Selain dihadiri oleh Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, agenda rutinan ini juga dihadiri oleh lebih dari 200 alumni yang berdomisili di kabupaten Bondowoso dan Jember.
Bacaan Tawasul dan Ratib al-Haddad dimulai pada pukul 08.30 WIB yang dipimpin oleh KH. Fawaid Yazid, S.Ag., selaku Wakil Pengasuh Bidang Kepesantrenan, kemudian dilanjutkan dengan Shalawat Nabi fi Mahalli al-Qiyam.

Usai pembacaan Ratib al-Haddad, Ustaz H. Nurul Bari sebagai Ketua Pusat ISNUQ yang sekaligus bertindak menjadi pembawa acara pada kegiatan tersebut, mempersilakan KH. Badrut Tamam, M.H.I., untuk menyampaikan kajian kitab Nuzhatu at-Thalib fi Raudhati ar-Ratib.
Pada kesempatan itu, beliau menjelaskan isi kitab tersebut pada halaman 7 yang membahas terkait awrad wa rawatib masyhurah (wirid-wirid dan susunan puji-pujian yang populer).
“Ratib itu banyak sekali. Ada Ratib al-‘Atthas yang ditulis pada tahun 1659. Ada pula Ratib As-Syadzili. Ada juga Ratib ar-Rifa’i. Banyak sekali, baik sebelum lahirnya Ratib al-Haddad maupun sesudahnya, namun di antara ratib-ratib yang ada di dunia ini, yang paling populer adalah Ratib al-Haddad,” tutur beliau.
Beliau menjelaskan, semula ratib-ratib itu tidak ada namanya. Tetapi, untuk lebih mengenal dan membedakan antara sekian banyak bacaan ratib, lalu ratib-ratib tersebut dinisbatkan (disandarkan) kepada penulisnya.
“Semua ratib-ratib yang ada, pada awalnya tidak ada nama. Hanya ratib-ratib saja. Lalu pada perkembangan selanjutnya, ratib itu dinisbatkan kepada penulisnya. Seperti Ratib al-Haddad karena penulisnya adalah Syeikh Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad. Ratib ar-Rifa’i juga demikian, nama tersebut sebab disandarkan kepada penulisnya,” imbuh beliau.
Lebih lanjut, Wakil Pengasuh Bidang Pendidikan ini juga menguraikan perihal tahun penulisan Ratib al-Haddad.
“Ratib al-Haddad ini ditulis antara tahun 1660 sampai 1670. Para pakar tidak sepakat di dalam penulisan tahunnya, namun mereka sepakat bahwa bulan penulisan ratib ini pada bulan Ramadan. Cuma yang mendekati kebenaran, yaitu pada tahun 1661,” sambung beliau.
Ratib al-Haddad memang menjadi amalan atau wirid yang sering didawamkan di kalangan santri maupun alumni Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Maka, tak heran jika dalam setiap kegiatan alumni tidak pernah alpa dari bacaan sarat fadilah ini.
Setelah lantunan doa yang dipimpin oleh Gus Tamam (sapaan KH. Badrut Tamam, M.H.I.), Ketua ISNUQ Pusat memberitahukan kepada segenap alumni terkait jadwal kegiatan rutin selanjutnya. Disampaikan bahwa, tiga bulan mendatang pertemuan rutin ISNUQ bertempat di kecamatan Mumbulsari pada hari Minggu, 24 Agustus 2025. (*)
————————————
Pewarta: Fathorrozi


