Peran Pesantren dan Informasi dalam Menata Arah Santri di Abad ke-II Nahdlatul Ulama

OPINI_nurulqarnain.net – Memasuki abad ke-II Nahdlatul Ulama, pesantren berada pada titik persimpangan sejarah yang menentukan. Dunia bergerak dengan kecepatan informasi yang nyaris tanpa batas, sementara pesantren memikul amanah lama yang tidak boleh pudar, yakni menjaga kesinambungan ruhani, adab, dan sanad keulamaan.

Dua pernyataan Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, baik dalam taujihat pada Tasyakuran 100 Tahun Masehi NU maupun dalam wawancara di kediaman KH. Yazid Karimullah, memberikan arah yang jelas tentang bagaimana pesantren seharusnya menapaki abad ke-II ini. Pesan beliau sederhana namun mendalam, penguasaan informasi harus berjalan seiring dengan pemeliharaan ruhani.

Pesantren sejak awal tidak dibangun hanya sebagai gudang pengetahuan, namun pesantren adalah ruang pembentukan manusia. Ilmu yang diajarkan tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu disertai adab, disambungkan melalui sanad, dan dikuatkan dengan latihan ruhani. Karena itu NU berdiri sebagai jam’iyah ulama, sebuah perhimpunan yang menjaga martabat keulamaan bukan hanya melalui keluasan ilmu, tetapi juga melalui kematangan batin. Santri dalam tradisi ini bukan sekadar pencari informasi, melainkan calon umana Allah yang memikul amanah kenabian untuk menjaga arah umat.

Namun, realitas abad ke-II NU menghadirkan tantangan yang sama sekali berbeda. Akses terhadap informasi kini tidak terbatas dan tidak terhingga. Kitab-kitab klasik dapat dibaca melalui layar gawai, ceramah ulama lintas mazhab hadir setiap saat, dan perdebatan keagamaan berlangsung tanpa jeda. Kondisi ini membuka peluang besar, tetapi juga menyimpan risiko. Informasi yang melimpah sering kali tidak diiringi proses pemaknaan dan pendalaman adab. Ilmu mudah terlepas dari sanad, dan nalar cepat mengalahkan kebijaksanaan. Ketika ilmu tidak disertai pembentukan batin, ia kehilangan daya irsyad dan mudah berubah menjadi alat pembenaran ego.

Di sinilah nasihat Gus Yahya menjadi sangat relevan. Tantangan terbesar bukan lagi soal memperoleh ilmu, melainkan menjaga tradisi kekuatan ruhani yang diwariskan para ulama. Tradisi ruhani bukan sekadar ritual, tetapi fondasi agar santri memiliki kejernihan hati dalam menghadapi derasnya arus informasi. Riyadah, wirid, khidmah kepada kiai, dan disiplin adab adalah inti pendidikan pesantren. Tanpa fondasi ini, santri mungkin unggul secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan spiritual.

Kegelisahan lain yang patut dicermati adalah perubahan watak pesantren itu sendiri. Sistem pendidikan yang semakin formal dan terstruktur memang membawa efisiensi, namun juga berpotensi mengurangi kedalaman relasi kiai dan santri. Pada masa awal NU, standar keulamaan dijaga sangat ketat. Ulama diposisikan pada maqam yang luhur karena matang secara ilmu, adab, dan ruhani. Pertanyaan mendasarnya kini adalah dari puluhan ribu pesantren yang berafiliasi kepada NU, berapa pesantren yang benar-benar menyiapkan santri untuk menjadi ulama, bukan sekadar lulusan.

Jawaban atas kegelisahan ini harus diwujudkan dalam ikhtiar nyata. Salah satu ikhtiar yang ditekankan Gus Yahya adalah penguatan Ma’had Aly, termasuk Ma’had Aly Nurul Qarnain yang bertakhassus pada Fiqh Siyasah. Spesialisasi ini bukan hanya penguatan akademik, tetapi juga upaya menjaga mata rantai keulamaan agar tetap relevan dengan tantangan zaman. Fiqh Siyasah menuntut keluasan ilmu dan kecermatan membaca realitas sosial, namun tetap berpijak pada kedalaman ruhani agar hukum tidak kehilangan orientasi kemaslahatan.

Khidmah kemudian menjadi ukuran paling konkret dari keberhasilan pendidikan pesantren. Berkhidmah bukan hanya aktivitas sosial, melainkan sikap batin untuk hadir di tengah umat. Gus Yahya menegaskan bahwa syarat utama khidmah adalah kehadiran hati. Santri dan kader NU tidak boleh menjauh dari denyut kehidupan masyarakat. Mereka harus hadir di ruang-ruang nyata, mendampingi umat, dan merespons persoalan dengan kebijaksanaan. Tanpa khidmah, ilmu akan mengering dan pesantren berisiko kehilangan relevansi sosialnya.

Pada saat yang sama, santri dituntut mampu mengikuti kemajuan zaman tanpa kehilangan jati diri kesantriannya. Adaptif tidak berarti larut, dan modern tidak identik dengan meninggalkan tradisi. Tantangan abad kedua NU justru terletak pada kemampuan melahirkan santri yang menguasai teknologi dan informasi modern, namun tetap berpijak pada adab, sanad, dan ruhani. Santri semacam inilah yang dapat menjadi jembatan antara tradisi dan perubahan.

Kesan Gus Yahya terhadap Pondok Pesantren Nurul Qarnain sebagai pesantren yang mandiri memberikan catatan penting. Kemandirian pesantren bukan tujuan akhir, tetapi sarana agar pesantren leluasa menjaga ruh pendidikannya. Pesantren yang mandiri secara visi dan tata kelola lebih mampu setia pada misi utama, yakni membentuk manusia berilmu, beradab, dan berjiwa khidmah. Upaya menjadikan pesantren mandiri sebagai model yang dapat dicontoh oleh pesantren lain adalah langkah strategis untuk menjaga marwah pesantren di tengah tekanan pragmatisme.

Akhirnya, sebagai kata penutup, bahwa masa depan NU tidak ditentukan oleh seberapa cepat santrinya mengakses informasi, tetapi oleh seberapa dalam ruhani mereka ditempa. Abad ke-II NU menuntut santri yang luas pengetahuannya, namun rendah hatinya, tajam analisisnya, tetapi lembut sikapnya. Dari santri seperti inilah ilmu menemukan kembali keberkahannya, khidmah menemukan maknanya, dan pesantren tetap berdiri sebagai penunjuk arah bagi umat dan bangsa. (*)

—————————————

Penulis: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *