Nabi Musa datang kepada Nabi Adam dengan sebuah pertanyaan. Adam adalah manusia pertama yang Allah ciptakan. Ia dimuliakan, diciptakan dengan kehendak dan kuasa-Nya, para malaikat diperintahkan bersujud kepadanya, dan ia ditempatkan di dalam surga. Di sana Adam menikmati kehidupan yang penuh kenikmatan. Tidak ada lapar yang menyiksa, tidak ada haus yang melelahkan, tidak ada panas dan dingin yang menyulitkan, dan tidak ada pekerjaan berat untuk mempertahankan kehidupan.
Namun sebuah larangan datang. Nabi Adam dan istrinya diperbolehkan menikmati segala sesuatu di dalam surga, kecuali satu pohon yang tidak boleh mereka dekati. Hingga pada suatu ketika, mereka tergelincir. Larangan itu dilanggar, dan kehidupan manusia pun berlanjut di bumi.
Sedangkan bagi Nabi Musa, bumi bukan tempat yang ringan. Di bumi manusia harus bekerja untuk memperoleh makanan, mencari tempat berlindung, merasakan lapar dan haus, menghadapi kesulitan, serta menjalani kehidupan dengan perjuangan yang tidak pernah berhenti. Musa sendiri telah mengenal pahitnya perjalanan itu. Ia pernah berhadapan dengan Fir’aun, meninggalkan Mesir, berjalan menuju Madyan, menggembala selama bertahun-tahun, kemudian kembali mengemban tugas berat menghadapi Bani Israil.
Barangkali pengalaman panjang itulah yang membuat sebuah pertanyaan tumbuh dalam dirinya. Ketika Nabi Musa bertemu Adam, ia menyampaikan kegelisahan itu.
“Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Engkau telah mengecewakan kami dan menyebabkan kami keluar dari surga,” Ungkap Nabi Musa.
Nabi Adam tidak menjawab dengan kemarahan. Ia tidak membela diri dengan suara tinggi. Ia justru menghadapi Musa dengan ketenangan.
“Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya. Dia memberimu Taurat dan mendekatkanmu kepada-Nya. Katakan kepadaku, berapa lama sebelum aku diciptakan engkau mendapati Allah telah menulis Taurat?” tanya Nabi Adam.
“Empat puluh tahun,” jawab Nabi Musa.
Nabi Adam kembali bertanya, “Apakah engkau menemukan di dalamnya bahwa Adam telah durhaka kepada Tuhannya dan tersesat?”
“Ya,” jawab Nabi Musa.
Nabi Adam kemudian berkata, “Lalu mengapa engkau menyalahkanku atas suatu perkara yang telah Allah tetapkan untukku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?”
Nabi Musa pun terdiam. Saat situlah hujah Adam berdiri. Ia bukan sedang mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan kesalahan. Ia tidak mengingkari dosa yang pernah diperbuatnya. Adam tetap mengakui kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah. Yang menjadi persoalan adalah sesuatu yang telah berada dalam ketetapan Allah jauh sebelum Nabi Adam diciptakan.
Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa Adam berhasil mengalahkan Musa dengan hujahnya. Dalam riwayat al-Bukhari, penegasan itu bahkan disebutkan berulang kali. Kisah tersebut bukan sekadar tentang siapa yang menang dalam sebuah perdebatan, tetapi tentang bagaimana memahami hubungan antara perbuatan manusia dan takdir Allah.
Nabi Adam memang pernah tergelincir. Tetapi ia tidak menjadikan kesalahan itu sebagai alasan untuk berhenti berharap. Ia mengakui, menyesal, lalu kembali kepada Allah. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa itu:
وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ
“Dan Adam telah durhaka kepada Tuhannya, lalu tersesatlah ia.”
Namun kisah Nabi Adam tidak berakhir pada kesalahan. Setelah kejatuhan itu datanglah taubat. Setelah penyesalan datanglah ampunan. Dari bumi yang penuh perjuangan, manusia memulai perjalanan panjang untuk mengenal Tuhannya, mencari petunjuk, dan kembali kepada-Nya.
Oleh karena itu, kisah Nabi Musa dan Nabi Adam terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Kita pun sering menoleh ke masa lalu, mengingat keputusan yang pernah diambil, kesalahan yang pernah dilakukan, atau jalan yang ternyata membawa kita pada keadaan yang tidak diinginkan.
Ada kalanya kita bertanya, “Mengapa semua ini harus terjadi?”
Namun masa lalu tidak pernah diciptakan untuk menjadi tempat kita tinggal. Ia adalah tempat untuk belajar, mengambil hikmah, lalu melangkah kembali dengan hati yang lebih matang.
Nabi Adam pernah kehilangan tempat di surga, tetapi tidak pernah kehilangan jalan menuju Allah. Ia pernah tergelincir dalam kesalahan, tetapi kesalahan itu tidak menjadi akhir dari kisahnya. Ia mengakui, menyesal, dan kembali memohon ampun kepada Tuhannya. Barangkali di situlah letak keindahan kisah ini, bahwa manusia mungkin pernah jatuh, tetapi selama ia masih mau kembali kepada Allah, kejatuhan itu bukanlah akhir dari perjalanan.
Manusia boleh jatuh, tetapi jangan berhenti bangkit, boleh menangis karena kesalahan, tetapi jangan kehilangan harapan; sebab selama hati masih menghadap kepada Allah, selalu ada jalan untuk kembali. (*)
——————————–
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


