Wisuda Tahfidz Madrasatul Quran tahun ini merupakan pergelaran apresiasi perdana sejak berdiri pada pertengahan tahun 2016 lalu. Acara dilangsungkan di Auditorium KH Yazid Karimullah. Wisuda ini dihadiri oleh kurang lebih 400 hadirin yang meliputi wali santri, dan tamu khusus, serta turut menghadirkan KH Baiquni selaku Pengasuh Majelis Selawat Al-Ghafilin Jember.
Total ada 14 wisudawan dan wisudawati yang terdiri dari 3 khatam 30 juz, 2 khatam 15 juz, dan 9 sisanya merupakan hufaz 10 juz Alquran. Mereka merupakan santri yang berasal dari daerah Tapal Kuda; Jember, Lumajang, dan Bondowoso yang telah menyelesaikan ujian hafalan beberapa waktu sebelumnya.
Dimulai dengan kirab oleh 14 wisudawan dari halaman gedung asrama putri, dengan iringan selawat Quran. Para santri yang telah menyelesaikan hafalan tersebut, kemudian menjadi sorotan mata takjub di saat mulai memasuki ruangan wisuda sekaligus dengan riuh tepuk tangan.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan Qiraatus Sab’ah oleh 14 wisudawan secara bergantian. Qira’ah dibuka dengan surah al-Fatihah dan surah an-Nas sebagai penutup. Dibaca secara bergantian mengikuti 7 bacaan. Qiraah Sab’ah merupakan 7 macam riwayat bacaan Alquran oleh 7 Imam Qira’ah yang mutawatir riwayatnya kepada Nabi Muhammad Saw.
Sambutan kemudian disampaikan oleh Ketua Panitia; Ustaz Rizal Efendi. Dalam sambutan singkatnya, ia menyampaikan rasa bangga kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan hafalannya, “Saya mewakili seluruh asatiz Madrasatul Qur’an merasa bangga yang tiada batas kepada para 14 hufaz Quran yang telah menyelesaikan hafalannya, karena menghafal Alquran bukanlah hal yang mudah, butuh pengorbanan dan tekad yang begitu besar,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain; KH. Yazid Karimullah. Selain menyampaikan kebanggaannya, beliau juga berpesan dengan mengutip dawuh KHR As’ad Syamsul Arifin, “Santri haruslah istikamah semangat menuntut ilmu yang sudah ada di pesantren, karena generasi Islam bila masih ketergantungan dengan orang lain, kapan mau maju.”
Acara kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi hafalan. Naila Alyatil Fadhilah, maju sebagai perwakilan untuk diuji kemampuan hafalannya. Demonstrasi hafalan merupakan ujian hafalan Alquran yang dipandu oleh Wakil Kepala Madrasatul Quran, Ustaz Ali Murtadlo al-Hafiz. KH Fawaid Yazid beserta perwakilan dari tamu undangan membacakan 3 ayat Alquran yang dipilih secara acak untuk diajukan kepada Naila agar dilanjutkan.
Sebelum menguji, Ustaz Ali Murtadlo memberikan pidato singkat tentang kesungguhan santri yang rela mengorbankan waktu untuk menghafalkan Alquran, serta menyampaikan tentang penjelasan Qiraah Sab’ah yang masih terdengar tabu di telinga masyarakat Indonesia, sekaligus memastikan tidak ada yang merasa ganjil dari para tamu.
“Alquran turun di Jazirah Arab, sama seperti di Indonesia, mereka juga memiliki berbagai logat dan gaya bahasa. Hal ini kemudian berdampak pada bacaan Alquran, tetapi meskipun tujuh Qiraah tersebut berbeda, namun tetap sanadnya mutawatir kepada Rasulullah Saw,” jelas beliau.
Rasa khidmat kemudian muncul tatkala satu persatu wisudawan-wisudawati dikokohkan oleh Kepala Madrasatul Qur’an Nurul Qarnain dengan diiringi oleh lantunan lagu Hafiz Qur’an dengan memberikan syahadah dan kalung sebagai tanda hatam hafalan. Terlihat rasa haru yang tidak terbendung di wajah para tamu dan wali santri, bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata haru sekaligus bahagia.
Dilanjutkan dengan menyematkan 2 piagam oleh Ustaz Munir Mufi, Lc., dan Ustaz Ali Murtadlo yang berisi sanad guru Alquran kepada 3 wisudawati yang selesai menghatamkan 30 juz hafalannya secara bil ghaib sekaligus cinderamata cincin dan hadiah dari keluarga ahlul bait pesantren.
Ditutup dengan orasi ilmiah oleh KH. Baiquni. Beliau mengisi ceramah tentang berbagai keutamaan yang ada di dalam Alquran. “Tidak ada satu pun kitab suci agama di dunia ini yang dihafalkan, kecuali Alquran.”
“Alquran tidak hanya sebagai pedoman bagi umat Muslim, tapi hebatnya Alquran dapat mengislamkan pendeta yang 20 tahun tidak pernah mengenal Islam. Dia menjadi muallaf hanya karena mendengar agungnya lantunan Alquran,” tambah beliau.


