JEMBER | nurulqarnain.net – Ribuan jamaah memadati ruang Auditorium KH. Yazid Karimullah Pondok Pesantren Nurul Qarnain Baletbaru Sukowono Jember pada Sabtu, 06 Juni 2026 untuk menghadiri acara Ngaji Bersama Nyai Hj. Noer Hannah Zamzami selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Baqoroh Lirboyo, Kediri.
Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri lebih dari dua ribu jamaah dari berbagai kalangan. Hadir dalam kesempatan itu keluarga Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, yakni Nyai Hj. Lailatul Qomariah, Nyai Hj. Nuriatul Isnaini, Nyai Hj. Zaitunah Yazid, Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I., M.Pd., dan Ning Ivvo Taffuz Sulha.
Turut hadir pula para pengasuh pondok pesantren di wilayah Jember dan sekitarnya, Nawaning dari berbagai pesantren, keluarga besar Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo), Fatayat, FOKSA Putri, jajaran dewan guru, Umana Ma’had, hingga seluruh santri putri Pondok Pesantren Nurul Qarnain.
Acara dibuka secara khidmat oleh master of ceremony (MC) dengan pembacaan surah Al-Fatihah. Setelah itu, prosesi pengalungan bunga menjadi pembuka penuh penghormatan kepada tamu kehormatan. Pengalungan bunga pertama diberikan oleh Nyai Hj. Lailatul Qomariah kepada Nyai Hj. Noer Hannah Zamzami, sedangkan pengalungan bunga kedua dilakukan oleh Nyai Hj. Nuriatul Isnaini kepada Ning Chalwa Qonita selaku zurriyah Pondok Pesantren Al-Baqoroh Lirboyo, Kediri.

Dalam sambutannya mewakili Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I., M.Pd., menyampaikan ucapan Ahlan wa Sahlan kepada Nyai Hj. Noer Hannah Zamzami beserta seluruh rombongan dari Pondok Pesantren Al-Baqoroh Lirboyo. Beliau berharap kehadiran rombongan membawa keberkahan dan doa terbaik bagi Pondok Pesantren Nurul Qarnain.
“Yang kami harapkan dari kehadiran panjenengan semua adalah doa barakah dari panjenengan semua untuk Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Semoga Nurul Qarnain menjadi pesantren yang barakah, menjadi pesantren yang diridai oleh Allah, menjadi pesantren yang terus bisa melahirkan generasi khairul ummah,” tutur beliau.
Ning Zulfa juga menegaskan bahwa salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah kesempatan untuk terus bergelut dengan ilmu. Menurutnya, ilmu tidak hanya diperoleh di bangku sekolah, kampus, atau pesantren, melainkan di setiap majelis ilmu yang menghadirkan keberkahan dan cahaya kehidupan.
“Al-‘Ilmu Nurun. Ilmu bagaikan cahaya. Ilmu itu bagaikan cahaya yang menerangi perjalanan hidup kita, baik di dunia dan menjadi bekal nanti ketika kita pulang ke akhirat,” tambahnya.
Memasuki acara inti, Nyai Hj. Noer Hannah Zamzami memulai tausiah dengan tawasul yang kemudian dilanjutkan pembacaan juz 30 atau Juz Amma bersama seluruh jamaah. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema memenuhi auditorium sebelum akhirnya ditutup dengan doa khatmil Qur’an.

“Majelis yang penuh berkah ini insya Allah akan menjadi semakin berkah karena di majelis ini tadi kita sudah memulainya dengan bacaan Al-Qur’an. Kita tahu bahwa setiap Al-Qur’an dibaca dan pada setiap khatam Al-Qur’an, maka 60.000 malaikat ikut mengaminkan doanya,” ungkap beliau mengawali tausiah.
Dalam ceramahnya, Nyai Hj. Noer Hannah memotivasi para santri agar terus bersemangat menjadi ahli ilmu dan menjaga kemuliaan sebagai pencari ilmu agama. Menurut beliau, santri yang belajar ilmu syariat merupakan orang-orang pilihan yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk memperoleh keselamatan.
“Maka untuk anak-anak yang berada di pesantren, lebih-lebih anak-anak yang belajar dengan ilmu syariat, berarti kalian sudah ditakdirkan oleh Allah, dipilih untuk menjadi orang-orang yang selamat. Karena dengan belajar ilmu agama, insya Allah kalian diselamatkan oleh Allah, diselamatkan dari fitnah dunia, dan diselamatkan dari siksa di akhirat,” imbuhnya.
Beliau juga menjelaskan tiga syarat utama keberhasilan dalam mengaji, yakni adanya sinergi antara guru, santri, dan orang tua. Ketiganya harus memiliki semangat dan kesungguhan yang sama dalam menuntut ilmu.

“Tiga komponen ini harus saling bekerja sama. Kalau kurang satu saja yang tidak bekerja sama, maka tidak bisa berhasil,” jelas beliau.
Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya niat dalam mencari ilmu, yakni untuk menggugurkan kewajiban, mengangkat derajat, menjaga diri, serta sebagai bekal ketika kembali kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan tersebut, Nyai Hj. Noer Hannah juga menyinggung tentang tirakat santri zaman sekarang. Dengan gaya penyampaian yang lugas namun penuh kelembutan, beliau menegaskan bahwa santri tidak perlu meniru tirakat berat sebagaimana dilakukan santri terdahulu.
“Santri sekarang tidak usah meniru tirakatnya santri zaman dulu. Cukup tekun belajar, taat kepada perintah guru, dan tidak melanggar aturan pesantren, itu sudah cukup,” tegas beliau.
“Karena percuma jika santri hanya tirakat berpuasa, tapi tidak belajar. Kalian ke sini kan untuk mencari ilmu, bukan mencari kesaktian,” tandasnya yang disambut senyum jamaah.
Suasana tausiah terasa semakin hidup karena diselingi senandung shalawat dan kasidah yang diiringi Grup Hadrah Isyfa’lana dari Pondok Pesantren Al-Baqoroh Lirboyo. Irama hadrah yang syahdu membuat jamaah tetap antusias mengikuti rangkaian acara hingga akhir tanpa kehilangan kekhidmatan majelis.

Kepada para santri penghafal Al-Qur’an, beliau memberikan apresiasi mendalam kepada siapa saja yang belajar, membaca, memahami, dan menghafalkan Al-Qur’an. Menurutnya, keberadaan para penjaga Al-Qur’an menjadi tanda bahwa rahmat Allah masih terus menaungi bumi.
“Selama masih ada yang mau membaca Al-Qur’an, dan menghafalkan Al-Qur’an, insya Allah kiamat mesti lama. Kenapa? Karena tanda-tanda kiamat itu di antaranya adalah apabila Al-Qur’an cuma banyak dicetak, tapi tidak ada yang mau baca,” terang beliau.
Menjelang akhir tausiah, Nyai Hj. Noer Hannah mengijazahkan amalan Shalawat Jibril kepada seluruh hadirin. Beliau menganjurkan agar shalawat tersebut dibaca setiap hari sebanyak 1.000 kali, dapat dicicil setelah salat, ditingkatkan menjadi 10.000 kali pada malam atau hari Jumat, dan 100.000 kali ketika berada di Tanah Suci.
Beliau menjelaskan bahwa fadilah Shalawat Jibril sangat besar, mulai dari memperoleh pahala dan syafaat Nabi Muhammad SAW, dikenal oleh Rasulullah SAW, dimudahkan rezeki, hingga dikabulkannya berbagai hajat kehidupan.
Acara Ngaji Bersama tersebut pun ditutup dengan doa bersama dalam suasana haru dan penuh kekhusyukan yang dipimpin oleh Nyai Hj. Noer Hannah. Ribuan jamaah meninggalkan auditorium dengan membawa semangat baru untuk terus menuntut ilmu, mencintai Al-Qur’an, serta menjaga adab dan keberkahan dalam kehidupan pesantren. (*)
——————————————
Pewarta: Fatna Harista
Editor: Fathorrozi


