Dunia sedang berjuang menaklukkan pandemi COVID-19, berbagai kebijakan mulai diuji trial and error seberapa efektifnya kebijakan tersebut untuk melawan si virus sensitif ini. Mengapa saya sebut sensitif, sebab COVID-19 ini mudah sekali menyebar dan mortalitasnya tinggi. Sudah ribuan orang tewas di Indonesia, bahkan jutaan orang se-dunia juga tak mampu bertahan melawan keganasannya.
Akibatnya, perekonomian dunia termasuk Indonesia mengalami perlambatan. Petani dan peternak yang berada di posisi terendah dalam rantai produksi bahan pangan menjadi semakin terhimpit . Seperti halnya peternakan ayam milik pesantren Nurul Qarnain Jember. Menurut penuturan Bapak KH. Imam Syafi’i, selaku wakil pengasuh, “tidak ada perbedaan signifikan terkait produksi telur. Semuanya masih sama dengan sebelum pandemi”
Sampai saat ini, peternakan ayam petelur masih memiliki prospek yang baik untuk di kembangkan karena permintaan masyarakat akan telur masih cukup tinggi akan tetapi dalam menjalankan usahanya tak jarang peternak harus menghadapi berbagai resiko usaha. Perubahan iklim serta penyakit dapat berakibat pada kesehatan ayam. Selain itu juga ketidak stabilan harga telur di pasaran karena harga bahan pangan yang naik turun tidak bisa dikontrol oleh pemerintah, menjadi salah satu permasalahan tersendiri sehingga tengkulak bisa seenaknya menaik-turunkan harga, dan peternak yang jadi korban.
Peternakan ini memiliki 50 orang pekerja, dengan luas tanah 10 ha dimana perharinya menghabiskan pakan 10-12 ton. Telur yang dapat dipanen setiap harinya sekitar 4-5 ton telur yang dipasarkan sekitar Jember, Bondowoso dan Situbondo. Berdasarkan penuturan wakil pengasuh, stok produksi telur yang dihasilkan peternak lokal tidak mencukupi permintaan pasar lokal Jember. Sehingga banyak tengkulak juga kulakan ke Tulungagung dan Blitar yang
merupakan pusat produksi telur terbanyak di Jawa Timur, demi memenuhi kebutuhan telur di dalam Jember. Tentunya, peluang emas ini juga diikuti dengan tingkat risiko yang tinggi pula. Seperti kata pepatah yang sangat kental kaitannya dengan ekonomi, high risk high return.
Usaha ternak ayam ini dirintis dari tahun 1992, dimulai dengan ternak ayam pedaging. Semula letak kandang di area pesantren, karena pesatnya pertambahan jumlah ternak ayamnya , berbagai keluhan terkait limbah feses yang mengganggu menyebabkan polusi udara, maka lahan peternakan dipindah ke daerah Semek, Desa Sumber Pakem, Kecamatan Sumber Jambe. Yang juga berdampingan dengan peternakan milik pengusaha lainnya, peternakan milik pesantren sendiri sebanyak 15.000 ayam petelur yang tersebar dalam lahan seluas 10 ha. Di lahan baru inilah peternakan mulai berfokus pada ternak ayam petelur.
Salah satu inovasinya adalah pembuatan pakan sendiri. Sebab jika terus membeli akan kesulitan dalam pengiriman dan tentunya meningkatkan beban biaya produksi, mengurangi laba. Meskipun beberapa bahannya masih harus tetap beli sendiri seperti konsentrat karena harus impor. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan katul, kelapa dan jagung dalam mixer besar. Lalu pakanpun siap dipakai.
Ketika Pandemi mulai menggila menyebabkan karantina wilayah dimana- mana, jalur distribusi banyak ditutup, namun tidak jadi masalah bagi peternakan ini. Sebab pakan tetap bisa dibuat sendiri dan telur dibutuhkan segala kalangan, sehingga pemasokannya tetap berjalan lancar. Bisa dibilang, peternakan telur ini adalah salah satu bisnis yang kebal pandemi. Tinggal bagaimana pekerja tetap menjaga kedisiplinan protokol kesehatan dan kebersihan kandang ayam.
Tentang Penulis:
Endang Susilawati, santriwati Pondok Pesantren Nurul Qarnain sekaligus siswi Madrasah Aliyah Plus Keterampilan Nurul Qarnain yang pernah menjuarai Juara 3 Esai se-Jatim tahun 2021 di UIN KHAS Jember dan menjadi lulusan terbaik kelas XII tahun 2022.


