Gus Yahya Usulkan Nurul Qarnain Sebagai Rujukan Model Kemandirian Pesantren kepada Ketua RMI PBNU

JEMBER_nurulqarnain.net – Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa tantangan terbesar pesantren dan santri pada abad kedua Nahdlatul Ulama adalah penguasaan informasi yang tidak lagi terbatas, namun kerap tidak diimbangi dengan kedalaman kapasitas pribadi dan kekuatan ruhani. Pesan ini disampaikan Gus Yahya dalam wawancara di kediaman KH. Yazid Karimullah, Ahad (1/2/2026).

Menurut Gus Yahya, di era akses informasi yang nyaris tak terbatas, tantangan utama bukan lagi soal memperoleh pengetahuan, melainkan menjaga tradisi kekuatan ruhani yang diwariskan para ulama. Tradisi itulah yang menjadi fondasi khidmah dan jalan untuk terus menyambung barakah para masyayikh.

“Informasi sekarang bisa disimpan dan diakses tanpa batas. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita menjaga tradisi kekuatan ruhani yang diwariskan ulama. Kalau tradisi ruhani ini terjaga, maka kita mampu berkhidmah dan melanjutkan mencari barakah para masyayikh,” ungkap beliau.

Gus Yahya menekankan bahwa khidmah harus semakin nyata. Menurutnya, syarat utama khidmah adalah kehadiran hati. Santri dan kader NU tidak boleh menjauh dari denyut kehidupan umat, tetapi harus hadir di tengah masyarakat, berada dekat dengan persoalan yang sedang terjadi.

“Kita harus berkhidmah. Syarat utamanya hati. Kalau ingin berkhidmah, hati kita harus hadir. Kita tidak boleh jauh dari hajat kejadian itu. Santri Nurul Qarnain dan kader NU harus bisa hadir di tengah masyarakat,” tegas Gus Yahya.

Beliau juga menyoroti pentingnya membentuk santri yang kuat dalam adab dan ilmu, serta mampu mengikuti kemajuan zaman tanpa kehilangan jati diri kesantrian. Dalam konteks ini, Gus Yahya mengingatkan pesan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tentang ulama yang ilmunya bersanad muttashil. Sanad, menurutnya, bukan sekadar penanda keabsahan keilmuan, tetapi juga jalur transmisi adab dan ruhani.

Pendidikan ruhani yang ditanamkan oleh Syaikhul Ma’had, KH. Yazid Karimullah, dinilai Gus Yahya sebagai bagian penting dari proses tersebut. Santri dituntut terus menguasai berbagai cabang ilmu, namun tetap menjaga sunah ruhaniyah agar ilmu tidak tercerabut dari akarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya menyampaikan kesan mendalam terhadap Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Beliau menyebut pesantren tersebut sebagai contoh pesantren mandiri yang dibangun dengan kesungguhan dan visi kuat dari pengasuh.

“Ini pesantren yang luar biasa, pesantren yang mandiri. Kiai Yazid mengupayakan kemandirian itu dengan sungguh-sungguh. Saya sudah berkeliling bersama Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan menemukan beberapa pesantren mandiri seperti Nurul Qarnain ini,” tutur beliau.

Gus Yahya bahkan mengusulkan agar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) menyusun tawaran dan model kemandirian pesantren yang bisa direplikasi. Gus Yahya berharap akan ada studi khusus dari RMI tentang Pondok Pesantren Nurul Qarnain untuk kemudian diangkat sebagai rujukan bagi pesantren lain.

“Saya sampaikan kepada Ketua RMI, KH. Hodri Arief, agar ada kajian serius tentang pesantren-pesantren mandiri. Nurul Qarnain ini layak diangkat menjadi model yang bisa dicontoh,” pungkas beliau. (*)

—————————————

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *