Sumpah Pemuda dalam Ranah Santri: Bentuk Transformasi Semangat Perjuangan Bangsa

ARTIKEL_nurulqarnain.net – Beberapa hari yang lalu, tepat pada 28 Oktober 2025 merupakan hari di mana sosok tangguh nan pemberani, para pemuda bangsa, rela mempertaruhkan harta, tenaga, dan pikiran demi memperjuangkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah hari di mana pemuda Indonesia dengan tegas menyatakan dan mengokohkan diri menjadi pemuda bangsa, yakni bangsa Indonesia: bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Momen ini bagi kalangan santri yang berada di lingkungan pesantren bukan hanya sebatas bentuk keteguhan jati diri pemuda bangsa, tetapi juga menjadi panggilan rohani bagi para santri agar terus memperjuangkan dan mempertahankan keutuhan, persatuan, dan kesatuan bangsa.

Semangat perjuangan ini telah dicontohkan oleh para tokoh ulama bangsa dengan keteguhan, kesabaran, serta kemampuan menjaga dan mempertahankan Republik Indonesia dari oknum-oknum atau kelompok-kelompok yang berkarakter penjajah dan berpenampilan layaknya masyarakat Indonesia, namun bertujuan merongrong keutuhan dan kedaulatan negara, baik dari lingkup internal maupun eksternal.

Semangat para ulama yang tidak pernah pupus untuk terus berjuang tanpa mengenal lelah dan letih, seperti sosok Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Wahab Chasbullah, KHR. As’ad Syamsul Arifin, dan tokoh-tokoh lainnya, menjadi teladan abadi. Mereka mengajarkan dan mengajak para santrinya untuk ikut berperan aktif dalam memperjuangkan keutuhan bangsa Indonesia, serta menjadi promotor dan penentu perkembangan bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.

Konteks ranah santri bukan hanya sebatas pada mereka yang mempelajari dan memahami kajian kitab kuning, tetapi juga mencakup peran santri dalam perjuangan pembangunan bangsa Indonesia. Meskipun konteksnya luas, tidak menutup kemungkinan seorang santri menjadi acuan dalam pertumbuhan dan pembangunan bangsa, dengan tetap berpegang pada ajaran ulama salafussalih yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti sopan santun, etika yang baik, serta bahasa yang santun dalam berkomunikasi dengan masyarakat umum.

Santri juga harus berperan dalam pengembangan inovasi dan kreativitas, serta mampu menanggapi berbagai pernyataan negatif terhadap dunia pesantren. Salah satu caranya ialah dengan menumbuhkan budaya literasi, dakwah digital, dan berbagai kegiatan positif lainnya yang menjadi bentuk nyata dalam menjaga marwah santri di tengah kehidupan sosial modern saat ini.

Nomenklatur Hari Sumpah Pemuda menjadi titik temu, refleksi, dan transformasi bagi para santri untuk senantiasa menjaga dan meneruskan amanah para ulama nusantara dalam mempertahankan marwah pesantren, serta menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya hidup di panggung peringatan, tetapi juga dalam perjuangan nyata generasi muda. Ini menjadi bukti bahwa semangat perjuangan anak muda, terutama para santri bangsa Indonesia, bukan hanya mengikuti zaman, tetapi juga turut membangun masa depan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda Indonesia! (*)

——————————–

Penulis: Sulthon Arafat

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *