Resensi Negeri 5 Menara: Menjadi Santri yang Berani Bermimpi Seperti Menara

PUSTAKA | nurulqarnain.net – Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi pertama kali dibaca pada tahun 2017. Saat itu, baru memasuki tahun pertama sebagai santri di Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Buku ini diperoleh dari seorang teman yang saya beli tepat di hari Jumat di teras masjid depan asrama. Tak menyangka akan memberikan kesan yang begitu panjang, lembar demi lembar mulai dibuka hingga akhirnya novel tersebut selesai dalam sehari semalam. Dari situlah kisah Negeri 5 Menara tidak sekadar menjadi sebuah bacaan, tetapi turut mewarnai perjalanan sebagai seorang santri.

Entah karena ceritanya yang menarik atau karena saat itu saya sedang berada dalam fase kehidupan yang hampir sama dengan tokoh di dalamnya, buku setebal ratusan halaman itu saya selesaikan dalam sehari semalam. Ada sesuatu yang membuat saya terus ingin membuka halaman berikutnya.

Negeri 5 Menara bercerita tentang Alif, seorang anak dari Minangkabau yang harus meninggalkan kampung halaman untuk belajar di Pondok Madani. Pada awalnya, pesantren bukanlah pilihan yang benar-benar ia inginkan. Ia memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah umum dan membayangkan masa depan di luar lingkungan pesantren. Namun, perjalanan di Pondok Madani justru mempertemukannya dengan dunia yang lebih luas.

Di pesantren, Alif bertemu dengan Raja, Said, Dulmajid, Atang, dan Baso. Mereka kemudian menjadi sahabat yang dikenal sebagai Sahibul Menara. Di bawah menara masjid, mereka sering memandang awan sambil membayangkan negeri-negeri yang ingin mereka kunjungi. Dari tempat yang sederhana itu, mereka belajar bahwa mimpi tidak harus lahir dari tempat yang besar.

Salah satu hal yang paling membekas dari novel ini adalah semangat “man jadda wajada” siapa yang bersungguh-sungguh akan memperoleh hasil. Kalimat sederhana tersebut terasa memiliki makna yang berbeda ketika dibaca oleh seorang santri yang sedang menjalani kehidupan pesantren dengan berbagai rasa berat dan cobaannya. Ia bukan sekadar semboyan yang dihafalkan, melainkan pengingat bahwa keterbatasan tempat, keadaan, dan latar belakang bukan alasan untuk berhenti belajar dan mengejar cita-cita.

Negeri 5 Menara perlahan mengubah cara pandang terhadap dunia pesantren. Menjadi santri bukanlah sebuah keterbatasan, apalagi sesuatu yang perlu disembunyikan. Pesantren justru dapat menjadi ruang untuk tumbuh, belajar, dan mengenal dunia dengan lebih luas. Di dalamnya, seseorang tidak hanya belajar agama, tetapi juga bahasa, kedisiplinan, persahabatan, membaca, serta keberanian untuk bermimpi dan mengenal kehidupan di luar batas-batas pesantren.

Kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan yang besar melalui cerita yang ringan. Ahmad Fuadi berhasil mempertemukan kehidupan pesantren dengan mimpi tentang dunia yang begitu luas. Tokoh-tokohnya hadir dengan karakter, latar belakang, dan cita-cita yang berbeda, sehingga persahabatan mereka terasa hidup dan dekat dengan pembaca. Lebih dari sekadar kisah tentang enam sahabat, novel ini seperti mengingatkan bahwa sebuah mimpi sering kali bermula dari tempat yang sederhana, bahkan dari sekadar memandang awan di bawah sebuah menara.

Negeri 5 Menara tidak sekadar menjadi novel yang pernah saya baca pada tahun pertama menjadi santri. Ia menjadi salah satu buku yang perlahan menanamkan sebuah keyakinan, bahwa menjadi santri dan memiliki mimpi besar bukanlah dua hal yang bertentangan. Kisah Alif bersama para sahabatnya 5 menara menunjukkan bahwa mimpi yang pernah dilukiskan dari bawah menara pada akhirnya dapat menemukan jalannya masing-masing. Mereka berangkat dari pesantren dengan latar dan cita-cita yang berbeda, lalu membuktikan bahwa kesungguhan dapat membawa seseorang melampaui batas-batas yang pernah dibayangkan.

Bermula dari sebuah kamar sederhana di pesantren, kisah anak-anak yang memandang dunia dari bawah sebuah menara terasa begitu dekat. Ada pelajaran penting di sana, yakni mimpi tidak mengenal batas tempat seseorang dilahirkan ataupun di mana ia menuntut ilmu. Dunia memang luas, tetapi untuk mengenalnya dibutuhkan keberanian untuk terus belajar, membaca, dan membuka cakrawala.

Mungkin, tanpa disadari ketika pertama kali membacanya pada 2017, novel ini ikut menumbuhkan rasa bangga menjadi santri sekaligus dorongan untuk terus membaca dan mengenal dunia lebih jauh. Sebuah buku telah selesai dibaca dalam sehari semalam, tetapi semangat yang ditinggalkannya ternyata jauh lebih panjang dari itu. (*)

Identitas Buku

Judul: Negeri 5 Menara
Penulis: Ahmad Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2009
Tebal: 423 halaman
ISBN: 978-979-22-4861-6

—————————————-

Peresensi: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *