku : Permainan Metafora dalam Karya Sastra
Penulis         : Akhmad Idris
Penerbit       : LovRinz
Cetakan       : I, Juni 2022
Tebal            : x + 68 halaman
ISBN            : 978-623-446-341-5

Telah sampai ke tangan saya sebuah buku setebal 68 halaman dengan selamat sentosa pada Sabtu, 23/7/2022. Namun, jangan dulu dipandang dari segi tipisnya. Sebab, tipisnya ini persis dengan peribahasa “kecil-kecil cabe rawit”, yang berarti biar pun kecil tetapi ampuh, atau meski tampak kecil namun pemberani, atau biar pun kecil ia cerdik. Peribahasa ini sangat layak bila dianalogikan pada buku terbaru karya Akhmad Idris yang berjudul Permainan Metafora dalam Karya Sastra ini.

Meski tipis, buku terbitan LovRinz pada Juni 2022 ini, sangatlah kaya pengetahuan, khususnya dalam ilmu sastra, lebih khususnya lagi mengenai metafora. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia metafora diartikan kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Contoh, tulang punggung dalam kalimat ‘pemuda adalah tulang punggung negara.’

Dari berbagai pembahasan dalam buku ini yang erat kaitannya dengan metafora, terdapat satu judul yang memikat hati saya untuk mengulasnya. Bahasan tersebut bertajuk Senyum Tuhan dan Hati Ibu. Tulisan ini merupakan resensi buku Senyum Tuhan di Hati Ibu karya Dian Ardianto, yang tayang di media online (lensasastra.id) pada tanggal 25 Desember 2021. Saya tertarik mengupasnya lantaran rasa penasaran yang membuncah terhadap isinya. ‘Senyum Tuhan’ dan ‘hati ibu’ menjadi topik utama.

Dalam buku ini, Akhmad Idris dengan jelas mengusut tuntas makna ‘senyum Tuhan’ dan ‘hati ibu’. Namun, dalam ulasan ini saya lebih fokus kepada kelompok kata ‘senyum Tuhan’ dan ‘kaki ibu’, bukan ‘hati ibu.’ Kenapa memilih ‘kaki ibu’, sebab ‘kaki ibu’ yang disandingkan dengan surga dalam sabda Rasul. Sebagaimana diketahui dalam hadis riwayat An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan disahihkan oleh Al-Hakim, “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Apa makna ‘kaki ibu’?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ‘senyum Tuhan’ lebih dominan dibahas lebih dulu. Akhmad Idris lewat buku ini mengungkap bahwa ‘senyum Tuhan’ bukanlah makna sesungguhnya yang berarti Tuhan tersenyum seperti laiknya kita (manusia) tersenyum. Bukan. Sebab, Tuhan memiliki sifat wajib mukhalafatu lil hawadisi, berbeda dengan makhluk-Nya. Maka, jelas bahwa senyum Tuhan dan senyum manusia adalah dua hal yang jauh berbeda. Empat hal yang menjadi maksud frasa ‘senyum Tuhan’, yaitu rahmat, hidayah, ridha dan inayah (hlm. 39).

Selain ‘senyum Tuhan’, buku ini juga mengulik ‘hati ibu’, sebab penulis buku ini sedang merensi buku Senyum Tuhan di Hati Ibu yang mengandung dua suku kata dalam judul tersebut, yaitu senyum Tuhan dan hati ibu. Tetapi, membahas frasa ‘kaki ibu’ lebih menantang dari ‘hati ibu’.

Ditemukan ada empat arti ‘kaki ibu’. Pertama, diartikan sebagai derajat tinggi seorang ibu. Anak di hadapan ibunya ibarat debu yang menempel di kaki. Setinggi apa pun pangkat seorang anak, masih tetap lebih tinggi pangkat seorang ibu yang telah melahirkan anaknya ke dunia dengan bertaruh nyawa. Kedua, bermakna kemuliaan seorang ibu. Kemuliaan yang harus dijunjung tinggi oleh anak. Kemuliaan yang tidak boleh disakiti hatinya, serta dicederai perasaannya.

Ketiga, sebagai lambang perjalanan seorang ibu. Kaki mengandung makna perjalanan panjang seorang ibu dalam berjuang demi anaknya. Berjuang saat hamil, melahirkan, membesarkan, serta mendidik sebagai madrasatul ula bagi anaknya. Keempat, ‘kaki ibu’ sebagai lambang kekuatan seorang ibu. Kekuatan yang menopang badan anak. Bahkan bukan hanya badannya, namun pula kasih sayangnya telah menopang penderitaan dan kesedihan anak.

Sekali lagi, ini hanya sebagian, cuma satu judul. Masih banyak lagi pembahasan-pembahasan menarik lainnya terkait metafora dalam buku ini. Sangat direkomendasikan bagi pelajar atau siapa pun yang berkehendak mendalami sastra untuk memiliki, membaca dan menyelami lembar demi lembar buku ini.***

*) Fathorrozi, alumnus Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Sukowono, Jember, tinggal di YPI Qarnul Islam, Ledokombo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *