Acara pembukaan berlangsung khidmat pada malam pertama dan dibuka langsung oleh Pengasuh Dayah MUDI Mesjid Raya, Abu Syekh H. Hasanoel Bashry. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Kakanwil Kemenag Aceh, anggota Komisi A DPRD Aceh, dan jajaran majelis keluarga Dayah MUDI Mesjid Raya.
Pada hari kedua, setelah sarapan pagi, sesi penandatanganan Pakta Integritas bagi pesantren penerima SK Izin Operasional Pendidikan Muadalah. Sebanyak 70 pesantren dari berbagai wilayah Aceh resmi mendapatkan SK tersebut, angka ini merupakan yang terbanyak di seluruh Indonesia.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan tentang tantangan dan peluang Pendidikan Muadalah Salafiyah di masa depan. Dalam sesi ini, Sekretaris Jenderal FKPM, KH. Lukman Haris Dimyati, menegaskan pentingnya mempertahankan karakteristik dan identitas pesantren.
“Bagi Pesantren Muadalah Salafiyah, pendidikan kitab kuning adalah harga mati. Itu yang membedakan kita,” tegasnya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Kasubdit Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF), Bapak Endi Suhendi. Beliau memberikan pemaparan tentang Pendidikan Muadalah sekaligus membuka ruang diskusi bagi para peserta. Diskusi berlangsung interaktif, mengingat beliau adalah pejabat baru di subdirektorat tersebut yang ingin mendengar langsung masukan dari para peserta.
Setelah makan siang, sesi ketiga membahas Dana Abadi Pesantren dan sosialisasi program beasiswa bagi asatiz dan santri muadalah. Sesi ini dipandu oleh Dr. Mahrus, Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly, yang memberikan panduan strategis terkait peluang pendanaan dan pengembangan sumber daya pesantren.

Pada hari terakhir, agenda diisi dengan evaluasi internal oleh Koordinator FKPM Salafiyah, KH. Ahmad Taufiq. Beliau memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi serta merancang rencana strategis ke depan. Dalam evaluasi tersebut, beliau menekankan pentingnya memperluas sosialisasi Pendidikan Muadalah Salafiyah agar lebih dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyak bermunculan pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan muadalah, khususnya yang salafiyah. Sebagai hasil dari Silatnas ini, tersusun Risalah Aceh, sebuah dokumen penting berisi sikap dan rekomendasi FKPM terhadap berbagai isu yang sedang berkembang.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Aba H. Sayed Mahyiddin dari Majelis Keluarga Dayah MUDI Mesjid Raya. Silaturahim Nasional ini diharapkan menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar-pesantren serta memperkuat peran Pendidikan Muadalah Salafiyah dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. (*)
——————————
Juru berita: Muhammad Muslim
Editor: Fathorrozi


