Kiai As’ad Mengusir Tentara Jepang

Pada tahun 1945, di atas lincak dalam sebuah rumah sederhana di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KHR. Syamsul Arifin sedang duduk bersila, lalu memanggil putranya; KHR. As’ad. Dengan pakaian serba putih, Kiai As’ad memenuhi panggilan abahnya.

“Siapkan diri! Segeralah ke Garahan Jember! Usir jepang yang bermarkas di sana!” ucap KHR. Syamsul Arifin dengan mata berkaca-kaca. Beliau baru saja merasa sangat kehilangan. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari telah gugur dalam upaya perjuangan melawan penjajah Jepang. Masih terngiang di benak beliau bagaimana kebiadaban dan kekejaman tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia.

“Iya, saya siap!” Kiai As’ad selaku Komandan Tentara Hizbullah Kawasan Timur Indonesia mengangguk mantap. Gelora semangat semakin kuat.

Tanpa banyak pikir, beliau akan segera melaksanakan amanat abahnya. Demi kemanusiaan dan atas kecintaan kepada negara Indonesia, beliau tak gentar. Selangkah pun pantang bagi beliau untuk mundur. Maka, beberapa menit kemudian, dengan tekad bulat dan berbekal tawakal beliau berangkat menuju lokasi.

***

Sesampainya di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin Sukowono Jember, sebelum berangkat ke Garahan Silo Jember, Kiai As’ad mengumpulkan barisan pelopor. Beliau menyusun strategi dan membagi tugas bersama KH. Umar.

“Kita pakai taktik megek klemar aenga se tak lekkoa, menangkap ikan yang airnya tidak sampai keruh. Kita awasi gerak-gerik dan posisi Jepang dengan seksama. Ingat, jangan sampai lengah!” beliau merancang taktik pengusiran dengan halus dan lembut. Sekiranya tidak sampai menjatuhkan korban, lebih-lebih mengenai rakyat Indonesia.

Usai strategi disusun, beliau beserta barisan pelopor berangkat. Setibanya di desa Sumberwaru Sukowono, Kiai As’ad mampir di masjid KH. Shaleh untuk menunaikan salat Duhur. Sementara para pelopor menyatukan barisan di musala yang saat itu disebut Musala Kahyangan. Setelah beristirahat sejenak, mereka berangkat kembali dan menginap selama tiga malam di Pondok Pesantren Zaidul Ali Sukorejo Sukowono asuhan KH. Syarqawi. Di pesantren tersebut, Kiai As’ad menyiapkan anggota pelopor untuk melakukan pengintaian. Sementara beliau sendiri sedang khusyu mengasah amalan Ratibul Haddad dengan berkaki satu.

Di sekitar Pondok Pesantren Zaidul Ali juga terdapat bungker sedalam empat meter. Bungker tersebut sengaja dibuat oleh warga untuk tempat persembunyian dari tentara Jepang agar tidak ditangkap dan tidak dijadikan bagian dari romusha.

Demi melancarkan strategi megek klemar aenga se tak lekkoa, menangkap ikan yang airnya tidak keruh, Kiai As’ad membagi tugas kepada mata-mata di beberapa tempat untuk mengawasi kekuatan tentara Jepang. Kemudian setelah menunaikan salat dua rakaat dan istigasah, beliau bersama para pelopor melanjutkan perjalanan lewat Jembatan Keramat. Lalu beliau mampir di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kalisat yang awalnya adalah sebuah pasar yang dikelola oleh KH. Baihaki.

Di pesantren tersebut, Kiai As’ad menemui dan mengajak KH. Baihaki untuk berjuang mengusir Jepang. Kiai Baihaki beserta istrinya ketika itu masih pengantin baru. Harum semerbak bunga melati di kamar pengantin masih basah tercium rongga hidung. Baru beberapa hari keduanya melangsungkan akad nikah.

“Kenapa kau ikut, Duhai Suami?” istri Kiai Baihaki keberatan. Dia sedih. Khawatir kebahagiaan yang baru beberapa hari dia rasakan akan segera terenggut oleh kepedihan dan kehilangan.

“Tenangkan jiwamu, Wahai Istri! Saya akan baik-baik saja dan segera kembali ke pangkuanmu dengan tak kurang suatu apapun,” Kiai Baihaki memegang bahu istrinya.

“Saya takut kau ditangkap, lalu dibunuh oleh Jepang. Jepang kejam!”

“Yakinlah, saya berangkat bersama Kiai As’ad. Insya Allah selamat.”

Leher Kiai Baihaki dikalungkan kain berwarna merah. Tak lupa mencium kening istrinya agak lama. Menyisakan tetes air mata, kemudian saling tatap dan meninggalkan halaman pesantren.

Di tengah jalan, seorang warga bernama Saneri membuntuti perjalanan mereka.

“Kenapa kau mengikuti saya?” tanya Kiai As’ad. Saat itu beliau mengenakan pakaian serba putih dan serban hitam putih.

“Saya hendak ikut Kiai. Mau mengawal Kiai,” ujar Saneri. “Mari Kiai, izinkan saya membawakan jerami yang dipegang Kiai itu,” lanjutnya menawarkan diri.

Saneri yang sudah pamit kepada keluarga untuk ikut serta berjuang mengusir Jepang, diizinkan oleh Kiai As’ad mengikuti barisannya dan diperkenankan membawakan jerami selama dari Rumah Sakit Ajung Kalisat hingga ke Sumbersalak Ledokombo.

Agar memudahkan Kiai As’ad dalam mengintai tentara Jepang, beliau memilih lewat jalan pintas. Meski memilih jalur pintas, tak jarang beliau berjumpa dengan tentara patroli Jepang. Setiap kali bertemu dengan tentara patroli tersebut, beliau melepas ikatan jerami yang dibawakan Saneri, lalu melemparkan ke arah tentara. Dengan secepat kilat, jerami itu berubah wujud menjadi sepasukan bersenjata yang menyerang tentara Jepang. Pasukan jelmaan dari jerami tersebut selalu berhasil memukul mundur tentara Jepang, sehingga mereka lari terbirit-birit dan meninggalkan binatang rampasan.

“Demi keselamatan bersama, saya himbau, mohon jangan mengambil apapun,” Kiai As’ad mengingatkan para pengikutnya. Maka, tak seorang pun berani melawan. Mereka tetap satu komando dan satu tujuan.

Angin kemarau yang bertiup sepoi-sepoi seperti mengipasi tubuh Kiai As’ad yang basah oleh keringat. Dari Sumbersalak beliau menyusuri rel kereta api menuju Garahan dengan menaiki seekor kuda yang bernama Sekedap Udara. Sebelum hendak memasuki desa Garahan, mendadak beliau turun dari kuda.

“Kenapa Kiai turun?” salah satu dari mereka yang bernama Miskun bertanya.

“Di sini ada seorang hamba Allah yang taat beribadah,” jawab Kiai As’ad.

Tak lama dari itu, beliau sampai ke kediaman pamannya, Kiai Ali. Setelah mengikat kuda dan memanggil salam kepada penghuni rumah, beliau diperkenankan mampir.

Kiai Ali bertanya, “Kenapa kau datang kemari, sedangkan di pesantrenmu banyak sekali santri yang perlu kau urus?”

“Saya kesal kepada Jepang yang bermarkas di Garahan. Mereka tak mau juga pulang ke negaranya,” balas Kiai As’ad.

Beliau akhirnya meminta menginap satu malam di kediaman Kiai Ali. Beliau mendapat izin dan disediakan rumah kayu bertingkat. Kiai As’ad menempati tingkat paling atas. Sementara keluarga Kiai Ali terus-terusan mengamati perihal apa yang dilakukan beliau. Ternyata beliau sedang mengasah amalan Ratibul Haddad sepanjang malam dengan berdiri di atas satu kaki. Beliau biasa mengamalkan Ratibul Haddad dengan cara seperti ini dikala suasana benar-benar genting dan membahayakan.

Keesokan harinya, beliau sampai dan masuk ke markas Jepang di Pasar Alas. Beliau seketika naik ke atas meja. Tangannya memegang cemeti. Tatapannya sangar. Tentara Jepang ketar-ketir dengan pemandangan di depannya. Kesiagaan mereka tak ada apa-apanya. Mereka pun akhirnya duduk di lantai.

“Segera tinggalkan tempat ini!” sergah Kiai As’ad.

“Ba… ba… baik. Beri kami waktu sebulan,” pimpinan tentara Jepang memohon.

“Tidak bisa.”

“Kalau begitu, setengah bulan saja.”

“Tidak bisa. Saya tidak mau kompromi,” suara Kiai As’ad semakin meninggi.

Sejenak keadaan hening. Kemudian keheningan kembali pecah dengan gebrakan meja oleh Kiai As’ad. Sekuat tenaga beliau memukul meja yang tadi dinaikinya. Tentara Jepang gemetar dan semakin takut.

“Saya beri waktu tiga hari. Jika tidak, kain merah ini akan saya kalungkan kepada pimpinan kalian pertanda serangan akan dimulai,” tegas beliau lalu meninggalkan mereka. Mereka tak berkutik. Sebaris kata pun tak keluar dari mulut mereka.

Di markas itu, Kiai As’ad juga sempat menurunkan bendera Jepang dan mengumandangkan takbir tiga kali.

Dua hari kemudian, tentara Jepang mulai berkemas. Semua barang dibawa pulang, kecuali satu samurai, dua pedang pendek, satu granat dan satu mesin tik yang dipendam di dekat pintu markas. Tepat hari ketiga sesuai perjanjian, dua ratus tentara dibawa naik kereta api ke Stasiun Balung. Gelombang kedua, dua ratus tentara berikutnya dibawa lagi ke Stasiun Balung. Dari Balung menuju ke Surabaya. Dari Surabaya langsung dipulangkan ke Jepang. Tepat kumandang azan Magrib, desa Garahan dinyatakan bersih dari penjajah Jepang. Bersamaan dengan kawanan kalelawar yang melintas di langit senja hendak kembali ke sarang, pasukan tentara Jepang telah betul-betul meninggalkan Garahan dan pulang ke negaranya. Berkat pertolongan Allah Swt, Kiai As’ad, para pelopor dan barisan BKR akhirnya dapat mengusir tentara Jepang dari Garahan Silo Jember. Negara Kesatuan Republik Indonesia pun dapat ditegakkan. Bendera merah putih terus berkibar.***

 

Qarnul Islam, 23 November 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *