Bukan main, terlenanya kehidupan di dunia memang terasa bisa dibawa hingga terasa tak bertepi. Tidak lepas dari tipu daya dunia yang ada, garis finish kematian yang tidak pernah diketahui kapan dan bagaimana bahkan sering terlupakan.
Salah satu contoh dari tanda ‘hamba’ terlena dengan kehidupan dunia adalah dipalingkan kesibukan dalam jati dirinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Abu Hamid al-Ghazali mencantumkan salah satu sabda Nabi Muhammad Saw. dalam kitabnya:
علامة اعراض الله تعلى على العبد اشتغاله بما لا يعنيه, وان امرأ ذهبت ساعة من عمره في غير ما خلق له من العبادة جدير أن يطول عليه حسرته
Artinya: Tanda berpalingnya Allah Swt. atas seorang hamba ialah disibukanya hamba tersebut dengan apa-apa yang tidak berguna baginya. Dan sesungguhnya seseorang yang hilang “waktu sesaat” dari umurnya dalam perbuatan yang tidak diperuntukan (diciptakan) baginya yakni ibadah maka patutlah bagi dia akan penyesalan yang lama. (Abi Hamid al-Ghazali, Kitab Ayyuhal Walad, hal 12).
Benar memang, terkadang yang rasa terlena saat rasa nyaman dan bahagia yang menguasai dapat menghilangakan “ingat mati”. Tergambar dari hadis yang terkutip di atas, bahwa seorang akan hampa dari perhatian Allah Swt. (berpaling darinya) adalah Ia disibukanya dengan hal yang tidak bermanfaat , yaitu setiap hal yang orientasinya adalah hanya mencari kehidupan dunia, namun dalam tanda kutip adalah kesenangan yang membutakan akan ingat kepada Allah Swt.; terlalu sibuk bekerja hingga lupa beribadah, terlalu terlena saat dengan keluarga hingga lupa bahwa setiap saat ajal akan menjemput. Filsuf Yunani juga pernah mengatakan: “Perbudakan yang senantiasa melekat pada manusia adalah rasa nyaman”.
“Waktu dalam umur yang hilang walaupun sesaat tidak akan pernah kembali”, waktu yang diberikan oleh Allah Swt. kepada setiap orang tidaklah sama dan tidak dapat diukur kapan, namun yang menjadi titik tengah daru umur yang berbeda tersebut adalah dibatasi dengan “kematian” tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput.
Maka layaklah bagi setiap orang yang ‘terlena dengan umur’ dalam kesia-sian jatuh dalam penyesalan yang mendalam, karena setiap detik dalam kehidupan ini tidak bisa diputar kembali. Bahkan jikalau berharap-harap pun itu tidak akan terjadi, dalam bahasa nahwu disebut dengan istilah “Tamanni”.
ومن جاوز الأربعين ولم يبلغ خيره على شره فليتجهز الى النار
Artinya: Barang siapa yang umurnya sampai 40 tahun, sedangkan kebaikanya tidak mengungguli atas kejelekannya, maka bersiaplah dia untuk ke neraka. (Kitab Ayyuhal Walad, hal 12).
Kendati catatan tidak mampu manusia ketahui, namun tanda-tanda daripada keduanya dapat tercermin dalam kepribadian; jika kebaikan seseorang lebih mengungguli maka tercermin darinya sifat dan kepribadian yang senantiasa beribdah dan menjauhi segala dosa, namun jika keburukan yang memungguli maka akan nampak sebaliknya. Dan semua itu bisa tercermin dalam usia 40 tahun. Mengapa? Karena usia inilah seseorang dikatakan mulai menua dalam masa tua.
Waktu yang diberikan oleh Allah Swt memang tidak diketahui batasanya, jika waktu ini telah habis maka cerita di kehidupan kita pun berakhir pula. Namun, sejatinya sebagai seorang hamba hendaklah mempergunakanya dengan sebagik mungkin, terlebih dalam memperbanyak ibadah dan amal saleh kepada sesama. Sebagaimana ditegaskan dalam Alquran:
وَٱلۡعَصۡرِ. إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ [العصر: 1-3]
Artinya: Demi masa. sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman yang berbuat amal saleh dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasehati dengan kesabaran. (QR. al-Asr: 1-3).


