Novel Sejarah Penakluk Badai: Menyelami Keteladanan KH. Hasyim Asy’ari di Tengah Perubahan Zaman

PUSTAKA | nurulqarnain.net – Sejarah tidak pernah hanya dibentuk oleh mereka yang memegang kekuasaan, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu memberi arah ketika zaman berada dalam ketidakpastian. KH. Hasyim Asy’ari yang dikenal sebagai pendiri NU adalah salah satu di antara tokoh yang meninggalkan jejak demikian.

Ulama yang lahir dari pesantren ini tidak berhenti pada pengajaran ilmu agama, tetapi menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk membangun pendidikan, menggerakkan kemandirian masyarakat, merawat persatuan umat, dan mempertahankan martabat bangsa. Sosok inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Aguk Irawan MN melalui Penakluk Badai, sebuah novel biografi yang mengajak pembaca menelusuri perjalanan KH. Hasyim Asy’ari di tengah pergulatan agama, masyarakat, kolonialisme, dan masa depan bangsa di tengah penjajahan.

Melalui novel biografi Penakluk Badai, Aguk Irawan MN berusaha menghadirkan kembali sosok KH. Hasyim Asy’ari dalam sebuah narasi yang tidak sekadar mengajak pembaca mengenal sejarah, tetapi juga melihat kembali makna perjuangan seorang ulama dalam menghadapi perubahan zaman.

Novel Penakluk Badai diterbitkan Republika Penerbit pada Agustus 2018 dengan ketebalan 562 halaman. Sebagai novel biografi, buku ini memiliki cara tersendiri dalam menghadirkan sejarah. Perjalanan KH. Hasyim Asy’ari tidak disusun semata-mata sebagai rangkaian kronologi, tetapi dihidupkan melalui konflik, dialog, pergulatan, serta berbagai persoalan yang mengiringi perjalanan hidupnya.

Pembaca kemudian diajak melihat bahwa perjalanan seorang ulama tidak selalu berlangsung dalam suasana yang tenang. Ada persoalan keluarga, masyarakat, penjajahan, dinamika politik, hingga perbedaan pandangan di kalangan umat Islam yang harus dihadapi. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang KH. Hasyim Asy’ari dalam membangun kehidupan keagamaan dan pendidikan.

Salah satu bagian yang menarik adalah kisah pendirian Pondok Pesantren Pesantren Tebuireng. KH. Hasyim Asy’ari memilih tempat yang pada masa itu dikenal sebagai lingkungan yang sarat perjudian, kemaksiatan, minuman keras, dan kriminalitas. Pilihan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Justru di tempat seperti itulah pendidikan dan dakwah dibutuhkan.

Pesantren kemudian tidak hanya menjadi tempat untuk pusat mempelajari agama, tetapi berkembang sebagai ruang transformasi sosial dan masa depan bangsa Indonesia. Kehadiran pendidikan di tengah masyarakat yang mengalami keterpurukan menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari tempat yang telah baik. Pendidikan justru dapat menjadi jalan untuk membangun perubahan dari kondisi yang sulit dan kecil.

Semangat pembaruan juga terlihat dalam gagasan KH. Hasyim Asy’ari mengenai pendidikan. Tradisi sorogan dan bandongan tetap dipertahankan, sementara metode musyawarah dan pembelajaran yang mendorong daya kritis juga mendapatkan ruang. Pendidikan umum mulai diperkenalkan dalam lingkungan madrasah. Dari sini terlihat bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu berarti menutup diri terhadap perubahan. Tradisi dapat terus hidup ketika mampu berdialog dengan kebutuhan zaman.

Dakwah KH. Hasyim Asy’ari dalam novel tersebut juga tidak berhenti pada persoalan pendidikan. Perhatian terhadap kehidupan ekonomi masyarakat turut menjadi bagian dari perjuangannya. Para santri didorong untuk bercocok tanam dan belajar bekerja secara mandiri. Gagasan mengenai koperasi juga menunjukkan perhatian terhadap kemandirian ekonomi masyarakat.

Agama dalam kerangka tersebut tidak hanya berbicara mengenai kesalehan individual, tetapi juga menyentuh persoalan kehidupan. Masyarakat membutuhkan ilmu, tetapi juga membutuhkan kemandirian agar dapat menjalani kehidupan secara bermartabat.

Pesan mengenai persatuan menjadi bagian lain yang cukup kuat. KH. Hasyim Asy’ari digambarkan sebagai ulama yang tidak membiarkan perbedaan keagamaan berkembang menjadi permusuhan. Hubungannya dengan KH. Ahmad Dahlan menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana perbedaan organisasi tidak harus menghilangkan persaudaraan.

Dalam kehidupan masyarakat yang sering kali mudah terjebak pada fanatisme kelompok, kisah tersebut memberikan gambaran bahwa perbedaan dapat tetap berada dalam ruang persaudaraan. Perbedaan pandangan tidak harus berakhir pada pertentangan yang menghilangkan rasa saling menghormati.

Buku ini juga membawa pembaca memasuki dinamika perjuangan bangsa. Relasi KH. Hasyim Asy’ari dengan sejumlah tokoh, pergulatan menghadapi Jepang, situasi menjelang kemerdekaan, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan memperlihatkan keterlibatan ulama dalam perjalanan sejarah Indonesia. Narasi mengenai Resolusi Jihad menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan hubungan antara kesadaran keagamaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Meskipun demikian, sebagai novel biografi, Penakluk Badai tetap perlu dibaca secara kritis. Kepadatan informasi sejarah pada beberapa bagian membuat unsur novelnya terkadang terasa berkurang. Pembaca juga perlu membedakan antara fakta sejarah, interpretasi pengarang, dan dramatisasi yang menjadi bagian dari karya sastra. Maka dari itu, buku ini dapat ditempatkan sebagai karya sastra sejarah sekaligus pintu masuk untuk mengenal lebih jauh perjalanan KH. Hasyim Asy’ari melalui sumber-sumber sejarah lainnya.

Penakluk Badai tidak hanya mengajak pembaca mengenal perjalanan hidup sosok KH. Hasyim Asy’ari, tetapi juga mengingatkan kembali nilai-nilai yang semestinya terus dirawat oleh generasi pesantren. Dari sosoknya, kita belajar bahwa keluasan ilmu harus berjalan bersama keteguhan sikap, bahwa pesantren tidak boleh tercerabut dari persoalan masyarakat, dan bahwa kecintaan kepada agama dapat berjalan seiring dengan kecintaan kepada bangsa.

Untuk kalangan Nahdliyin dan kader NU, terlebih para santri, buku ini layak dibaca sebagai pintu untuk mengenali kembali jejak perjuangan salah satu muassis Nahdlatul Ulama sekaligus bercermin pada cara beliau menghadapi perbedaan, membangun pendidikan, menguatkan kemandirian umat, dan menjaga persatuan. Sebab menjadi santri bukan sekadar mewarisi ilmu dan tradisi di pesantrennya, melainkan juga meneruskan semangat perjuangan yang membuat tradisi itu tetap hidup dan bermakna di tengah masyarakat pada setiap zaman.

Badai selalu datang dalam setiap zaman. Namun, perjalanan KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana dihadirkan Aguk Irawan MN dalam Penakluk Badai menunjukkan bahwa menghadapi badai bukan semata-mata tentang bagaimana menghindarinya. Lebih dari itu, bagaimana seseorang tetap berdiri tegak, mempertahankan prinsip, mengembangkan ilmu, dan terus memberikan manfaat ketika badai datang. Di titik itulah keteladanan Hadrastus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menemukan ruangnya untuk terus dibaca dan direnungkan hingga hari ini. (*)

——————————————–

Peresensi: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *