Setelah prosesi administrasi penerimaan santri baru selesai, para wali santri lebih dulu sowan serta mendapatkan tanda tangan rekomendasi masuk dari pengasuh. Tidak sekadar itu, mereka juga mengantongi tausiah langsung dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah di Aula Nyai Hj. Halimatuz Zakiyah.
Dalam penuturannya, beliau menegaskan bahwa mondok tidak bisa hanya sebentar. Ada proses panjang yang harus dijalani agar anak benar-benar mendapat ilmu dan akhlak.
“Minimal mondok itu enam tahun. Biar bisa ngaji dan bisa baca kitab. Kalau baru tiga tahun sudah dipamitkan pulang, jangankan jadi ustaz, jadi pemimpin tahlil saja belum tahu caranya,” tutur beliau memberi perumpamaan.
Kiai Yazid lalu mengibaratkan proses pendidikan santri seperti menjahit pakaian. Bila kain belum lengkap, tapi terburu dijemput, maka hasilnya tak akan sempurna.

“Sama seperti sampean ngantarkan kain ke saya untuk dijahit. Masih kurang lengannya, kok sudah dijemput. Kan belum selesai. Akhirnya tidak bisa dipakai,” dawuh beliau, disambut senyum para wali santri.
Dalam tausiah singkat namun penuh makna itu, Kiai Yazid juga mengingatkan bahwa anak yang dimondokkan adalah amanah dari Allah. Maka, orang tua yang mengantarkan ke pondok, telah memilih jalan yang benar.
“Kalian sudah benar, mengantarkan anak ke pesantren dengan harapan jadi anak saleh dan salihah. Semoga harapan itu dikabulkan oleh Allah,” ucap beliau dengan nada teduh.
Setelah mendengarkan nasihat, para wali santri diarahkan untuk memohon tanda tangan surat pernyataan kepada Wakil Pengasuh Bidang Kepesantrenan. Usai itu, mereka bersama putranya diajak ziarah ke makbarah pendiri pondok, sebagai bentuk tawasul dan permohonan keberkahan dalam perjalanan menuntut ilmu yang dilanjutkan dengan penempatan asrama.
Hingga sore itu, aktivitas pemondokan santri baru masih terhitung ramai, baik di asrama putra maupun asrama putri. Hari pertama sebagai santri dimulai dengan langkah penuh doa dan niat yang tulus. (*)
————————————–
Pewarta: Wildan Ms.
Editor: Fathorrozi


