Sebelum acara dimulai tadi malam, beliau mengungkap panjang lebar terkait prestasi dan keunggulan Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Kepada Tim Media Nurul Qarnain, beliau menyatakan bahwa citra Pondok Pesantren Nurul Qarnain di kalangan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama Pusat sangatlah baik.
“Sebagai salah satu pesantren besar yang ada di kabupaten Jember, Nurul Qarnain dikenal sebagai pesantren paling bersih dan mendapat penghargaan pesantren terbersih di Jawa Timur. Ini menunjukkan bahwa Nurul Qarnain sangat peduli terhadap lingkungan. Ini sangat membanggakan. Karena selama ini image pesantren di berbagai daerah seringkali dikatakan sebagai tempat yang tidak bersih. Tapi, alhamdulillah, Pondok Pesantren Nurul Qarnain telah memberi contoh bahwa santri bisa hidup besih dan sehat,” terang beliau di kediaman KH. Yazid Karimullah.
Bagi beliau, bersih dan sehat sangat perlu diupayakan di sebuah pondok pesantren. Sebab, lingkungan yang bersih dan sehat akan berpengaruh kepada proses belajar para santri, sehingga mereka dapat menyerap ilmu dengan baik dan sempurna.
Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa informasi di luar yang selama ini beliau tangkap, Nurul Qarnain memiliki sanad keilmuan yang jelas dari ulama-ulama Ahlus Sunah wal Jamaah.
“Ini terbukti dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, yakni KH. Yazid Karimullah yang merupakan santri dari KHR. As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Kita tahu bahwa KHR. As’ad Syamsul Arifin adalah santri dari Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dan Syaikhana Muhammad Kholil Bangkalan. Dan dari dua guru beliau inilah sanad keilmuannya sampai kepada Akbar Ulama al-Jawi, Syeikh Nawawi al-Bantani,” imbuh beliau.
Beliau sangat bersyukur bisa silaturahim ke Pondok Pesantren Nurul Qarnain, sebab beliau dapat berjumpa dengan KH. Yazid Karimullah dan para kiai lain yang mempunyai mata rantai keilmuan kepada Syeikh Nawawi al-Bantani.
Berikutnya, beliau turut senang karena Nurul Qarnain termasuk pesantren yang menggabungkan metode salaf dan metode khalaf. Melestarikan tradisi turats kitab kuning dan membuka peluang kepada santri untuk belajar ilmu umum di sekolah.
“Kita tahu, santri tidak semua harus jadi ulama, karena santri dapat berkiprah dan bermanfaat di mana pun. Ini yang juga perlu ditiru oleh pesantren-pesantren yang lain,” tegas beliau.
Sementara itu, beliau berharap agar Pondok Pesantren Nurul Qarnain terus istikamah, baik ulama maupun para pengajarnya, dalam memegang manhaj Ahlus Sunah wal Jamaah dan berpegang teguh kepada al-muhafadzah ala qadimi as-shalih wa al-akhdu bi al-jadidi as-ashlah.
“Saya berdoa semoga santri Nurul Qarnain terus bertambah, dan suatu saat Nurul Qarnain bisa membuka cabang di berbagai daerah, terlebih di luar Jawa,” pungkas beliau sambil bermunajat.*)
Pewarta: Fathorrozi


