Alumni Ma’had Aly Nurul Qarnain Bahas Ilmu, Derajat, dan Tanggung Jawab Orang Berilmu

JEMBER | nurulqarnain.net – Ikatan Alumni Ma’had Aly (IAMA) Nurul Qarnain kembali menggelar kegiatan rutin berupa kajian kitab Ihya’ Ulumiddin pada Ahad (30/08/2026). Kegiatan yang berlangsung di kediaman Saudara Fian Abrori, S.Ag., S.H., desa Pujer Baru Maesan Bondowoso tersebut, diikuti alumni Ma’had Aly Nurul Qarnain dari angkatan pertama hingga angkatan keenam.

Kajian yang dimulai pukul 08.00 WIB itu membahas kedudukan ilmu dan orang-orang berilmu, khususnya mengenai makna derajat yang diberikan Allah SWT kepada manusia melalui ilmu.

Ust. Moh. Hamdi, S.Ag., M.Pd., dalam penyampaiannya menegaskan bahwa ilmu menjadi salah satu sebab diangkatnya derajat manusia. Namun, menurutnya, keilmuan berjalan bersama pengamalan.

“Allah SWT mengangkat derajat anak Adam dengan satu hal, yaitu dengan ilmu. Banyak sekali disebutkan, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadis, tentang keutamaan orang-orang yang berilmu,” ungkapnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa tidak setiap orang berilmu dapat disebut sebagai ulama, terutama apabila ilmu yang dimiliki tidak diwujudkan dalam amal.

“Yang dikatakan ulama akhirat adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya sehingga diselamatkan di akhirat,” lanjutnya.

Pembahasan tersebut kemudian berkembang dalam diskusi antarpeserta. Salah seorang peserta menjelaskan bahwa derajat yang diperoleh melalui ilmu memiliki dua dimensi, yakni derajat di dunia dan derajat di akhirat.

“Derajat itu ternyata memiliki dua makna. Ada derajat di dunia dan ada derajat di akhirat. Derajat di dunia adalah orang yang diangkat derajatnya dan biasanya mendapatkan kewibawaan atau mendapatkan harta berkat ilmunya,” jelas peserta tersebut.

Menurutnya, derajat di akhirat memiliki makna yang berbeda karena ilmu tidak berhenti pada pencapaian duniawi, melainkan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

“Yang diangkat derajatnya di akhirat itu maksudnya ilmu yang didapat bukan hanya sebatas dunia, tetapi mendekatkan diri kepada Allah. Bisa saja orang yang berilmu melakukan hal-hal yang tidak baik. Bisa saja itu hanya diangkat derajatnya di dunia, tidak diangkat derajatnya di akhirat,” tambahnya.

Diskusi kemudian menyoroti hubungan antara intelektualitas, spiritualitas, dan perilaku seseorang. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan mengenai fenomena orang yang memiliki pengetahuan tinggi, tetapi perilakunya belum mencerminkan ilmu yang dimiliki.

Peserta lainnya mengingatkan agar seseorang yang memiliki ilmu maupun masyarakat yang memberikan gelar atau sebutan keulamaan sama-sama berhati-hati.

“Banyak kaum intelektual saat ini namun tidak punya spiritual, itu sangat disayangkan,” imbuhnya.

Yang lain juga mengatakan, “Baik orang yang berilmu maupun orang yang memberikan gelar kepadanya harus berhati-hati, karena sama-sama akan dimintai pertanggungjawaban nanti,” ujar peserta.

Kegiatan kemudian ditutup oleh Ketua IAMA Nurul Qarnain, Ust. Warisul Musthafa, S.Ag. Ia mengajak para alumni menjaga kekompakan dan mempertahankan kegiatan reuni sekaligus kajian secara rutin setiap tiga bulan.

“Kita berharap kekompakan ini terus dijaga. Insya Allah tiga bulan lagi kita kembali hadir dalam Haul Majemuk di Pondok Pesantren Nurul Qarnain dan tetap istikamah melaksanakan reuni sekaligus pengajian setiap tiga bulan,” tutupnya. (*)

————————————–

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *