Selama 500 tahun Nabi Nuh berdakwah, hanya mendapatkan sekitar 70 sampai 80 orang pengikut. Suatu ketika beliau berdoa kepada Allah agar kaumnya yang keras kepala itu mendapat hidayah. Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh untuk membuat perahu. Nabi Nuh pun memerintahkan kaum yang mengikutinya tersebut untuk membuat perahu.
Nabi Nuh dan kaumnya membuat perahu sangat besar. Banyak dari kaumnya yang ingkar mengolok-olok dan menghinanya, menganggap bahwa apa yang dilakukan Nabi Nuh adalah sesuatu yang tidak masuk akal dikarenakan daerah mereka sangat jauh dari laut dan cuaca selalu panas.
Atas kuasa Allah langit yang semula cerah mendadak tertutup awan mendung, mendatangkan hujan deras selama berhari-hari tanpa henti. Nabi Nuh mengumpulkan kaumnya dan mereka semua naik perahu. Selain itu, Nabi Nuh juga membawa semua jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan ke dalam perahu.
Seiring waktu, banjir besar pun melanda seluruh penjuru negeri. Tidak ada tempat berlari. Semua kaum Nabi Nuh yang ingkar mati tenggelam, termasuk anak Nabi Nuh yang bernama Kan’an. Ia enggan mengikuti ajakan ayahnya (Nabi Nuh) untuk naik ke perahu dan tetap dengan kekafirannya.
Hujan berlangsung selama 40 hari. Banjir besar meluluhlantakkan seluruh negeri. Setelah 150 hari, perahu Nabi Nuh berlabuh di sebuah gunung pada tanggal 10 Muharam atau hari Asyura. Pada hari itu, Nabi Nuh melaksanakan puasa dan memerintahkan kepada para kaumnya untuk ikut berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
Kemudian Nabi Nuh mengeluarkan sisa-sisa makanan yang terapung di perahu. Tak banyak makanan yang tersisa. Hanya terdapat beberapa macam biji-bijian yang kemudian dikumpulkan dan dimasak. Semua orang menikmati makanan tersebut sampai kenyang berkat doa Nabi Nuh. Lalu, makanan itu dikenal sebagai bubur Asyura yang tetap ditradisikan hingga saat ini. (*)
———————————-
Penulis: Silfin Aisyah
Editor: Fathorrozi


