Barangkali, justru sebelum menikmati “kopinya”, kita perlu mengenal terlebih dahulu bagaimana kopi itu diseduh. Begitulah kira-kira semangat yang terasa dalam Sebelum Filsafat, buku karya Fahruddin Faiz yang diterbitkan MJS Press pada tahun 2013 yang pernah saya dapatkan sebagai hadiah beberapa waktu silam.
Buku setebal 296 halaman ini menarik bukan karena menawarkan filsafat dengan gaya yang rumit, tetapi justru karena melakukan hal sebaliknya. Faiz membawa filsafat lebih dekat kepada kehidupan sehari-hari. Ia tidak buru-buru membebani pembaca dengan nama-nama besar dan perdebatan filosofis yang njelimet. Ia mengajak pembaca bertanya terlebih dahulu, mengapa kita harus berpikir? Mengapa kita percaya pada sesuatu? Bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar?
Ada hal unik lain dari buku ini yang mungkin tidak banyak ditemukan dalam buku filsafat pada umumnya. Faiz memberi kebebasan kepada pembaca untuk menentukan sendiri cara membacanya. Tidak harus dimulai dari halaman pertama, tidak harus mengikuti urutan bab, bahkan pembaca dipersilakan jika ingin membacanya dari bagian belakang.
Sekilas memang sederhana, tetapi pilihan ini terasa sejalan dengan semangat filsafat yang ingin dibangun Faiz: tidak ada keharusan untuk selalu berjalan melalui satu jalan yang sama. Pembaca boleh memilih pintu masuknya sendiri, berhenti pada bagian yang dianggap menarik, lalu kembali lagi ketika menemukan pertanyaan yang ingin direnungkan.
Dalam buku ini, filsafat digambarkan sebagai kisah pergumulan dan perjuangan manusia dalam memahami dunia dan eksistensi, serta esensi hidupnya. Filsafat tidak ditempatkan sebagai permainan intelektual para akademisi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan manusia memahami kehidupan.
Oleh karena itu, anggapan bahwa filsafat pasti menyesatkan juga perlu dilihat kembali. Belajar filsafat tidak otomatis membuat seseorang kehilangan iman. Justru ia mengajak manusia berpikir kritis dan memahami alasan di balik apa yang diyakini. Bertanya bukan berarti menolak agama, sebagaimana berpikir kritis tidak berarti meninggalkan Tuhan.
Sebelum Filsafat terasa penting. Faiz tidak sibuk membuat filsafat terlihat rumit, tetapi mengajak pembaca memahami “karakter berpikir filosofis”: berani merentangkan pikiran dan tidak menerima sesuatu begitu saja. Pertanyaan sederhana seperti “mengapa?” dan “bagaimana?” bisa menjadi awal untuk memahami diri dan kehidupan. Buku ini seakan membuka pintu yang selama ini tertutup stigma, bahwa filsafat hanya milik kalangan tertentu atau sesuatu yang harus ditakuti.
Nilai inilah yang membuat buku ini tetap terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Kita hidup di tengah arus informasi yang begitu deras, sementara kemampuan untuk memeriksa dan menyaringnya sering kali tertinggal. Sebuah kabar mudah dianggap benar hanya karena ramai dibagikan, sebuah pendapat dianggap tepat karena banyak yang menyukainya.
Di sinilah filsafat menemukan kegunaannya. Ia seperti mengajak kita menekan tombol jeda, seperti jangan buru-buru percaya, jangan cepat menyimpulkan, dan jangan mudah menghakimi. Bertanya sebelum membagikan, memeriksa sebelum mempercayai, dan memahami sebelum menilai barangkali hal-hal sederhana semacam inilah yang membuat filsafat tetap penting untuk dipelajari.
Menariknya lagi, Fahrudin Faiz tidak menempatkan filsafat sebagai musuh agama. Ia menunjukkan bahwa filsafat dan agama tidak selalu harus dipertentangkan. Keduanya memang memiliki jalan epistemologis yang berbeda, tetapi sama-sama berhadapan dengan pertanyaan besar mengenai kebenaran dan kehidupan. Jadi, belajar filsafat tidak harus membuat seseorang kehilangan iman, justru dapat mendorong seseorang memahami keyakinannya dengan lebih sadar dan kritis.
Sebelum Filsafat tidak sedang berambisi menjadikan pembacanya seorang filosof. Buku ini lebih seperti ajakan untuk berhenti sejenak, melihat kembali hal-hal yang selama ini diterima begitu saja, lalu mulai bertanya. Mengapa percaya pada sesuatu? Dari mana sebuah kebenaran dianggap benar? Dan apakah semua yang selama ini diyakini memang sudah pernah diperiksa?
Filsafat ternyata tidak selalu harus dimulai dari istilah yang rumit, perdebatan panjang para filsuf, atau istilah-istilah asing yang membuat kepala pusing. Ia bisa berangkat dari pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi para santri, cara berpikir semacam ini sebenarnya tidak asing. Ketika membaca kitab, memahami dalil, illat, dan berbagai pendapat ulama, atau bertanya tentang alasan di balik suatu hukum, santri sedang belajar untuk tidak sekadar menerima, tetapi juga memahami dasar dari apa yang dipelajari.
Barangkali, berfilsafat memang tidak harus menjadi seorang filosof. Para santri pun tidak perlu buru-buru menjauh hanya karena kata “filsafat” sering terdengar rumit, bahkan menyesatkan. Justru dalam tradisi pesantren, bertanya, mencari dasar, dan memahami alasan di balik sebuah ilmu bukanlah sesuatu yang asing.
Filsafat bisa menjadi teman untuk melihat kembali apa yang selama ini dipelajari, yakni kitab tetap dibaca, pendapat ulama tetap dihormati, tradisi tetap dijaga, tetapi pikiran diberi ruang untuk bertanya lebih jauh. Sebab menjadi santri bukan hanya tentang seberapa banyak kitab yang dibaca, tetapi juga bagaimana ilmu itu mengubah cara memandang kehidupan dan diamalkan. Di sanalah filsafat menemukan tempatnya, bukan untuk menjauhkan santri dari agama, melainkan menemani perjalanan memahami ilmu dengan pikiran yang lebih luas dan hati yang tetap berpijak untuk bijaksana. (*)
Judul: Sebelum Filsafat
Cetakan: IX, Desember 2024
Penulis: Fahruddin Faiz
Penerbit: MJS Press, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 296 halaman
ISBN: 978-602-74625-3-3
———————————–
Peresensi: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


