Ziarah ke Makam Para Sesepuh, KH. Yazid Karimullah Kenang Perjalanan Pesantren Nurul Qarnain

JEMBER_nurulqarnain.net – Berbeda dengan tahun sebelumnya, Haul Majemuk Masyayikh Pondok Pesantren Nurul Qarnain kembali digelar dengan menyusuri beberapa makam sesepuh. Ziarah makbarah dipimpin langsung oleh KH. Yazid Karimullah dan diikui oleh keluarga, alumni, dan wali santri pada Rabu (19/11/2025). Ziarah dimulai dari makbarah KH. Karimullah bin Idris dan KH. Idris bin Nur yang berada tepat di lingkungan pesantren.

Pada setiap makbarah leluhur, KH. Yazid selalu menguraikan sejarah dan amalan yang menjadi istikamahnya. Tak lupa, beliau juga bersyukur atas berdirinya pesantren ini, yang bukan semata usaha manusia, tetapi berdiri di atas nikmat dan keberkahan.

“Tidak mungkin pesantren ini berdiri tanpa nikmat berkah. Nikmat terbesar bagi saya adalah menerima cobaan, namun saya tetap dalam penjagaan Allah,” jelas beliau.

Di makbarah itu, KH. Yazid mengingatkan bahwa ziarah bukan sekadar menghadiri tradisi, melainkan sarana menyambung cerita perjuangan para almarhumin yang telah menyalakan cahaya keilmuan sejak tahun 1968 hingga hari ini.

Salah satu kisah yang beliau sampaikan mengenai perpindahan makamnya KH. Idris Nur. Demi menjaga kehormatan mayit, proses itu dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Namun, anehnya kain kafan dan jasad beliau ditemukan tetap utuh.

“Ini karamah Kiai Idris. Sebuah kejadian yang khariku lil ‘adah, melampaui kebiasaan,” tuturnya.

“Saya sudah beli kain kafan baru, lalu saya memanggil saudara-saudara yang termasuk putra-putri beliau, ternyata Allah menjaga keutuhan jasad Kiai Idris,” tambah beliau.

Sementara KH. Karimullah Idris dikenang sebagai sosok yang tawaduk dan ahli Al-Qur’an. Beliau tidak pernah meninggalkan salat berjamaah. Bila ketinggalan jamaah di masjid, beliau mencari tetangga untuk diajak salat bersama.

Ziarah kemudian berlanjut ke makam KH. Syuhada’ Rekah, Nyai Hj. Idris Abdul Latif, dan Nyai Hj. Nur yang berada di sebelah selatan pesantren.

Pada kesempatan tersebut, KH. Yazid mengisahkan kebiasaan KH. Syuhada’ yang gemar berzikir kepada Allah.

“Tutur kakek saya, kalau KH. Syuhada’ berzikir itu sejak selesai salat Isya sampai Subuh. Begitu setiap malamnya, dari Isya tembus ke Subuh,” kisah beliau.

Rombongan ziarah lalu beranjak ke makam KH. Dzul Qarnain yang terletak di area persawahan selatan dusun Sumbergayam. KH Yazid berkisah tentang perjalanan panjang tokoh ini. Beliau berasal dari Sumenep Madura, lalu menetap di Besuki (Selabege), lalu tinggal di dusun Karang Katak.

“Kiai Dzul Qarnain membangun sebuah musala. Kayu-kayu di musala itu yang saya minta untuk membangun masjid,” imbuh beliau.

Beliau juga menuturkan, “Jika bukan karena kesalihan beliau, tidak mungkin anak cucunya diberi kemampuan meneruskan perjuangan.”

Beliau juga menyinggung tentang nama pesantren; awalnya hendak diberi nama “Dzul Qarnain”, tetapi dianggap terlalu sulit diucapkan, akhirnya nama “Nurul Qarnain” yang dipilih.

“Pada masa berikutnya, KHR. As’ad Syamsul Arifin hadir ke Pondok Pesantren Nurul Qarnain bersama santri kesayangannya, KH. Ridwan. Dalam sambutannya, KH. Ridwan menyampaikan bahwa Nurul Qarnain ini langka untuk sebuah nama pesantren. ‘Mungkin satu-satunya pesantren di dunia yang bernama Nurul Qarnain, hanya di sini,’ dawuhnya. Dan waktu itu Kiai As’ad tidak berkomentar. Seandainya ada yang salah dengan nama Nurul Qarnain, pasti beliau akan menegur untuk segera diganti,” lanjut KH. Yazid.

Rangkaian haul juga mengunjungi makam KH. Nuruddin Dzul Qarnain alias Kiai Nur. Beliau dikenal sebagai sosok yang tekun mengajar santri. Santri yang datang dari pasar maupun yang menetap, semuanya beliau terima sebagai murid.

Ketika ziarah ke makbarah Nyai Hj. Asma Dahnan dan Nyai Hj. Syuhada’, KH. Yazid mencerikan kebiasaan beliau yang selalu membaca Al-Qur’an.

“Al-Qur’annya sampai sekarang ada di rumah saya,” jelas beliau.

Sementara itu, KH. Yazid juga mengisahkan suami dari Nyai Hj. Siti Asma Dahnan yang wafat di tengah laut dalam perjalanan menuju Tanah Suci.

“Suaminya wafat di kapal laut saat mengantarkan Nyai Hj. Siti Asma beribadah haji dan jenazahnya dilarungkan ke laut.”

Menutup napak tilas tersebut, beliau menegaskan kepada seluruh hadirin, jika ingin mempunyai anak keturunan yang salih, maka harus ikut pesan Nabi Ibrahim.

“Menurut pandangan Nabi Ibrahim, kalau mau mempunyai anak keturunan yang salih, maka orang tuanya harus salih terlebih dulu,” pungkas beliau. (*)

————————————

Pewarta: Wildan Miftahussurur & Sulthon Arafat

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *