Berkali-kali hadirin bertepuk tangan sambil berdecak kagum. Salah satunya di saat acara baru dimulai. Ketika para tamu undangan beserta dewan pengasuh dan pimpinan lembaga memasuki ruang prosesi wisuda, wisudawan-wisudawati memulai acara dengan pembacaan Alquran. Namun, tidak seperti biasanya. Mereka membaca surah Alquran dengan Qiraatus Sab’ah secara bergantian.
Keganjilan bacaan tersebut kemudian dijelaskan secara gamblang oleh Wakil Kepala Madrasatul Quran Nurul Qarnain, Ustaz Ali Murtadlo, saat demonstrasi umum. Ia pun dengan singkat mengurai kisah sejarah Qiraatus Sab’ah pada zaman para sahabat.
“Dari perbedaan logat (cara mengucapkan kata) penduduk Jazirah Arab itu, maka lahirlah bacaan yang dikenal dengan istilah Qiraarus Sab’ah. Jadi, bacaan Alquran yang telah dibacakan tadi bukan bacaan sesat, bukan qiraah aliran baru. Ngoten enggeh?” terang ustaz asal Blitar itu. Disusul anggukan hadirin sebagai tanda mafhum.
Selain tuai kekaguman dari hadirin, wisuda perdana tadi juga dilingkupi keharuan yang sangat mendalam. Tepatnya, sewaktu demonstrasi umum. Ustaz Ali Murtadlo memanggil salah satu wisudawati yang telah hafal Alquran 30 juz; Naila Alyatil Fadhilah, asal Tamanan, Bondowoso. Pertama kali Ustaz Ali Murtadlo memberi kesempatan kepada Wakil Pengasuh I Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Fawaid Yazid, untuk menguji hafalan Naila.
KH. Fawaid Yazid menguji hafalan Naila dengan membaca tiga ayat dari surah yang berbeda. Dengan tangkas, Naila mampu menyambung ayat yang telah diajukan beliau. Selanjutnya, Ustaz Ali Murtadlo memberi waktu kepada hadirin untuk menguji. Lalu, satu wali santri putra dan satu wali santri putri maju untuk mengujinya.
Sebagaimana yang pertama. Kedua wali santri tersebut membaca ayat Alquran secara acak untuk disambung oleh Naila. Memang tidak diragukan lagi kemampuannya. Dengan cepat dan tegas, Naila menyambung ayat tersebut di hadapan hadirin. Spontan, tepuk tangan hadirin menyesaki ruang prosesi wisuda.
Momen haru tiba setelah Naila Alyatil Fadhilah dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada wisuda perdana tadi. Naila maju dengan menundukkan kepala. Air matanya tidak mampu ditahan. Kedua orangtuanya yang juga sama-sama hadir, diminta untuk mendampingi Naila. Naila semakin tidak kuat menahan tetesan air mata kebahagiaan. Ibu Naila yang maju dengan deraian air mata, langsung menciumi pipi Naila, lalu mendekapnya erat. Demikian pula bapak Naila. Ia ikut maju dengan menitikkan air mata, tidak kuasa menahan tangis bahagia. Menciumi Naila, lalu memeluknya sangat erat.
Menyaksikan momen haru tersebut, hadirin pun tanpa sadar juga meneteskan air mata. Lebih-lebih saat Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, menyerahkan penghargaan kepada Naila dengan diiringi lagu bertajuk Hafiz Quran oleh anggota paduan suara.* (Rz)


