Resmikan INSYAKA, Pengasuh Nurul Qarnain Tekankan Semangat Istikamah dan Urai Ruh Pengabdian

JEMBER_nurulqarnain.net – Rangkaian acara Launching Institut KH Yazid Karimullah di Pondok Pesantren Nurul Qarnain Sukowono Jember ditutup dengan mauizah hasanah dari KH. Yazid Karimullah.

Dalam pesan spiritualnya, beliau menekankan bahwa capaian besar yang diraih pesantren dan institut hari ini semata-mata adalah karunia Allah SWT, bukan hasil kehebatan manusia.

Kiai Yazid menuturkan bahwa dirinya telah menyampaikan pesan keagamaan pada momentum ni’matul ‘udzma sebelumnya. Namun, kehadiran tamu dan perhatian banyak pihak terhadap Nurul Qarnain, kembali beliau maknai sebagai nikmat besar dari Allah.

“Dari sekolah tinggi menjadi institut, itu adalah rahmat Allah,” ungkap beliau seraya menyampaikan harapan agar ke depan Nurul Qarnain memiliki program S2.

“Ada yang heran dan bertanya, ‘kok ada pesantren seperti ini di pelosok?’ Saya jawab, ‘semua itu dari Allah’,” tambah beliau.

Lebih lanjut, beliau mengenang awal merintis pesantren pada tahun 1968 yang hanya bermodal lahan sekitar 40 meter persegi di halaman masjid tanpa dukungan materi. Saat ditanya kunci keberhasilan, beliau menyebut amalan yang diwarisi dari Hadratussyaikh KHR. As’ad Syamsul Arifin telah beliau jalankan dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk ikhtiar batin.

Dalam mauizahnya, Kiai Yazid menegaskan bahwa karamah tertinggi adalah istikamah, sebagaimana yang telah diajarkan oleh para ulama, termasuk Imam al-Ghazali.

“Allah menciptakan langit dan bumi dalam rentang waktu tertentu, untuk mengajarkan manusia berjalan setapak demi setapak, agar tidak tamak dan tergesa-gesa,” tegas beliau.

“Menurut kebanyakan ulama tafsir, maknanya adalah untuk mengajarkan manusia agar berproses dengan istikamah. Karena kalau tidak istikamah, maka akan jatuh pada kegagalan,” pesan beliau.

Pengasuh juga mewariskan nilai pengabdian kepada para pengelola dan pendidik. Mengajar, menurutnya, tidak boleh diniatkan sekadar mencari makan, karena jika diniatkan demikian akan merugi. Beliau justru menekankan pengabdian sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu yang dibawa oleh Rasulullah.

“Sukses itu karena ‘menghamba’. Nabi Muhammad sukses karena ‘menghamba’ seperti dalam al-Qur’an surah al-Isra’ ayat pertama. Bahkan, Bukit Tursina juga dipilih oleh Allah sebagai tempat bersemayam Nabi Musa, karena ‘menghamba’ dan tidak sombong,” tutur beliau.

Pada kesempatan berbahagia tersebut, pengasuh juga menegaskan terkait keikhlasan dan infak.

“Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal, sekecil apa pun itu. Maka, berinfaklah! Kalau ada orang jatuh miskin sebab berinfak, maka saya yang terlebih dulu miskin,” pungkas beliau. (*)

———————————-

Juru Berita: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *