Pesan Mendalam KH. Yazid Karimullah kepada Lulusan SMP dan SMK Nurul Qarnain: Ilmu Agama Bekal Hidup Dunia Akhirat

 

JEMBER | nurulqarnain.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, menyampaikan sejumlah pesan mendalam kepada para lulusan, wali santri, dan seluruh civitas pesantren dalam acara Purnawiyata Perdana SMP dan SMK Nurul Qarnain yang digelar di Auditorium KH. Yazid Karimullah, Selasa (09/06/2026).

Di hadapan ratusan hadirin, beliau menegaskan bahwa kelulusan dari jenjang SMP maupun SMK bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu, terutama ilmu agama yang menjadi bekal utama kehidupan manusia.

“Sekarang memang sudah selesai dan lulus di SMP atau SMK, tetapi belum sepenuhnya selesai mencari ilmu agama. Ilmu agama harus terus dipelajari karena inilah ilmu yang dibawa sepanjang hayat,” dawuh beliau.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan akademik harus berjalan beriringan dengan penguatan spiritual dan akhlak. Menurut beliau, ilmu diniyah merupakan fondasi utama yang akan menuntun manusia dalam menjalani kehidupan dunia sekaligus mempersiapkan bekal akhirat.

Dalam kesempatan itu, KH. Yazid Karimullah juga mengenang perjalanan panjang berdirinya Pondok Pesantren Nurul Qarnain sejak tahun 1968. Beliau menceritakan bagaimana pesantren dirintis dengan penuh keterbatasan, bahkan saat bangunan pesantren masih sederhana dan berdinding tabing atau anyaman bambu.

Di masa awal perjuangan tersebut, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan keputusan beliau untuk tetap memprioritaskan pendidikan diniyah.

“Saya pernah ditanya mengapa masih fokus pada diniyah? Saya jawab, bahwa ini sebagai langkah untuk tetap berpegang teguh kepada ajaran agama Allah,” tutur beliau.

Tidak hanya menghadapi keterbatasan fasilitas, pesantren juga pernah menjadi sasaran cibiran masyarakat. KH. Yazid Karimullah mengisahkan bahwa pada masa awal berdiri, pesantren sempat bernama Darul Ulum. Namun sebagian orang yang tidak menyukai keberadaan pesantren justru menyebutnya dengan istilah “Darul Fitnah”.

Meski demikian, beliau memilih tetap bersikap husnuzan dan terus melangkah dengan keyakinan serta doa.

“Alhamdulillah sekarang Nurul Qarnain berkembang dan menjadi pesantren yang penuh keberkahan,” kenangnya.

Menurut beliau, keberlangsungan dan perkembangan pesantren hingga usia 58 tahun bukan semata-mata karena kemampuan manusia, melainkan karena pertolongan Allah SWT serta doa-doa yang tidak pernah putus dipanjatkan.

KH. Yazid Karimullah juga menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak pernah berorientasi mencari banyak santri. Beliau berharap setiap orang tua menyerahkan anaknya ke pesantren dengan niat lillahi Ta’ala agar memperoleh keberkahan ilmu dan rida Allah SWT.

“Saya tidak pernah mencari santri. Saya ingin orang tua menyerahkan anaknya ke pesantren karena Allah. Kalau niatnya benar, insyaallah akan mendapat keberkahan,” ujarnya.

Selain itu, beliau turut pula menyoroti tantangan generasi muda di era digital, khususnya terkait penggunaan telepon genggam yang dinilai kerap menjadi sumber berbagai persoalan.

“Jangan sampai keluar dari pesantren hanya karena ingin bebas atau ingin memegang HP. HP itu jahat, dan bisa menjadi sumber masalah,” tegasnya.

Nasihat tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap para santri agar tetap menjaga fokus belajar, kedisiplinan, dan akhlak di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial.

Lebih lanjut, KH. Yazid Karimullah kembali menekankan pentingnya ilmu agama sebagai ilmu wajib bagi setiap muslim. Beliau bahkan mengenang dawuh ulama kharismatik Situbondo, KHR. As’ad Syamsul Arifin, yang pernah menyampaikan bahwa manusia harus memahami “ilmu hidup dan ilmu mati”.

“Karena itu ilmu agama harus menjadi prioritas,” ungkap beliau.

Pada kesempatan yang sama, beliau juga menyampaikan bahwa seluruh fasilitas yang kini dimiliki pesantren merupakan amanah yang dipersembahkan sepenuhnya untuk kemajuan pendidikan umat.

“Alhamdulillah, Allah memberikan kemampuan sehingga berdiri auditorium dan berbagai fasilitas lainnya. Seratus persen yang saya miliki saya serahkan untuk pesantren, bukan untuk keluarga dan anak-anak saya,” tutur beliau disambut haru para hadirin.

Menjelang akhir sambutannya, KH. Yazid Karimullah mengajak seluruh santri, alumni, wali santri, dan masyarakat untuk terus menjaga Pondok Pesantren Nurul Qarnain sebagai rumah bersama.

“Pesantren ini bukan milik saya, tetapi milik kita bersama. Mari kita jaga dan kita bantu bersama-sama,” ujarnya.

Beliau juga mengungkapkan doa-doa yang rutin dipanjatkan setiap selesai salat, khususnya selepas Magrib. Doa tersebut ditujukan bagi keluarga besar pesantren, alumni, wali santri, hingga seluruh pihak yang turut membantu perjuangan pesantren.

“Setiap hari saya berdoa agar Allah memberikan keberkahan dan keridaan-Nya kepada keluarga, alumni, pesantren, wali santri, dan semua orang yang mendukung pesantren ini,” tuturnya.

Menutup taujihat-nya, KH. Yazid Karimullah berharap seluruh lulusan SMP dan SMK Nurul Qarnain mampu menjadi generasi yang sukses, tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga di akhirat.

“Harapan saya sederhana, semoga semuanya bahagia dan sukses dunia akhirat,” pungkas beliau. (*)

————————————–

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *