Alangkah indahnya jika manusia menyadari bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah melaksanakan kewajiban, baru kemudian menuntuk hak. Baik mereka sebagai rakyat ataupun pemimpin. Sikap koperatif juga sangat dibutuhkan karena akan mendatangkan kemaslahatan dalam segala bidang, baik muamalah, munakahat, jinayah dan lainnya.
Contohnya, dalam bidang muamalah, si penjual tidak menipu barang yang diberikan dan si pembeli tidak menipu uang yang diberikan. Sikap ini akan terjadi jika si penjual menyadari kewajibannya yakni memberikan barang yang bagus kepada pembeli, dan pembeli menyadari kewajibannya yakni memberi uang yang baik dan sesuai dengan harga. Dalam munakahat, maka suatu rumah tangga akan harmonis jika seorang suami mendahulukan kewajibannya kepada si istri yakni memberi nafkah dan si istri juga mendahulukan kewajibannya yakni melayani suaminya, sebelum masing-masing dari kedua pasutri ini menuntut haknya.
Karena hal tersebut terbukti bahwasanya Islam lebih banyak membahas kewajiban-kewajiban dibandingkan hak-hak. Dapat kita jumpai dalam firman Allah Swt., salah satunya surah Muhammad ayat 7,
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تَنْصُرُوْا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong Allah (menegakkan agama Allah) maka Allah akan menolong kalian dan akan menetapkan pijakan kalian.”
Dari ayat di atas, dapat kita pahami Ketika kita terlebih dahulu melakukan kewajiban yakni menegakkan agama Allah Swt., maka kita akan mendapatkan hak kita yakni akan ditolong oleh Allah Swt.
Begitu juga dalam sabda Rasulullah Saw.,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِر ٍيَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ. وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا دَامَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.
“Barang siapa meringankan satu kesusahan orang mukmin dari beberapa kesusahan dunia, maka Allah akan meringankan satu kesusahannya dari beberapa kesusahan hari Kiamat. Barang siapa yang meringankan/memudahkan orang yang melarat, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat, Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong sesama saudaranya”.
Dari Hadis di atas, terdapat beberapa pemahaman yang bisa disampaikan. Pertama, jika kita meringankan kesusahan saudara kita sesama muslim, semisal mereka dalam kesulitan dan membantu tak melulu identik dengan materi tapi bisa dengan memberi nasihat saat saudara kita sedang sedih, maka Allah akan meringankan satu kesusahan kita di hari Kiamat kelak. Kedua, ketika kita membantu saudara kita yang tidak mampu semisal dengan memberi pinjaman uang atau barang lainnya yang dibutuhkan maka Allah akan memudahkan urusan kita di dunia dan bahkan akhirat. Ketiga, jika kita menutup aib saudara kita sesama muslim, semisal ada saudara, teman atau tetangga kita yang terkena musibah atau mereka terlilit hutang ke bank hendaklah kita tidak usah membicarakannya kepada orang lain, cukup kita ambil hikmahnya saja tidak usah diumbar. Saat kita menutup aib mereka, maka aib kita akan ditutup oleh Allah di dunia dan akhirat. Keempat, jika kita menolong saudara kita dengan cara apapun dan tak harus dengan uang, bisa dengan tenaga atau pikiran, maka kita juga akan ditolong oleh Allah Swt.
Dikisahkan dari sahabat Jabir r.a., terdapat suatu desa yang penduduk daerah itu tidak memilki aib, namun penduduknya sering menceritakan aib penduduk desa lain akhirnya desa lain pun membuat-buat aib desa tersebut. Lalu ada sebuah desa yang penduduknya memilki banyak aib, tetapi penduduk desa tersebut tidak pernah menceritakan aib penduduk desa lain, akhirnya aib mereka pun tidak ada yang menceritakan dan penduduk desa itupun terkesan tidak memilki aib. Dari kisah tersebut, hikmah yang dapat kita petik adalah hendaklah kita menutup serapat mungkin aib saudara kita tak perlu kita diceritakan, karena dengan seperti itu maka aib kita juga akan ditutup oleh Allah Swt.
Dari kisah di atas tersebut, jelas bahwa kita harus mengedepankan kewajiban kita terlebih dahulu baru kemudian kita akan mendapatkan hak. Kita harus meringankan beban, kesusahan dan kesulitan orang lain, maka tanggungan kita juga akan diringankan, kita harus menolong dulu baru kita akan ditolong.
Lanjutan Hadis tersebut,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.”
Dan kelanjutannya lagi, “Tidaklah ketika seseorang berkumpul di masjid, kecuali saling tadarus Alquran, maka ia akan dinaungi oleh Malaikat Rahmat.”
Lengkapnya Hadis tersebut,
وَمَنْ بَطَأَ عَمَلُهُ لَمْ يَسْرَعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa yang sering terlambat, maka tidak akan cepat memiliki keturunan”.
Dapat kita ambil enam poin penting dari sabda Rasulullah Saw., tersebut: 1) Hendaknya kita meringankan beban saudara sesama muslim, 2) Membayarkan hutangnya, 3) Menutup aib nya, 4) Menuntut ilmu, 5) Senantiasa berada di masjid sambal membaca Alquran, dan 6) Senantiasa disiplin.
#Tulisan ini dikutip dari kitab “Nidzam al-Hukmi fi al-Islam” karya Dr. Muhammad Yusuf Musa, halaman 110.
Penulis: Afifah Khan (Mahasantri Ma’had Aly)
Editor: M. Firmansyah


