di matamu hujan turun # rinai seringai pilu mengalun
bunting padi menyapa petir # darah bencana belum berakhir
di bilik jalan tatap ribuan mata # ringkih tiang jadi saksi nyata
deras lisanmu mendadak diam # nanar matamu melesat tajam
kerlip terang jalanan kunang-kunang # bukti bisu kita menyulam kenang
aku terjaga dari mimpi # menyeka air matamu di pipi
tangis konde dalam semesta rambut # menikam hati pertiwi yang lembut
binar di matamu kini pelangi # kembang di dadamu juga mewangi
malaikat riang hampar sayap # ruhmu dari hadapanku melesap
ledokombo, akhir tahun 2022
DALAM DEKAPAN IBU
lesap barisan gulana risauku # jika kau dekap kepalaku
tenang yang kurasa # teduh bertumpang sentosa
di dadamu kutemukan surga # mata air pelenyap dahaga
duri mawar yang menusuk # tiba lenyap layu membusuk
aku datang tanganmu membentang # sungguh kudapati seribu bintang
erat kau dekap # damai kutangkap
jangan beranjak, ibu # dekapmu impian kalbu
qarnul islam, desember 2022
JANGAN MENANGIS LAGI, IBU
kalut kemelut aku ditinggal senyummu
senyum mawar yang ditebar setiap pagi
sekerat gundah memangkas tuntas riang
hingga memuramkan lampu-lampu kehidupan
mengeringkan sumber mata air harapan
memadamkan cahaya bulan di malam kelima belas
setiaku bersama ibu
hidupku untuk ibu
matiku kenang ibu
jangan lagi ada tetes air mata
agar terangku tak lagi gulita
agar sesatku temukan pelita
baiti jannati, akhir tahun 2022
BIDADARI BERBAJU PUTIH ITU IBUKU
langit muram
mendung mengendap
daun-daun rontok
permadani dibentang
ibu dijemput bidadari
melati dikalungkan
mukena putih dikenakan
ibu terbang melesat
seutas senyum semburat ucap
“kunanti di telaga terindah”
tangannya melambai
rumah idaman, penghujung tahun 2022


