Tiga Jejak Santri dalam Buku Bentala Memori

PUSTAKA | nurulqarnain.net – Bentala Memori bukan sekadar antologi tulisan yang dihimpun menjadi sebuah buku. Namun, ia merupakan dokumentasi tentang bagaimana pengalaman sederhana dapat berubah menjadi kenangan yang bernilai ketika dituangkan ke dalam kata-kata.

Melalui bahasa yang ringan, spontan, dan dekat dengan kehidupan remaja, buku ini memperlihatkan bahwa literasi tidak selalu harus dimulai dari gagasan yang besar. Ia dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Dari kamar pesantren, kegiatan Ramadan, persahabatan, percakapan bersama teman, pertemuan yang tidak direncanakan, kegagalan, harapan, bahkan dari pengalaman kecil yang semula dianggap biasa.

Di balik puluhan karya yang terangkum dalam buku Bentala Memori, terdapat tiga tulisan santri Nurul Qarnain yang menarik untuk dicermati. Ketiganya hadir dengan warna dan pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah, yakni keberanian para santri untuk menjadikan pengalaman hidup sebagai karya. Mereka tidak sekadar menjalani masa remaja, tetapi mulai belajar merekamnya; tidak hanya menyimpan kenangan, tetapi berusaha mengabadikannya melalui tulisan.

Salah satunya adalah bertajuk Why Not! karya Zubayda Al-Dzakiyya. Melalui cerita tentang Pesantren Ramadan (Pesrom), Zubayda menghadirkan kehidupan santri dengan gaya bertutur yang ringan, santai, dan komunikatif. Ada mengaji, sahur, berbuka, belajar agama, bercanda, ngabuburit, chatting, video call, TikTok, hingga selfie. Semua hadir sebagai bagian dari keseharian remaja yang hidup di tengah tradisi pesantren dan perkembangan dunia digital.

Namun, kekuatan tulisan ini tidak hanya terletak pada keseruannya. Di balik cerita tentang Pesrom, tersimpan pesan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari sesuatu yang mahal dan mewah. Makanan sederhana, percakapan bersama teman, tawa yang muncul tanpa direncanakan, dan kebersamaan dalam menjalani hari justru dapat menjadi kenangan yang paling berharga. Pesrom akhirnya bukan sekadar kegiatan Ramadan, melainkan ruang tempat persahabatan tumbuh dan pengalaman hidup menemukan maknanya.

Warna berbeda hadir dalam kisah berjudul Haru Setelah Aku Menyerah. Karya dari Zidnie Kinanty ini membawa pembaca memasuki ruang perasaan tentang harapan, penolakan, kehilangan, dan keberanian untuk melepaskan. Di dalamnya terdapat pergulatan batin seorang remaja yang berusaha memahami bahwa tidak semua yang diharapkan harus menjadi kenyataan. Ada saat untuk bertahan, tetapi ada pula saat ketika seseorang harus belajar menerima dan mengikhlaskan. Dari pengalaman tersebut, tulisan menjadi ruang refleksi tentang proses menuju kedewasaan.

Sementara itu, cerpen bertajuk Hingga di Tepi Sungai Brantas buah pena dari Aisyah Fitratul Bahri menghadirkan suasana yang lebih kontemplatif. Sebuah pertemuan yang tampak sederhana berkembang menjadi perjalanan tentang keluarga, kasih sayang, kehilangan, dan penerimaan. Taman, sungai, musala, senja, dan suasana kota tidak hanya menjadi latar, tetapi turut membangun atmosfer cerita.

Dari sebuah peristiwa kecil, penulis mengajak pembaca melihat bahwa kehidupan manusia sering menyimpan makna yang baru dapat dipahami setelah seseorang melewati perjalanan yang panjang.

Ketiga tulisan tersebut memperlihatkan bahwa santri memiliki cerita, santri memiliki gagasan, dan santri mampu berkarya. Mereka tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga mulai menjadi penulis; tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi mampu mengolah pengalaman menjadi cerita yang dapat dibagikan kepada orang lain.

Inilah salah satu kekuatan Bentala Memori. Buku ini tidak hanya menyimpan tulisan, tetapi juga menyimpan keberanian. Keberanian untuk mencoba, keberanian untuk bercerita, dan keberanian untuk menunjukkan bahwa kehidupan santri juga memiliki suara yang layak didengar.

Sedikit banyak karya dalam Bentala Memori memang berbentuk fiksi. Namun, yang menarik, di antara puluhan karya yang ditulis oleh para penulis dari berbagai latar belakang, terdapat pula tiga karya santri Nurul Qarnain yang turut hadir dan mengambil bagian di dalamnya. Kehadiran mereka menjadi sesuatu yang patut diapresiasi, karena para santri tidak hanya menjadi pembaca dari karya orang lain, tetapi mampu berdiri sebagai penulis di antara para penulis lainnya.

Tiga tulisan tersebut menunjukkan bahwa santri juga memiliki imajinasi, keinginan, dan keberanian untuk menyampaikan cerita melalui kata-kata. Meskipun masih berada dalam proses belajar, keberanian untuk ikut menulis dan mempublikasikan karya merupakan langkah penting dalam membangun tradisi literasi di lingkungan pesantren.

Lebih dari sekadar nama yang tercantum di antara para penulis, kehadiran santri Nurul Qarnain dalam buku Bentala Memori menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Mereka hadir bukan hanya sebagai santri yang belajar, tetapi sebagai generasi muda yang mulai menunjukkan bahwa pesantren juga memiliki ruang untuk melahirkan penulis, menghadirkan karya, dan ikut mewarnai dunia literasi. (*)

Judul: Bentala Memori
Penulis: Zubayda Al-Dzakiyya, dkk.
Penerbit: Self Publishing
Cetakan: I, Juli 2026
Tebal: 100 Halaman
QCRBN: 62-2984-1285-527
Genre: Fiksi/Cerpen

—————————————-

Peresensi: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *