Dari pertemuan itu, satu hal terasa sangat kuat bahwa pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Qarnain tidak dibangun hanya dengan sistem, tetapi dengan ruh. Anak-anak yang dititipkan oleh orang tua bukan sekadar peserta didik, melainkan amanah dari Allah. Maka setiap langkah pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, harus berpijak pada nilai yang sama, yakni keikhlasan dan keberkahan.
KH. Yazid Karimullah menyadari bahwa kemajuan tidak boleh dimaknai secara dangkal. Karena itu, visi beliau tidak berhenti pada menjaga akar pesantren, tetapi juga diarahkan untuk meninggikan cabang-cabang pendidikan yang tumbuh di bawah naungannya. Salah satu langkah strategis yang kini ditempuh adalah penguatan perguruan tinggi yang telah bertransformasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nurul Qarnain menjadi Institut KH. Yazid Karimullah bahkan dengan proyeksi pembukaan program magister (S2).
Transformasi ini bukan sekadar perubahan nomenklatur atau ekspansi akademik, melainkan penegasan keberanian pesantren untuk masuk lebih dalam ke ruang produksi ilmu, tanpa kehilangan ruh keberkahan yang menjadi fondasinya. Namun, di tengah dorongan untuk maju itu, beliau tidak pernah melepaskan satu prinsip penting: keberkahan harus tetap menjadi fondasi.
Di sinilah dawuh KHR. As’ad Syamsul Arifin yang selalu beliau pegang untuk menunjukkan relevansinya:
“Elmu sekuni’ tape barokah, pajunah larang. Mun benyak elmunah tape tak barokah, tak kera paju.” (Ilmu yang sedikit tetapi barokah itu mahal nilainya. Tetapi jika ilmu banyak tanpa barokah, maka tidak akan bernilai.)
Kalimat ini bukan sekadar petuah, tetapi arah. Ia menjadi semacam rem spiritual agar perguruan tinggi pesantren tidak terjebak pada euforia kuantitas. Membuka S2, memperluas program, meningkatkan jumlah mahasiswa semua itu penting. Tetapi jika kehilangan berkah, maka seluruh pencapaian itu akan kehilangan makna.
Inilah yang dimaksud dengan “menguatkan akar”. Akar itu adalah sanad keilmuan, adab kepada guru, doa yang terus mengalir, dan keikhlasan dalam proses belajar. Perguruan tinggi Nurul Qarnain harus tumbuh dari akar ini, bukan menggantikannya. Ia harus menjadi kelanjutan dari pesantren, bukan penyimpangan darinya.
Sementara itu, “meninggikan cabang” adalah keberanian untuk berkembang. KH. Yazid Karimullah tidak menginginkan pesantren berjalan di tempat. Beliau ingin seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Nurul Qarnain maju bersama terintegrasi, saling menguatkan, dan memiliki arah yang jelas. Dari kelompok belajar anak usia dini hingga perguruan tinggi, semuanya berada dalam satu visi yang utuh.
Pertemuan dengan wali santri itu juga menegaskan pentingnya sinergi. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pesantren. Orang tua memiliki peran yang sama pentingnya. Amanah anak tidak bisa dilepaskan begitu saja. Harus ada keterlibatan, doa, dan dukungan yang berkelanjutan. Di sinilah ekosistem pendidikan dibangun, bukan secara parsial, tetapi kolektif.
Lebih dari itu, kemajuan Pondok Pesantren Nurul Qarnain yang kita saksikan hari ini tidak bisa dilepaskan dari peran besar para wali santri. Kepercayaan yang mereka berikan, kesabaran dalam proses, serta doa yang tak pernah putus menjadi bagian dari energi yang menghidupkan pesantren. Pesantren tidak tumbuh sendirian. Ia bertumbuh bersama, ditopang oleh keikhlasan pengasuh, kesungguhan santri, dan dukungan wali santri yang istiqamah menjaga amanah.
Namun di tengah realitas hari ini, ada kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Sebagian santri justru mulai terlena dengan bayangan kebebasan di luar memilih melanjutkan studi ke kampus-kampus luar tanpa pertimbangan yang matang terhadap jati dirinya. Kebebasan itu tampak menjanjikan, tetapi sering membawa jarak: jarak dari tradisi, dari adab, bahkan dari ruh keilmuan yang selama ini ditempa di pesantren.
Padahal, jati diri mereka sesungguhnya lahir dan dibentuk di pesantren. Di sanalah mereka belajar bukan hanya ilmu, tetapi cara hidup bagaimana menghormati guru, menjaga niat, dan menempatkan ilmu sebagai jalan ibadah. Ketika mereka keluar tanpa bekal kesadaran ini, yang terjadi bukanlah pengembangan diri, melainkan kehilangan arah.
Di titik inilah kehadiran perguruan tinggi di bawah naungan pesantren menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar alternatif, tetapi solusi peradaban. Sebuah ruang di mana santri tetap bisa berkembang secara akademik tanpa harus tercerabut dari akar nilai yang telah membentuknya. Kampus pesantren bukan membatasi, tetapi menjaga; bukan menghambat, tetapi mengarahkan.
Dan yang paling menguatkan dari semua itu adalah keteladanan. Ketika seorang kiai tetap berusaha hadir di tengah kondisi sakit, itu menjadi pelajaran yang tidak bisa digantikan oleh teori apa pun. Bahwa memimpin pendidikan bukan hanya soal merancang visi, tetapi menunjukkan komitmen. Bahwa menjaga amanah tidak mengenal kondisi.
Akhirnya, kita memahami bahwa apa yang sedang dibangun di Nurul Qarnain bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi jalan peradaban. Jalan yang tidak tergesa-gesa, tetapi pasti. Jalan yang tidak hanya mengejar tinggi, tetapi memastikan kuat.
Menguatkan akar, meninggikan cabang di tangan KH. Yazid Karimullah itu bukan sekadar metafora. Ia adalah prinsip hidup. Dan selama keberkahan tetap dijaga, serta sinergi antara pesantren dan wali santri terus dirawat, maka cabang-cabang pendidikan itu akan terus tumbuh memberi manfaat, melahirkan generasi, dan menjaga arah di tengah perubahan zaman. (*)
———————————————
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


