Api Pancasila Tak Pernah Padam

OPINI_nurulqarnain.net – Setiap kali 1 Oktober tiba, bangsa ini kembali diingatkan pada peristiwa yang hampir merobohkan fondasi rumah besar Indonesia. Pancasila diguncang, iman diuji, darah tumpah. Namun sejarah mencatat, dasar negara ini tidak runtuh. Ia justru berdiri lebih tegak, membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya lahir dari denyut nadi bangsa sendiri.

Di pesantren, Pancasila tidak pernah dianggap asing. Sejak awal, kiai dan santri membaca sila pertama sebagai ikrar iman: Ketuhanan Yang Maha Esa bukan sekadar kalimat konstitusi, melainkan pondasi peradaban. Itulah sebabnya ulama sepuh seperti KH Hasyim Asy’ari melalui Resolusi Jihad menegaskan bahwa mempertahankan negeri ini adalah bagian dari menjaga agama. Pesantren melihat perjuangan mempertahankan tanah air tidak terpisahkan dari ibadah.

Gus Dur menyambung suara itu dengan cara yang khas. Dalam bukunya Islamku, Islam Anda, Islam Kita yang terbit di tahun 2006, ia menulis,“Pancasila bukan agama, tapi ia melindungi semua agama.” Kalimat sederhana ini menegaskan bahwa dasar negara ini adalah rumah bersama, bukan monopoli satu golongan. Bahkan lebih dalam lagi KH Ahmad Siddiq yang turut merumuskan penerimaan Pancasila oleh NU tahun 1984 menyebut Pancasila sebagai mitsaqan ghalizhan, sebuah perjanjian luhur yang harus dijaga bersama. Baginya, Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, justru menjadi titik temu kebangsaan yang luhur.

Kesaktian Pancasila bukanlah mitos atau jargon kosong belaka. Ia nyata, karena telah menyelamatkan bangsa dari ideologi yang hendak menafikan Tuhan. Tetapi ujian itu tidak berhenti di tahun 1965. Hari ini, godaan datang dalam wajah lain: materialisme yang membutakan, polarisasi politik yang merusak persaudaraan, hingga budaya digital yang sering kehilangan empati.

Di tengah semua itu, nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan kembali, bukan hanya dalam upacara kenegaraan, tapi dalam keseharian. Gotong royong di sawah, doa bersama di musala, perjumpaan akrab di pasar desa semuanya adalah wajah nyata sila persatuan dan keadilan sosial. Pesantren dengan tradisi kitab kuningnya telah lama menanamkan sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Itulah etika yang membuat Pancasila tetap berdenyut, meski diterpa gelombang zaman.

Gus Dur pun pernah menegaskan, “Indonesia bukan milik satu golongan, tapi rumah untuk semua.” Peringatan ini terasa semakin relevan hari ini. Dan KH. Ahmad Siddiq menambahkan bobot teologisnya: menerima Pancasila berarti mengokohkan ikatan kebangsaan, yang secara moral sama beratnya dengan janji suci.

Dengan demikian Kesaktian Pancasila bukanlah soal kejayaan masa lalu, melainkan tekad untuk menjaga persaudaraan di masa depan. Selama nilai ilahi tetap menjadi cahaya, selama manusia masih dihargai martabatnya, selama persatuan dijaga dengan ikhlas, Pancasila akan selalu sakti. Ia bukan sekadar dasar negara, melainkan suluh kebangsaan yang membuat Indonesia terus berdiri bermartabat di mata dunia.

Oleh: Wildan Miftahussurur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *