Menyulam Rindu yang Tak Pernah Usai: Indahnya Baginda Nabi Muhammad SAW

يَا خَيْرَ مَوْلُودٍ بِمَكَّةَ قَدْ أَتَى

“Wahai sebaik-baiknya manusia yang dilahirkan di Mekah, beliau telah datang.”

ذَلَّتْ لَهَيْبَتِهِ جَمِيعُ خُصُومِهِ

“Sebab wibawanya, runtuhlah seluruh musuh-musuhnya.”

Ketika bait ini dibacakan, hati serasa digiring kepada sosok mulia. Beliau bukan hanya sekadar manusia, tetapi cahaya rahmat yang menerangi semesta. Beliau adalah penawar gundah, dan kehadirannya merupakan jawaban atas doa-doa kerinduan umat sepanjang zaman.

Satu nama yang ketika disebut, hati seakan diterangi cahaya, dada terasa lapang, dan air mata jatuh tanpa disadari. Nama itu bukan sekadar sebutan, tetapi doa, harapan, dan cahaya yang menuntun umat manusia dari kegelapan menuju terang. Beliaulah Nabi Agung Muhammad ﷺ, manusia pilihan yang oleh Allah dijadikan rahmat untuk seluruh alam.

Rahmat nabi tidak hanya bagi orang-orang beriman, tetapi juga bagi mereka yang pernah menyakiti beliau. Ketika beliau dihina, dilukai, dan bahkan diusir dari Thaif, malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka. Namun, dengan kelembutan hati, Nabi Muhammad SAW justru bersabda: “Aku berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah semata.” (HR. Bukhari, no. 3231).

Inilah puncak kasih sayang: mendoakan mereka yang menyakiti, berharap kebaikan lahir dari generasi yang bahkan belum ada. Keindahan Nabi Muhammad bukan hanya pada wajahnya yang bercahaya, tetapi pada akhlaknya yang agung.

Allah menegaskan dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. al-Qalam: 4).

Ayat ini, menurut Imam al-Qurthubi dalam kitab al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān adalah pengakuan langit bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah kemuliaan yang tidak tertandingi, mencakup kesabaran, kelembutan, kejujuran, keberanian, dan kasih sayang yang tiada habisnya.

Para sahabat pun mengakui keindahan beliau, baik rupa maupun jiwa. Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata: “Barangsiapa melihat beliau dari jauh, maka ia akan segan. Dan barang siapa bergaul dengan beliau dari dekat, maka ia akan mencintainya. Aku tidak pernah melihat orang seperti beliau, baik sebelum maupun sesudahnya.” (HR. at-Tirmidzi, as-Syama’il al-Muhammadiyah, no. 364).

Begitu pula sahabat al-Bara’ bin ‘Azib berkata: “Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling tampan wajahnya dan paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari, no. 3358; Muslim, no. 2320).

Sosoknya begitu berwibawa. Pasang mata yang melihatnya, pastilah akan langsung menaruh hormat padanya, meski baru pertama kali memandangnya. Siapa pun yang berkumpul dan mengenalinya, ia akan mencintainya.

Keringatnya putih bersih mengkilap bagaikan mutiara. Baunya yang sangat harum hingga Ummu Sulaim menjadikannya sebagai parfum.

“Sungguh aku bersumpah tiada parfum yang lebih wangi dari keringatnya,” ucap Ummu Sulaim.

Al-Hafizh al-‘Iraqi mengatakan:

يَقُوْلُ مَنْ يَنْعَتُهُ مَا قَبْلَهُ * أَوْ بَعْدَهُ رَأَيْتُ قَطُّ مِثْلَهُ

“Siapa pun yang mendeskripsikan sosoknya, pastilah berkata, ‘Belum pernah aku melihat sosok sesempurna Rasulullah’.”

Para penyair pun mengekspresikan kerinduan melalui syair-syairnya. Hasan bin Tsabit, penyair Nabi, menulis bait yang begitu terkenal:

وَأَحْسَنُ مِنْكَ لَمْ تَرَ قَطُّ عَيْنِى
وَأَجْمَلُ مِنكَ لَمْ تَلِدِ النِّسَآءُ
خُلِقْتَ مُبَرَّأً مِنْ كُلِّ عَيْبٍ
كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَآءُ

“Tidak pernah mataku melihat yang lebih indah darimu,
Dan tidak pernah wanita melahirkan yang lebih elok darimu.
Engkau diciptakan bersih dari segala cela,
Seakan engkau diciptakan sebagaimana yang engkau kehendaki.”
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah, 1/235).

Ketika ajal menjemputnya, yang terucap dari lisan Nabi Muhammad bukanlah jeritan sakit, melainkan kerinduan kepada kita. Dalam riwayat sahih disebutkan, Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah umatku, ya Allah, ampunilah umatku, ya Allah, ampunilah umatku.” (HR. Muslim, no. 249).

Bahkan, dalam riwayat lain beliau mengulang-ulang kalimat: “Ummati… ummati…” (HR. Muslim, Kitab al-Iman, no. 202).

Betapa indah dan dalam cinta beliau. Di saat tubuhnya melemah, yang beliau ingat adalah kita. Kita yang penuh dosa, kita yang sering lalai, kita yang bahkan hidup berabad-abad setelahnya. Namun, kita tetap ada dalam kerinduan dan doa beliau.

Maka, rindu kepada Nabi Muhammad bukan sekadar air mata. Beliau adalah doa yang hidup, cahaya yang menuntun, dan cinta yang berbuah amal. Sebab, rindu sejati bukan hanya mengucapkan, tetapi meneladani: menjaga sunnahnya, menebar kasih sayangnya, dan memelihara akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, kita semua berharap kelak berada di telaga Kautsar, disapa dengan senyum lembut beliau, lalu mendengar kalimat yang selama ini kita rindukan: “Aku telah menunggumu, wahai kekasihku.”

Dan pada saat itulah, rindu yang kita simpan selama hidup menemukan jawaban abadi. (*)

————————————–

Penulis: M. Akmal Marzuqin

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *