
Ketua Majelis Masyayikh, KH Abdul Ghaffar Rozin, atau yang akrab disapa Gus Rozin dalam sambutannya menekankan pentingnya penjaminan mutu untuk meningkatkan daya saing pendidikan pesantren. “Penjaminan mutu adalah langkah konkret untuk memastikan pendidikan pesantren mampu bersaing sekaligus mempertahankan kemandirian dan kekhasannya,” ujar Gus Rozin.
Gus Rozin juga menjelaskan bahwa program ini tidak bertujuan menyeragamkan pesantren, namun hal ini dilakukan untuk menjamin mutu pendidikan pesantren sekaligus menjawab spekulasi yang menjadi kekhawatiran dari banyak pondok pesantren terhadap keformalan pendidikan pesantren. “Penjaminan mutu ini tidak bertujuan untuk menyeragamkan pesantren atau menjadikan satu bentuk tunggal kurikulum, tetapi untuk menetapkan batasan bawah yang memungkinkan terciptanya ekosistem pendidikan pesantren yang tetap mempertahankan ciri khasnya,” tambahnya.
Bimtek ini membahas dua topik utama, yakni Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). SPMI dikelola oleh Dewan Masyayikh di masing-masing pesantren untuk memastikan bahwa kualitas pendidikan secara internal terus terpantau dan ditingkatkan. SPME dilakukan oleh Majelis Masyayikh melalui asesmen eksternal, bertujuan mengevaluasi mutu pendidikan di satuan pendidikan pesantren secara keseluruhan.

Peserta Bimtek dilatih untuk memahami dan mengimplementasikan dokumen Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Muadalah Salafiyah. Dokumen ini dirancang agar dapat diterapkan di berbagai lembaga pendidikan pesantren, memberikan panduan untuk mencapai standar pendidikan yang berkualitas.
Keikutsertaan Pondok Pesantren Nurul Qarnain dalam Bimtek ini menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan berbasis pesantren. Dengan mengikuti pelatihan ini, Pondok Pesantren Nurul Qarnain diharapkan dapat menerapkan standar penjaminan mutu yang selaras dengan visi besar pesantren untuk mencetak generasi berkarakter unggul tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kepesantrenannya.


