Peristiwa pertama adalah wafatnya Abu Thalib, seorang paman yang sangat dicintai, paman yang selama bertahun-tahun merawatnya. Sejak beliau berusia delapan tahun sampai diantar ke gerbang kebahagiaan ketika ia menikah dengan Khadijah dalam usia 25 tahun.
Peristiwa kedua adalah wafatnya Sayyidah Khadijah, istri yang sangat beliau cintai dan ia pun sangat mencintainya. Istri yang senantiasa mendampinginya selama bertahun-tahun dalam segala suka dan duka. Khadijah adalah wanita bangsawan Quraisy yang memiliki sifat keibuan yang luhur. Ia selalu berusaha membahagiakan Nabi dalam segala kehidupannya dan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.
Mengenai Khadijah yang kedudukannya tidak bisa digeser siapapun di samping Nabi, beliau mengatakan: “Allah tidak menggantikan untukku seorang yang lebih baik dari Khadijah. Ia seorang wanita yang pertama kali beriman kepadaku, pada saat orang lain mendustakanku. Ia yang senantiasa mencintaiku tatkala banyak orang membenciku. Ia korbankan harta kekayaannya dalam rangka membela agama.”
Sepeninggal keduanya, terus-menerus beliau menghadapi penghinaan dari kaumnya, sehingga beliau pernah dilempari dengan tanah yang kotor, sampai mengenai seluruh kepalanya. Bekas tanah yang masih menempel di kepala beliau itu, dibersihkan oleh Fatimah, putri yang sangat beliau cintai. Ia membersihkannya sambil menangis, mengucurkan air mata, tanda kesedihan yang sangat mendalam. Tak ada yang lebih sakit rasanya dalam kalbu seorang ayah daripada mendengar isak tangis anaknya, lebih-lebih yang meneteskan air mata adalah anak perempuan. Setetes air mata kesedihan yang menitik dari kelopak mata seorang putri adalah sepercik api yang membakar hati.
Sejatinya, jauh sebelum Isra Mikraj diceritakan dengan lisan maupun tulisan, ayat di bawah ini cukup menjadi bukti paling sakral bahwa betapa indahnya Rasulullah, bukan sekadar tutur dan uswahnya, tetapi seluruhnya.
وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعۡيُنَهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ ٱلۡحَقِّۖ يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ
Artinya: “Dan ketika mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, mata mereka meluap dengan air mata karena mengenal kebenaran, seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada-Mu dan ikuti Rasul-Mu’.” (QS. al-Maidah: 83).
Salah satu skenario cantik Allah Swt dalam membimbing Nabi adalah ketika menjelang hijrah ke Madinah. Sebelum hijrah ke kota kaum Anshar itu, Allah telah menempa Nabi melalui perjalanan Isra Mikraj. Perjalanan malam agung yang penuh hikmah. Perjalanan Isra Mikraj merupakan peristiwa yang ‘sulit dinalar logika’. Bagaimana mungkin, perjalanan sejauh itu hanya ditempuh dalam satu malam. Perjalanan dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis, dan dari Baitul Maqdis menuju langit dunia, sampai akhirnya Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Rabbul Alamin langsung, tanpa ada penghalang (hijab).
Berkenaan dengan hal ini, Syekh Fakhruddin al-Razi (wafat 1210 M) menuturkan:
أنه عليه الصلاة والسلام لما ذكر لهم قصة الإسراء كذبوه وكفر به كثير ممن كان آمن به وازداد المخلصون إيماناً فلهذا السبب كان امتحاناً
“Ketika Rasulullah Saw menceritakan kisah Isra Mikraj kepada kaumnya, banyak yang tidak percaya. Mereka yang semula beriman, banyak yang menjadi kufur. Sementara mereka yang tulus, semakin tambah keimanannya. Inilah yang disebut dengan cobaan.” (Mafatih al-Ghaib, juz 20, hlm. 238).
Rasulullah Saw turun ke langit dunia dan sampai di Makkah menjelang waktu Subuh. Beliau memasuki masjid. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Rasulullah. Jangan-jangan umat tidak akan mempercayai? pikir beliau.
Sebagaimana dituliskan oleh Syekh Abi al-Faraj Nuruddin ‘Ali Burhan dalam as-Sirah al-Halbiyah juz 1, halaman 1-3, Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki dalam al-Anwar al-Ilahiyyah fi Isra’i wal Mi’raji Khairil Bariyyah halaman 79, dan beberapa kitab terkait lainnya, menyatakan bahwa perjalanan Isra Mikraj Nabi telah usai.
Sampai Nabi Saw bersedih. Lalu beliau duduk. Tiba-tiba Abu Jahal lewat dan menghampiri beliau. Abu Jahal duduk di samping Rasulullah.
Dengan nada seperti mengejek, Abu Jahal bertanya, “Apakah ada berita yang ajaib, Muhammad?”
“Iya,” jawab Nabi Saw.
“Apa itu?” tanya Abu Jahal penasaran.
“Aku telah di-isra-kan tadi malam,” jawab sang Nabi.
“Ke mana?” tanya Abu Jahal lagi.
“Ke Baitul Maqdis,” jawab Nabi.
“Loh kok, sepagi ini sudah berada di sini?” tanya Abu Jahal semakin penasaran. “Bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu ditempuh hanya dalam satu malam?” tambahnya.
“Iya,” jawab Nabi, singkat.
Abu Jahal tidak mengingkari apa yang diucapkan Rasulullah. Ia justru merasa memiliki kesempatan untuk mempermalukan Rasulullah di depan umatnya.
Kalau Muhammad menceritakan kisah yang tidak masuk akal ini kepada umatnya, pasti banyak yang tidak percaya, pikir Abu Jahal.
Musuh Allah itu mulai menyiapkan rencana busuk. “Wahai Muhammad! Bagaimana menurutmu, jika aku undang kaummu saja? Apakah kamu berkenan untuk menceritakan pada mereka tentang apa yang kau ceritakan padaku tadi?” tanya Abu Jahal.
“Ya, saya mau,” jawab Rasulullah.
Tanpa pikir panjang, Abu Jahal pun melancarkan rencana busuknya itu. Ia pun mengundang seluruh umat Nabi Saw.
“Wahai kaum keturunan Bani Ba’ab bin Luay! Datanglah kalian semua kemari!” seru Abu Jahal.
Singkat cerita, orang-orang pun berdatangan mendengar seruan Abu Jahal. Mereka sudah berada di depan Rasulullah, lalu Abu Jahal duduk.
“Wahai Muhammad! Ceritakan kepada kaummu, apa yang baru saja kau ceritakan kepadaku,” desak Abu Jahal.
Rasulullah pun mulai bercerita, “Sesungguhnya tadi malam saya telah di-isra-kan.”
“Ke mana?” orang-orang penasaran.
“Ke Baitul Maqdis.”
“Lalu, sepagi ini engkau sudah berada di tengah-tengah kami?”
“Iya, benar.”
Mendengar keganjilan itu, orang-orang mulai gaduh. Ada yang bertepuk tangan, ada pula yang meletakkan tangan di kepala sebagai ekspresi rasa kagum. Begitulah cara orang Arab mengekspresikan kekagumannya.
Tampaknya rencana Abu Jahal mulai berhasil. Sebentar lagi kaum Muhammad tidak mempercayainya lagi, sangka Abu Jahal.
Salah seorang dari mereka yang bernama Muth’im bin ‘Adi berkata, “Wahai Muhammad! Sebelum ini, semua ceritamu biasa-biasa saja. Tapi sekarang tidak lagi,” kata Muth’im mengungkapkan keraguannya.
Rasulullah menuruti permintaan kaumnya dan menjelaskan dengan detail bentuk Baitul Maqdis seperti arsitekturnya, jaraknya dari gunung, dan hal-hal lainnya. Hanya satu yang tidak bisa beliau jelaskan, yakni jumlah pintu Baitul Maqdis. Namun, atas kuasa Allah, Nabi Muhammad diperlihatkan gambar Baitul Maqdis di rumah ‘Aqil bin Abi Thalib. Rasulullah pun bisa menyebutkan jumlah pintu tersebut.
Setelah penjelasan Rasulullah itu, tiba-tiba Abu Bakar berkata, “Benar engkau ya Rasulullah! Engkau memang benar! Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”
Orang-orang Quraisy kagum dengan apa yang baru saja Rasulullah ceritakan. Tidak ada yang meleset sedikit pun. Meski begitu, tidak serta-merta mereka menyatakan beriman. Bahkan mereka yang kufur semakin kufur, tidak percaya. Peristiwa ini juga menjadi ujian keimanan bagi orang muslim; mereka yang tulus beriman, semakin bertambah keimanannya. Sementara mereka yang masih lemah iman, tidak sedikit yang menjadi kufur (Mafatih al-Ghaib, juz 20, hlm. 238).
Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, M.A., dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, menegaskan bahwa peristiwa Isra Mikraj tidak bisa didekati dengan pendekatan ilmiah. Karena, pendekatan ilmiah harus berdasarkan pada pengamatan, trial and error, serta eksperimen. Dan ketiganya tidak mungkin diterapkan pada Isra Mikraj. Isra Mikraj hanya terjadi sekali, tidak bisa dilakukan dengan aneka eksperimen untuk membuktikannya karena Isra Mikraj tidak menggunakan ‘alat’.
Ada banyak hal yang amat penting diteladani, bahkan jauh sebelum Isra Mikraj, yaitu tentang kesabaran, ketangguhan hati baginda dan sifat mulia lainnya yang tiada mampu manusia menirunya.
KH. Zakky Mubarak, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkata, “Keridaan Allah adalah dambaan setiap orang yang beriman, sedangkan rahmat-Nya dapat mengalahkan segala kesulitan yang diderita umat manusia, betapa pun beratnya. Banyak orang yang kelihatannya menderita dalam kehidupan dunia, tetapi sebenarnya merasakan kebahagiaan batin yang tidak dirasakan orang lain.”
“Seorang yang bertakwa kepada Allah Swt dengan takwa yang setinggi-tingginya akan merasakan bahagia meskipun dalam kesederhanaan materi. Ia akan merasa ramai meskipun sendirian. Ia akan merasa berani meskipun tanpa pendukung. Ia akan memiliki dada yang lapang bagaikan samudera yang tidak bertepi. Jika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Dan jika terkena musibah, ia tabah dan sabar.”
Wallahu a’lam.
—————————————
Penulis: M. Akmal Marzuqin, Musyrif Madrasatul Qur’an Putra, Pondok Pesantren Nurul Qarnain
Editor: Fathorrozi


