Acara ini dilaksanakan di Auditorium KH. Yazid Karimullah yang juga dihadiri oleh siswa kelas IX Madrasah Aliyah Plus Keterampilan Nurul Qarnain, Sekolah Menengah Kejuruan Nurul Qarnain dan Madrasah Diniyah Muadalah Aliyah Nurul Qarnain.
Selain itu, acara bersejarah ini turut disaksikan oleh para tokoh nasional dan akademisi, di antaranya Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., (Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI), dan Prof. Dr. Akh. Muzakki, M.Ag., Grand.Dip.Sea., M.Phil., Ph.D., (Koordinator Kopertais Wilayah IV Surabaya).

Rektor Institut KH Yazid Karimullah (INSYAKA), Dr. Bachrul Ulum, S.Sy., M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa perubahan status kelembagaan tidak boleh dipahami sebatas seremoni penyerahan Surat Keputusan (SK). Menurutnya, alih bentuk ini adalah amanah besar yang menuntut tanggung jawab yang lebih besar pula.
“Perubahan bentuk bukan sebatas penyerahan SK, tetapi juga amanah yang harus diiringi tanggung jawab yang begitu besar,” tegasnya.
Dr. Bachrul Ulum juga menyoroti capaian STIS Nurul Qarnain yang selama ini menunjukkan performa akademik dan institusional yang kuat. STIS tercatat telah menjalin kerja sama internasional dengan berbagai negara, seperti Mesir, Turki, Thailand, dan Malaysia. Bahkan, STIS Nurul Qarnain telah sukses melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Thailand, sebuah capaian yang menegaskan komitmen internasionalisasi pendidikan.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, dalam tausiahnya menyampaikan harapan agar Institut KH Yazid Karimullah menjadi lembaga pendidikan yang benar-benar mendapatkan rida Allah.
Beliau menekankan pentingnya meneladani sifat wajib bagi para utusan, yakni ṣhiddiq, amānah, tabligh, dan faṭhanah sebagai fondasi moral dalam mensyukuri dan menjaga amanah perubahan status tersebut.
“Saya berharap Institut KH Yazid Karimullah menjadi lembaga pendidikan yang benar-benar diridai oleh Allah,” tutur Kiai Yazid, seraya mengingatkan para dosen agar sungguh-sungguh menjaga amanah.
Sementara itu, Prof. Dr. Akh. Muzakki, M.Ag., Grand.Dip.Sea., M.Phil., Ph.D., selaku Koordinator Kopertais Wilayah IV Surabaya, menyoroti keberkahan dalam pendidikan. Ia menegaskan bahwa kuliah dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, tetapi memperoleh pendidikan di bawah naungan ruh dan keteladanan seorang kiai merupakan nilai yang tidak tergantikan.

“Kuliah bisa di mana saja. Banyak lulusan yang hanya sekadar lulus, tapi bisa kuliah di bawah naungan ruh seorang kiai secara langsung itu sesuatu yang luar biasa. Apalagi beliau mengonsepkan sifat-sifat nabi dan rasul ke dalam ruh pendidikan tinggi, itu sangat luar biasa,” ujarnya.
Prof. Muzakki juga mengapresiasi pesan-pesan Kiai Yazid yang dinilainya sarat dengan bahasa nilai modern, mulai dari kompetensi kepribadian hingga tanggung jawab moral yang relevan dengan tantangan pendidikan tinggi hari ini.

Dalam kesempatan yang sama, sebagai penutup, Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., memberikan sejumlah catatan strategis. Ia mendorong Institut KH. Yazid Karimullah untuk memperkuat kompetensi bahasa, tidak hanya Arab dan Inggris, tetapi juga bahasa Mandarin, sebagai bagian dari kesiapan global.
Ia berharap transformasi ini akan melahirkan peningkatan signifikan dalam kualitas keilmuan, produktivitas karya ilmiah, serta lulusan yang unggul dan berdaya saing. (*)
————————————
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


